
Setelah semua bahan obat yang di butuhkan telah terkumpul semua. Kini tabib mulai meracik bahan tersebut untuk penawar racun di dalam tubuh Yong Lanmei. Perjalanan dan usaha yang panjang tidak sia-sia bahkan kini setelah penawar tersebut di minum kan semburat merah mulai tampak di pipi Yong Lanmei yang awal nya putih pucat layaknya mayat. Raja Ye dan yang lainnya berucap syukur dengan perubahan signifikan yang terjadi pada Yong Lanmei. Merupakan kebahagiaan yang tiada terlukis dengan sejuta kata menurut Raja Ye.
Kini masalah baru muncul dengan kehadiran putri kaisar dewa yang turut serta pulang bersama Raja Ye. Yong Yan yang tahu awalnya terkejut namun mengenyahkan masalah ini sebab keselamatan Yong Lanmei adalah yang terpenting dan paling utama untuk di bahas. Setelah Yong Lanmei di nyatakan membaik dan melewati masa kritisnya, Yong Yan meminta Raja Ye mengikutinya untuk membahas masalah penting.
" Ada apa ayah meminta ku kemari?"
" Kamu tahu dengan membawa kembali gadis lain ke dalam rumah mu akan menimbulkan masalah untuk masa mendatang. Apakah kamu tidak berpikir panjang sebelum mengiyakan?"
" Lalu adakah cara lain untuk saya menolak apalagi berhubungan dengan nyawa Lanmei. Semua keputusan di ambil dengan tergesa-gesa walau begitu tujuan utama yang saya ingat adalah demi Lanmei."
" Mungkin yang mulai Raja Ye telah gegabah namun satu hal yang perlu yang mulai tahu bahwa membawa gadis pulang adalah sesuatu yang tidak baik. Saya khawatir dengan putri saya."
" Sejak kapan saya bermain-main dengan perasaan. Baru pertama kali saya merasakan cinta yaitu untuk Lanmei bahkan perasaan itu kian dalam dari lubuk hati saya. Tidak mungkin saya akan tergoda dengan yang lain jika perasaan ini sepenuhnya telah di ikat untuk Lanmei. Tidak mungkin pula saya akan melamar jika tidak serius dalam hubungan ini. Semua butuh proses, mungkin perjalanan cinta yang tulus ini akan selalu di uji."
" Saya harap kebahagiaan untuk putri saya. Cukup sudah dirinya menderita karena kebodohan saya. Saya tidak ingin kisah saya terulang dalam jejak langkah Lanmei kelak. Saya berharap yang terbaik. Jika itu benar keseriusan maka jaga Lanmei dengan baik serta hormati perasaannya. Jika yang mulai telah berubah perasaan terhadap putri saya. Kembalikan dia secara baik, saya selalu membuka pintu dengan tangan terbuka menyambut kehadirannya."
" Saya akan berusaha menunjukkan pada ayah bahwa saya tidak main-main. Untuk masalah putri kaisar dewa, setelah Lanmei baikan akan kami bahas bersama. Sementara waktu akan saya tempatkan di paviliun putri di kediaman saya agar memudahkan pengawasan terhadapnya. Saya telah berjanji dan janji adalah hutang. Saya bukan tipe orang yang mudah mengingkari janji selagi itu masih mampu saya lakukan dan tidak berlebihan."
__ADS_1
" Baiklah jika begitu"
Raja Ye kembali menemui Yong Lanmei di kamarnya setelah percakapan mereka berakhir. Saat memasuki ruangan tersebut terlihat Yong Lanmei yang sudah sadar tengah bersandar. Walau masih lemah namun terlihat senyum tersungging dari bibirnya. Raja Ye segera menghampiri Yong Lanmei.
" Bagaimana keadaan mu, apakah masih ada yang tidak nyaman"
" Cukup baik" sembari tersenyum
" Kenapa kamu selalu membuat ku takut. Kenapa tidak memberitahukan ku sebelumnya. Jangan bertindak seperti ini lagi di masa datang. Bisa gila aku jika melihat mu terbaring tak berdaya seperti ini."
