DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 49


__ADS_3

Semilir angin mengibaskan rambut yang nampak tak lagi hitam sempurna. Ada beberapa helaian yang sudah memutih namun tak bisa mengurangi aura cantik yang terpancar dari wajahnya.


Gundukan tanah yang nampak tenang dengan taburan bunga di atasnya nampak sangat menggoda matanya untuk tetap menatap disana. Lidia kembali memasang kacamata hitamnya untuk menutupi mata yang memerah karena habis menangis.


Baru datang kembali menemui mendiang sang suami di tempat peristirahatan terakhirnya setelah sekian tahun tak membuat Lidia lupa sedikitpun.Tak ada kata yang keluar dari bibirnya sejak awal. Hanya untaian doa yang terucap melalui sorot matanya yang tak lepas menatap nama yang terlukis diatas pusara.


"Aku pulang mas!!" Pada akhirnya suara itu terdengar parau diujung keterdiamannya. Lidia melangkah perlahan meninggalkan pemakaman umum dan memasang kacamatanya kembali.


Langkahnya pasti menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan sengaja menunggunya. Mobil bergerak perlahan setelah tubuh Lidia masuk dan duduk dengan nyaman disana.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Ada aktifitas yang dilakukan berulang-ulang di dalam sebuah ruangan. Terkadang mereka masuk membawa perlengkapan makan di jam jam tertentu. Namun anehnya, ketika kami mencoba mencari cela untuk mengintip kedalam. Tak ada seorangpun disana, bahkan ruangan hanya terdapat lemari buku besar dan juga meja dengan satu kursi. Terdapat sofa dipojok ruangan namun tak ada tanda kehidupan didalamnya." Pesan Anton yang masuk ke dalam ponsel Alex.


Lelaki tersebut memijit pelipisnya. Rahasia apa lagi yang berada disana. Keberadaan rumah besar tersebut yang ternyata adalah milik kedua orang tua Jenita saja membuat Alex tercengang. Bahkan ayahnya, Kuncoro pun tidak tahu menahu soal rumah tersebut.


"Huuft, sepertinya aku harus menanyakan ini pada tante. Hanya dia yang tahu seluk beluk rumah tersebut."


Alex menoleh ke arah halaman rumah dimana sebuah mobil baru saja masuk dan berhenti di sana. Jenita keluar dengan senyum yang mengembang diwajah cantiknya. Disusul Andrian yang keluar dan menutup pintu mobil di samping kemudi. Chef tampan tersebut melangkah dibelakang Jenita yang telah melangkahkan kakinya terlebih dahulu memasuki rumah.


"Sudah pulang?" Alex menyambut bidadarinya dengan kedua tangan terbuka lebar. Jenita yang melihat hal tersebut tergelak dan melangkah cepat masuk kedalam pelukan hangat sangat kekasih.


Alex berulang kali melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala Jenita sebelum membimbing gadis tersebut untuk duduk. Andrian yang menyaksikan hal itu tersenyum kecil, meski hatinya sedikit nyeri namun ada senyum tulus diwajahnya ketika melihat bagaimana Jenita tertawa lepas dalam dekapan Alex.

__ADS_1


Di dudukannya tubuh di hadapan pasangan yang masih saling memeluk tersebut. Berusaha untuk bersikap biasa saja dan menampilkan senyum di bibirnya.


"Bagaimana hari ini?" Alex kembali bertanya.


Jenita memberengut mengingat bagaimana hasil kue yang dibuatnya tadi. Sementara Andrian tergelak melihat ekpresi gadis itu yang selalu nampak menggemaskan. Dengan sedikit nada ejekan Andrian menceritakan apa yang terjadi di ruko tadi. Hal itu membuat Alex ingin tertawa namun diurungkannya setelah melihat bagaiamana wanitanya memelototkan matanya tajam.


Candaan mereka terhenti kala mobil Lidia masuk. Wanita baya dengan baju serba hitam dan juga kacamata hitam yang bertengger di matanya itu nampak turun dan melangkah masuk ke dalam rumah. Rambutnya yang dibiarkan tergerai melambai tertiup angin. Wajahnya yang terlihat tegas menampilkan senyum indahnya kala melihat ke tiga orang yang sedang menatapnya di ruang tamu.


