DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 27


__ADS_3

Menjadi kuat bukan hanya fisik yang diandalkan. Namun lebih ke mental dan hati. Claudia sadar betul bagaimana dirinya jika sudah berada kembali di kota C. Mungkin akan sama seperti di awal dirinya datang sebagai Jenita atau bahkan lebih parah lagi. Namun tentu semua itu tak akan membuat niatnya surut.


"Dua minggu lagi Andrian akan kembali ke kota ini. Papa nya akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Mau tak mau dirinya harus pulang menggantikan beliau. Itu artinya, dirimu akan sendiri di kota C. Aku pun belum bisa mendampingimu, ada beberapa meeting penting yang harus aku hadiri dan itu tak bisa lagi ku tunda karena sudah ku tunda waktu itu." Alex menjedah ucapannya demi menatap manik bening di depannya.


"Aku hanya ingin kamu selalu waspada akan segala hal, yang. Tak peduli siapa dan dengan alasan apa. Yang terpenting utamakan keselamatan dirimu terlebih dahulu sebelum bertindak. Ada orang-orang ku yang akan menjagamu. Namun tentu kamu paham bahwa mereka juga butuh istirahat dan tak mungkin menjagamu selama 24 jam." Lanjutnya sambil menggenggam lembut jemari Claudia yang duduk di apartemen.


Rencananya besok siang Claudia akan berangkat ke kota C dengan Rendi yang akan menjadi sopirnya. Bukan hanya Alex yang tak mengijinkan Claudia berkendara sendiri,namun juga Mama Lidya. Kesibukan yang benar-benar tak bisa Alex hindari.Menjadikan Itu sebagai alasan awal mengapa dirinya membuat secenario bersama Andrian waktu itu, tanpa melibatkan Jenita terlebih dahulu. Hingga ketika semua siap, baik Alex maupun Andrian bisa sama-sama mendalami peran mereka dan saling membantu. Namun semua berubah dengan keukehnya Jenita untuk segera berangkat ke kota C.


"Aku tahu, kamu jangan khawatir ya. Aku akan menjaga diriku sendiri sebaik mungkin." Claudia tersenyum. Tak dapat dipungkiri dirinya juga merindukan para sahabatnya yaitu loyang, tepung dan telur juga para pengawalnya. Rasanya sudah tak sabar ingin kembali mengolah adonan dan menghiasinya dengan sangat cantik.


"Aku masih ada meeting sore ini. Tapi nanti malam Aku akan datang lagi. Aku akan menemanimu disini."


Claudia mengangguk, dia tak akan bisa menolak ataupun melawan lelaki yang sedang mendekapnya erat. Sedikit mengerti akan tabiat Alex membuat Claudia tak lagi banyak komentar asal semua masih di batas wajar. Baginya, lelaki dingin dan pemarah tersebut sudah tak semenyeramkan dulu. Sudah terlihat banyak senyum tersungging dibibirnya walau hanya sekilas.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Kalian sudah paham dengan apa yang menjadi pekerjaan kalian?" Andrian yang melakukan briefing pagi di ruko tempat produksi Claudia bertanya tentang pekerjaan dan juga keluhan yang masuk. Masih sama seperti konsep di awal. Jenita menekankan untuk memberi respon positif kepada komentar, dan saran para konsumennya. Juga menerima kritikan sebagai tahap pembelajaran untuk mereka agar bisa mengembangkan ide sesuai yang konsumen inginkan.


"Leny dan Anti, ada pertanyaan?" Lanjutnya menatap ke dua wanita yang baru dua hari bergabung bekerja disana.


"Sudah paham chef." Jawab keduanya


Andrian mengangguk, chef tampan tersebut kemudian meminta semuanya untuk kembali bekerja, sedang dirinya berkali-kali melirik ke arah jam yang tergantung di dinding.

__ADS_1


*


*


*


Tepat jam 11 siang nampak sebuah mobil berwarna putih masuk ke dalam pelataran ruko. Seorang wanita cantik dengan kacamata hitamnya turun dari dalam mobil.


Senyum tersemat dibibir mungilnya seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruko. Marni yang melihat ada orang masuk segera menghampiri.


