
Hermawan semakin melebarkan kelopak matanya. Tak percaya dengan apa yang terlihat di layar besar yang berada di depan sana. Wajah Ikbar nampak nyata dengan senyuman yang tersungging disana.
Meskipun lelaki tersebut nampak duduk diatas kursi roda. Namun tak sedikitpun terlihat raut kesakitan atau tersiksa. Bahkan tubuh Ikbar terlihat semakin bertambah dan terlihat lebih baik dari dua bulan yang lalu ketika dirinya mengunjungi ruang bawah tanah yang dia jadikan sebagai penjara pribadi untuk Ikbar.
"Si@lan, dia berhasil keluar dan sepertinya hidupnya semakin baik. Ckck aku menyesal kenapa tak langsung membunuhmu waktu itu." Gumamnya pelan sambil mendesis tak suka.
Tanpa dirinya sadari, keadaan sekitar bahkan telah sedikit berbeda. Para pengunjung yang tadinya terlihat sangat antusias dan ramai mendadak hening.
Sementara itu, anak buah Alex telah mengambil alih segala posisi guna mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Mata Hermawan kembali terbelalak ketika melihat sosok Ikbar beserta kursi rodanya keluar dari mobil putih yang memang berada disana sejak tadi. Wajah Hermawan semakin memerah dengan rahang yang mengeras. Mendapati lelaki yang selama ini menjadi rivalnya masih hidup bahkan dalam keadaan yang baik baik saja setelah apa yang dia lakukan pada lelaki tersebut.
"Hentikan apa yang menjadi kegilaanmu selama ini, Her. Tidakkah kau merasa lelah?" Ikbar disana berucap dengan pelan.
"Kau bercanda!! kau pikir aku kan mendengarkan omong kosong yang kamu ucapkan? Jangan harap!!!. Aku heran, terbuat dari apa tubuhmu itu hingga kuat menahan hingga detik ini. Tapi jangan khawatir, sebentar lagi aku akan mengirimmu ke neraka bersama dengan ibumu itu."
"Kau terlalu dibutakan oleh dendam yang tak berujung. Bahkan kau rela mengorbankan saudaramu sendiri untuk itu. Apa yang kau cari, Her."
"Itu karena dia bodoh!! dan aku tak menginginkan adanya saudara yang seperti itu." Umpat nya kerasa.
Ikbar berusaha keras untuk tak terpancing emosinya. Meski dirinya tahu, membujuk lelaki keras kepala dihadapannya ini sangatlah sulit.
🍃🍃🍃🍃
3 hari sebelum hari H.
Habibi yang kala itu berhasil mengikuti Hermawan masuk ke dalam rumahnya masuk secara diam-diam. Semula, dirinya hanya tahu jika saat ini sang ayah sedang dalam masa perawatan dan tergolek lemah di brangkar klinik. Namun melihat lelaki yang masuk ke dalam rumahnya itu dalam keadaan sehat membuat Habibi merasa ada yang janggal.
Dalam persembunyiannya kali ini. Pemuda tersebut melihat bagaimana lelaki dengan wajah sama dengan ayahnya itu masuk ke dalam kamar dimana sang ibu sedang di pasung dengan ikatan di kedua kaki dan tangannya.
__ADS_1
Habibi yang berencana untuk membawa kabur sang ibu menunggu waktu yang dan memilih tetap tinggal didalam kamarnya. Disaat menunggu itulah dirinya melihat sang ayah sedang menelfon sang kakak. Meski tak tahu apa yang mereka bicarakan namun Habib menarik kesimpulan penting dari apa yang didengarnya. Nama Jenita berulang kali disebut dengan sangat jelas.
*
*
*
Setelah menerima balasan dari Alex, Rendi segera melajukan mobilnya dengan membawa serta Habibi disana. Pemuda tanggung tersebut sejak tadi berupaya masuk ke dalam toko untuk bertemu dengan Jenita. Namun karena gerak geriknya yang mencurigakan membuat Rendi turun tangan untuk menangganinya.
Di sebuah restoran yang tak jauh dari toko itulah mereka bertemu. Alex menatap tajam Habibi yang nampak kebingungan karena dirinya yang tiba-tiba dibawa ke tempat ini padahal tadinya dijanjikan untuk bertemu dengan Jenita.
"Kamu ingin bertemu Jen? boleh aku tahu ada perlu apa?"
Habibi nampak meneguk ludahnya. Aura Alex membuatnya sedikit bergidik. Meski suara lelaki tersebut nampak rendah namun hal itu cukup membuat keringat dingin keluar di telapak tangannya.
