DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 56


__ADS_3

Penjagaan terhadap Lidia dan Jenita dibuat berlapis. Alex tak mau mengambil resiko sekecil apapun itu. Keluarga itu harus bahagia setelah apa yang mereka alami sejak lama.


Alex telah menghubungi Kuncoro. Ayahnya tersebut nampak syok sama dengan apa yang dikabarkan oleh sang anak. Dengan tak sabaran Kuncoro segera meminta orang orangnya untuk membantu Alex sedang dirinya berangkat ke tempat yang disebutkan putranya.


Rendi yang sudah kembali pada posisinya disamping Jenita terlihat tenang. Tatapan matanya tajam meski nampak senyum di wajah manisnya. Tak ada yang mencurigakan dari pergerakan mereka karena semua telah terkoordinasi dengan baik. Rendi tak sendiri, tentu saja. Para mengawal bayangan masih terus memantau mereka.


Sementara Alex menyibukkan diri bersama Aldi. Keduanya akan melakukan konfrensi pers guna mengungkap jati diri Jenita sebenarnya. Bukan hanya sebagai anak dari pasangan Ikbar dan Lidia tapi juga tentang fakta bahwa dialah pemilik sebuah perusahaan yang sedang berkembang Ceo Jenita Caudia Andini. Yang sebagian orang kenal dengan sebutan Ceo Claudia.


Wanita karir yang mempunyai mata jeli dan pandai melihat peluang. Juga sebagai gadis cerdas yang mampu bersaing dengan orang-orang lama dalam dunia bisnis padahal umurnya masih sangat belia.


Dalam waktu 3 hari kedepan semua orang akan dipastikan mengetahui siapa Jenita sebenarnya. Dan siang ini, gadis cantik dengan lesung dikedua pipinya tersebut berangkat ke kota S. Dimana tempat konfrensi akan dilaksanakan.


Meski terkesan mendadak dan membuat Jenita bingung. Namun dirinya percaya dengan apa yang telah dipikirkan oleh Alex untuknya. Kekasihnya tersebut tak akan mengambil langkah yang gegabah.


Menjauhkan Jenita dan juga Lidia untuk sementara waktu dari kota C adalah sebagian dari rencana Alex. Menghilangnya orang yang diduga Ikbar dalam penyekapan tersebut pasti belum diketahui sehingga dirinya membawa ke duanya pergi sebelum Hermawan atau orang lain yang terlibat menyadari semuanya.


Hanya ada Alex dan Jenita dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang menuju kota S dengan Rendi yang masih berperan sebagai sopir. Lidia telah diterbangkan terlebih dahulu dengan pesawat tadi malam.


Keberadaan Lidia pun kembali disembunyikan untuk menjaga keselamatannya.


🍃🍃🍃🍃🍃


Jenita tampil anggun dengan blouse berwarna merah. Rambut yang tergerai dan celana panjang warna hitam. Senyum mengembang adalah ciri khas Jenita sebagai Ceo Claudia.

__ADS_1


Bertempat di aula perusahaan Jenita sendiri akhirnya konfrensi pers dilaksanakan. Alex mengundang kira kira 30 wartawan media lokal dan beberapa wartawan internasional mengingat sepak terjang perusahaan yang Jenita pegang sedang melebarkan sayap ke kanca dunia luar.


Alex datang 10 menit kemudian, lelaki tampan dengan wajah datar dan dingin tersebut segera mengambil tempat disebelah Jenita. Kecupan hangat mendarat di kening gadis tersebut hingga membuatnya salah tingkah. Kejadian tak terduga tersebut juga menjadi sorotan para pencari berita.


Selama ini Alex tak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita. Begitu juga dengan Jenita yang namanya berkibar hanya berkat kesuksesannya dibidang bisnis saja.


Konfrensi pers berlangsung tak lebih dari 1 jam. Keduanya langsung pergi meninggalkan tempat diselenggarakan acara dan memilih masuk ke dalam kantor. Banyak sekali pro dan kontra yang datang namun baik Alex maupun Jenita tak ambil pusing dengan semua itu. Bagi mereka sudah cukup dengan memberitahukan kepada publik mengenai jati diri Jenita yang sebenarnya. Dan juga posisinya sebagai cucu tunggal dari pemilik perusahaan terdahulu yaitu sang kakek, papa Lidia.