"Mama dari mana?" Jenita mengurai pelukannya pada Alex dan beralih duduk didekat sangat mama.


"Tempat peristirahatan papa." Jawabnya pelan seraya meletakkan kacamata dan tas kecil yang dibawanya diatas meja.


"Makam papa? kenapa maka nggak mengajak Jen ikut serta? Jen juga ingin berkunjung." Gadis itu menatap sayu ke arah sangat mama yang hanya tersenyum sambil membelai pipi sang putri sayang.


Kata kata ambigu yang keluar dari bibir Lidia seolah mengusik hatinya. Banyak rahasia yang masih disimpan wanita baya tersebut. Alex melirik ke arah Andrian yang melakukan hal yang sama kepadanya. Sepertinya chef tampan tersebut juga memiliki pendapat yang sama tentang apa yang mereka dengar.


"Ehm, tan. Boleh bertanya sesuatu?" Alex tak lagi bisa menunggu. Dan anggukan kepala Lidia membuatnya tersenyum.


"Ruang baca atau mungkin bisa disebut ruang kerja di kediaman pribadi om dan tante." Alex melihat Lidia sedikit tersentak kaget dengan apa yang dilontarkannya barusan.


"Ruang kerja di lantai 2? ruang yang berada di ujung tangga sebelah kanan?"


"Ehm, Alex tidak tahu pastinya tan. Namun anak buah Alex menemukan beberapa kejanggakan yang terjadi diruangan itu. Di jam jam tertentu akan ada orang masuk dan keluar disana. Dan anehnya mereka membawa semacam nampan yang entah isinya apa, namun terkadang mereka melihat ada makanan yang dibawa. Dan lebih aneh lagi, di dalam ruangan tersebut nampak sepi dan tak ada aktifitas yang berarti meski ada orang yang masuk kedalamnya."

__ADS_1


"Kenapa aku melupakannya." Pekik Lidia pelan.


Jenita yang semua bergelannyut manja pada lengan sang mama segera melepas pelukannya. Ditatapnya wajah sang mama yang nampak berkaca kaca tersebut.


"Ada sebuah ruangan rahasia di balik lemari besar di ruang kerja Mas Ikbar dilantai 2. Ruang tersebut tembus dengan beberapa ruangan lain yang berada dilantai 1 terutama di ruang kerja lainnya yang letaknya dilantai 1.Namun jalan untuk bisa masuk ke ruangan di lantai 1 hanya bisa diakses lewat taman samping. Disana barulah terdapat pintu keluar."


"Di dalam ruang kerja dilantai 1 tak akan ditemukan tombol atau apapun itu guna masuk ke dalam ruang rahasia. Jalan masuknya hanya terlihat di dalam ruangan lantai 2.Namun demikian kita masih bisa masuk kedalamnya melalui taman samping."


"Ada semacam sekat yang membatasi antara ruang rahasia lantai 1 dan 2. Meskipun keduanya terhubung, namun jalan menembusnya hanya dengan menggunakan sebuah simbol. Dan mas Ikbar menggunakan morse sebagai sandinya. Tembok akan bergeser dan membuka kala sandi tersebut ditekan pada sisi bawah dinding di sebelah kiri. Disana terdapat lampu yang menempel yang mempunyai fungsi ganda. Lampu tersebut berada di kedua sisi hanya terhalang oleh tembok pembatas."


"Jadi kita bisa masuk dari ke dua sisi dengan sandi yang sama?" Alex berujar dan berpikir sejenak setelah mendengar penuturan Lidia.


Jenius


Satu kata yang bisa di tangkap olehnya untuk mengambarkan bagaimana ayah sang kekasih membuat hal hal yang mungkin tak bisa dipikirkan oleh orang lain.


Tak ada yang bisa melewati kedua tempat tersebut meskipun saling terhubung tanpa sandi yang menjadi kuncinya. Orang-orang yang bisa masuk baik melalui lantai 1 atau 2 akan terjebak di balik tembok tanpa bisa keluar.


*


*


*

__ADS_1


To be continue


__ADS_2