"Aku tunangannya, dan apapun yang berhubungan dengannya adalah tanggungjawab ku." Alex kembali berucap. Tak jauh dari sana nampak Rendi masih setia meski tak begitu kentara namun Habibi yakin lelaki didepannya ini bukanlah orang biasa.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Penyergapan terjadi beberapa jam sebelum acara dimulai. Tepatnya ketika Habibi berupaya untuk memindahkan sang ayah yang sedang tak sadarkan diri ke tempat yang aman. Klinik yang digunakan kemarin oleh sang ayah ternyata sudah tak aman lagi.
Tepat jam 2 dini hari, Habibi berhasil membawa sang ayah kabur dengan menggunakan mobil Ambulance. Namun ditengah jalan mereka di hadang oleh beberapa orang yang tak dikenal. Sebelum pingsan, Habibi masih sempat melihat mobil hitam milik sang ayah terparkir tak jauh disana. Ketika tersadar, dirinya telah berada di sebuah rumah sakit.
"Beristirahat lah sebentar. Kau sudah aman." Habibi menatap bingung.
Pemuda tersebut bahkan menelisik keadaannya saat ini. Lengan sebelah kanannya nampak sedikit kebiruan, bibirnya nampak perih beserta perutnya. Juga pelipis yang nampak tertempel sebuah plaster yang di dikit lebar. Habibi meringis ketika menyadari semuanya.
"Ayah ku bagaimana, Om?"
__ADS_1
"Sudah stabil. Dan sedang dalam perawatan."
"Terimakasih, om. Om sudah membantu kami."
"Namaku Anto. Tadi anak buahku yang menyelamatkan kalian." Setelah mengatakan demikian Anto mengambil gawainya dan menghubungi Alex.
Habibi bernafas lega ketika menyadari bahwa orang-orang yang berhasil membantunya adalah suruhan Alex. Maka ketika Anto mengatakan bahwa dirinya harus segera pergi kembali bertugas. Habibi mengajukan diri untuk ikut. Maka disinilah dia pagi itu. Berada di sebuah ruangan bersama dengan Anto dan Rendi. Setelahnya barulah sosok Alex muncul dengan pakaian yang sudah rapih.
Aldi yang kala itu sudah bertugas memantau keadaan di toko tentu tak tahu tentang pertemuan dadakan yang mana Alex pun baru datang dan malah mencetuskan ide konyol namun tak ada seorang pun yang berani membantahnya meski mendapat dengusan dan juga protes dari sang asisten yang kesal.
*
*
*
"Menyerahlah, Her. Kau tak akan baik baik saja dengan semua ini. Berhentilah!!" Ikbar masih berada disana, mencoba berbicara meski dia tahu semua itu sia sia belaka. Karena yang dihadapinya adalah Herdiansyah, saudara kembar Hermawan yang tak banyak orang tau.
Lelaki tersebut menghabiskan banyak waktunya di pusat rehabilitasi. Sejak kecil dirinya mempunyai kelainan dan cenderung berbahaya. Oleh karenanya Eyang Sulastri menyarankan untuk membawanya dan mendapat perawatan.
Herdiansyah kecil bahkan telah menunjukkan sikap layaknya seorang Enak kala itu. Dia bahkan tertawa senang ketika berhasil memotong kaki hewan peliharaan yang tak sengaja lewat didepannya. Tak ada raut menyesal ataupun takut ketika dirinya melakukan hal yang menurut sebagian orang ngeri.
"Ckckc, enak sekali kau berbicara setelah apa yang dilakukan oleh ibumu. Kau tak tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Selama hampir separuh hidupku ku habiskan di dalam rumah sakit jiwa meski kalian tahu aku tak pernah gila."
"Kalian harus membayar semuanya tanpa terkecuali."
Bersama dengan ungkapan tersebut terlontar, suara tembakan melesat dengan cepat ke arah Ikbar.
Dor dor
__ADS_1
Tubuh Ikbar terdorong kesamping dengan cepat. Akibatnya, lelaki paruh baya tersebut tersungkur bersama dengan kursi rodanya. Suatu hal yang meleset dari dugaan Alex terjadi dengan cepat.
Nampak Anto terkapar disana dengan pundaknya yang tertembus timah panas. Namun tak jauh dari sana, nampak tubuh Herdiansyah juga terlentang ditanah dengan darah yang mengucur keluar dari dadanya.