Seperti yang diketahui kalayak umum, jika Jenita adalah keponakan dari pemilik perusahaan yang beruntung bisa menjadi ahli warisnya.


Berita besar tersebut segera tersebar dalam hitungan menit.


Sementara itu Lidia yang berada entah dimana dikejutkan dengan kedatangan Kuncoro. Lelaki baya yang merupakan sahabat mendiang suaminya tersebut tersenyum hangat menyambut kedatangan Lidia beserta dua orang yang mengawalnya mulai dari berangkat, di pesawat hingga sampai ke tempat ini.


"Kita mau kemana?" Setelah sekian lama akhirnya Lidia membuka suara.


"Entah nanti kamu akan bahagia atau malah bersedih, Lid. Tapi aku harap kamu kuat dan tetap berdiri tegak seperti ini, ya." Kuncoro menoleh sesaat dan nampak senyumnya masih terukir disana membuat Lidia sedikit was was.


"Ada apa sebenarnya? bukan masalah serius tentang anak anak kan?"


"Mereka baik baik saja. Kamu tak perlu khawatir, kedua anak kita adalah anak anak hebat. Mereka itu kuat dan kamu jangan pernah ragu akan hal itu. Mereka sedang melakukan konfrensi pers di kota S."


"Konfrensi apa?" Lidia benar-benar seperti orang bego sekarang, banyak hal yang dipikirkan nya membuat otaknya terkadang kurang sampai.

__ADS_1


"Sudah waktunya semua orang tahu tentang siapa Jen sebenarnya. Dia tak harus menutup semua tentang dirinya untuk selamanya. Anakmu berhak untuk bahagia dengan hidupnya Lid. Jangan khawatir, Alex akan selalu berada disampingnya. Kamu hanya perlu fokus disini mulai saat ini, keadaan nya tak baik. Dia sangat membutuhkanmu."


"Aku? siapa?"


"Kita sudah sampai, sebentar lagi kamu akan tahu semaunya. Ingatlah pesanku, tetaplah kuat apapun yang terjadi nanti."


Kuncoro mematikan mesin mobilnya. Mereka berada di tempat parkir sebuah rumah sakit. Dengan sedikit ragu Lidia mengikuti langkah Kuncoro menuju sebuah ruangan khusus yang berada di lantai 3 rumah sakit tersebut.


Ada beberapa orang yang berdiri disana dan Lidia sempat mengenali mereka. Dan keyakinannya semakin nyata kala melihat Anto keluar dari sebuah kamar dan segera menyambutnya.


"Anto." Lidia menyapa pemuda tersebut yang menunduk penuh sopan didepannya.


"Iya, bu. Selamat datang." Anto tersenyum dan disambut anggukan kepala oleh Lidia. Meski hatinya sedang berkecamuk dirinya tetap berusaha untuk tenang.


Pun ketika Kuncoro mengajaknya masuk ke dalam kamar tempat dimana Anto keluar barusan. Dengan sedikit gemetar dirinya melangkah masuk, entah mengapa rasanya sangat gelisah dan tak nyaman dalam hatinya. Namun Lidia berusaha meredam semuanya. Dia teringat dengan beberapa kata yang Kuncoro ucapkan tadi padanya.


Pintu tertutup ketika keduanya sudah masuk ke dalam ruangan. Disana, didepan sana nampak sesosok tubuh yang sedang tergolek dalam brangkar dengan sebelah tangannya terdapat selang infus. Di dadanya nampak tertanam sebuah alat entah apa.


Lidia menoleh sesaat pada Kuncoro yang mengangguk memintanya untuk mendekat ke arah brangkar. Lidia menahan nafasnya dan merasakan jantungnya semakin berdetak tak beraturan.


Ada apa denganku? gumamnya pada diri sendiri.


Langkah itu kian mendekat dan semakin membuat sesak didadanya terasa. Lidia terlonjak dengan tubuh yang gemetar dan mulut yang tertutup kedua tangan nya. Berulang kali dirinya mengernyap namun semuanya tetap sama. Hingga tangan Kuncoro memegang pundaknya untuk menguatkan.

__ADS_1


"Dia masih hidup!!" Kata kata Kuncoro seolah mendengung di telinganya hingga Lidia limbung tak sadarkan diri.


__ADS_2