" Terimakasih telah mengkhawatirkan ku tapi ini keadaan darurat tidak akan sempat memberi kabar apalagi tahu jika kamu telah terjun ke Medan perang demi menghalau pergerakan musuh waktu itu."
" Jangan marah lagi, tidakkah kamu merasa kasihan pada ku yang baru sadar ini tapi langsung di hujani bertubi-tubi pertanyaan seperti ini?"
" Baiklah maaf kan aku, kamu tahu aku sangat mengkhawatirkan mu?"
Tiba-tiba ada pengawal yang masuk menghadap memberitahukan bahwa di paviliun putri telah terjadi kekacauan akibat gadis yang di bawanya membuat ulah dengan bersikeras ingin menemui dirinya.
__ADS_1
Raja Ye yang mendengar laporan dari pengawal merasa terkejut bahkan lebih terkejut lagi tatkala memandang Yong Lanmei yang tengah menatapnya tajam.
Raja Ye gelagapan menjelaskan kejadian yang sebenarnya, namun belum ada kata yang pas untuk di ucapkan kepada Yong Lanmei. Sehingga dengan menghela nafas frustasi meminta Yong Lanmei menunggu penjelasannya. Dirinya akan menangani kekacauan yang terjadi terlebih dahulu.
Sebelum benar-benar hilang dari pandangan terdengar suara Yong Lanmei;
" Ku harap kamu tidak mengecewakan ku seperti ayahku yang selalu memberi luka trauma padaku selama ini, Ku harap kepercayaan ini tidak berkurang untuk mu?"
Raja Ye menahan langkahnya lalu berhenti sejenak dan berkata dengan lirih namun tidak membalikkan tubuhnya agar tidak melihat perubahan raut wajahnya yang sendu.
" Ku harap kamu tidak meragukan ku bahkan keputusan ku ini."
Raja Ye kembali melangkahkan kakinya. Dari jauh Yong Yan tengah memperhatikannya.
" Inilah yang ku takutkan bahwa Lanmei tidak suka dengan kehadiran gadis lain yang selalu saja siap mengacaukan hidupnya. Ku harap kalian dapat menyelesaikan ini semua tanpa ada kata perpisahan." Yong Yan menatap sendu putrinya.
Akibat perbuatannya Lanmei menjadi kepribadian yang tidak mudah percaya dengan penjelasan walau itu faktanya. Yong Lanmei menanamkan pada diri sendiri bahwa penglihatannya selalu benar apa adanya dan tidak mudah untuk di bujuk. Kadangkala Yong Lanmei merasa penglihatan serta pendengarannya bertolak belakang namun dirinya tidak mau ambil pusing ketika dirinya sulit menerima sesuatu hal. Lanmei merasa sesak dan mungkin ini perasaan asli Yong Lanmei yang masih tertinggal. Walau dirinya dari dunia modern yang memiliki pemikiran terbuka namun jika masih terselip perasaan asli dari raga ini mau tidak mau dirinya merasakan sesak pula dan itu menyakitkan bahkan ribuan jarum yang menancap tidak ada apa-apanya di banding nyeri berlebihan dalam dirinya.
__ADS_1
Lanmei memahami secara perlahan psikis Yong Lanmei yang membawa luka bahkan masih menganga lebar dan sulit untuk di obati. Lanmei membiarkan saja luka itu tersimpan rapih di dalam raga ini. Dirinya hanya berusaha mengontrol emosi jika suatu saat luka itu kembali berdarah walau tak terlihat mata.
Kini dengan susah payah Lanmei membalut luka yang tak berdarah di hatinya. Bahkan jika dirinya memiliki pemikiran terbuka sekalipun jika berhadapan dengan hati dirinya akan kalah. Lanmei perlahan menghapus air mata yang hampir jatuh. Dirinya berusaha percaya dan menunggu penjelasan Raja Ye. Semuanya pasti ada sebab musebabnya. Dirinya yakin Raja Ye tipe pria yang setia. Yong Lanmei terus meyakinkan diri sendiri dengan berprasangka baik. Tidak mau terlarut dalam pikiran yang belum pasti, dirinya memilih kembali merebahkan dirinya lalu memejamkan matanya.