"Selamat siang, maaf nona ada yang bisa kami bantu?, tapi mohon maaf sebelumnya karena disini hanya menerima order berupa pesanan, maka hanya ada katalog. Sedang untuk bolu dan kue yang lebih lengkap berada di toko utama." Marni menjelaskan.


Memang benar adanya, ruko yang telah di perlebar tersebut masih mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai rumah produksi. Semua adonan yang dibuat di ruko adalah pesanan yang akan langsung dikirim begitu siap. Sedang untuk display mereka tak pernah menyediakan nya. Karena semua akan diarahkan kembali pada toko utama.


"Oh, silakan. Tapi maaf jika tempatnya tidak berkenan karena memang tempat produksi."


Keduanya berjalan dengan Marni yang lagi lagi berceloteh mencoba menerangkan tentang produk produk yang mereka buat terutama bolu. Semua berjalan baik hingga Andrian keluar dari tempat pemanggangan bolu dengan keringat yang membasahi dahinya. Sedikit terkejut namun akhirnya senyum mengembang di bibir chef tampan tersebut.


"Jen, kau kembali?" Senyumnya membuat Marni menatap tak mengerti.


Sejenak Jenita tersenyum kemudian membuka kacamata hitamnya. Seketika itu juga Marni memekik seraya menutup mulutnya. Rasa tak percaya wanita itu melihat wanita yang berdiri disampingnya adalah Jenita. Rambut panjang yang terurai dengan tanpa kacamata super tebal yang dulu selalu dipakainya membuat penampilan Jenita berbeda. Marni masih menatap tak percaya walau setetes air matanya mengalir, wanita itu masih terlihat syok. Bagaimana tidak, selama kurang lebih dua bulan lamanya dirinya mengutuk dirinya sendiri atas apa yang menimpa Jenita hingga gadis itu menghilang menumbuhkan rasa bersalah yang sangat besar.


Meski Andrian sudah memintanya untuk tetap tenang dan tak lagi banyak berpikir namun karena Jenita belumlah dapat dia lihat, maka rasa itu tetap ada di benak Marni.

__ADS_1


Jenita mendekat dan memeluk erat Marni. Istri security yang dia percayai untuk menjaga ruko miliknya itu tak kuasa menahan tangis. Sementara Andrian memilih masuk ke ruang pantry yang baru saja dibuat sebagai tempat para karyawan beristirahat. Disana sudah ada chillers khusus karyawan dan juga kompor.


Diambilnya jus jeruk dan tiga buah gelas untuk dibawanya ke ruangan dimana Jenita bersama Marni berada kini. Mereka mengobrol untuk beberapa saat sebelum akhirnya Marni kembali di sibukkan dengan beberapa pesanan yang sudah siap di packing. Hingga kini tinggallah mereka berdua.


"Bagaimana perjalananmu?"


"Lumayan melelahkan, namun untung saja Rendi bisa diajak bercerita jadi aku masih ada teman ngobrol."


"Alex sudah menyiapkan semuanya. Yang terpenting sekarang kamu harus lebih berhati-hati dan waspada. Kita tak pernah tahu siapa yang berada dibalik mereka sebenarnya."


"Aku tahu, nanti setelah makan siang rencananya aku langsung ke toko utama. Sudah lama aku tidak mengeceknya, semoga semua masih baik baik saja."


"Sudah menghubungi Dira?" Andrian bertanya seraya meminum jus nya yang tinggal setengah hingga tandas.


"Tidak, aku sengaja tak memberi tahukan kedatangan ku kepada siapapun. Aku ingin melihat bagaimana ekpresi mereka nantinya." Jenita tersenyum simpul.


"Kalau begitu aku tak boleh kehilangan momen tersebut." Andrian tergelak.


Pengaturan Alex sangat simpel namun semua mengena tepat pada sasaran masing-masing. Dari ekpresi saja bisa terlihat mana yang benar-benar bahagia atau hanya sekedar saja. Permulaan yang cukup sederhana, dan Jenita baru mengerti akan hal itu.


"Tunanganmu itu mempuni dalam segala bidang. Otak cerdasnya tak ada yang mampu mengalahkannya. Kamu beruntung mendapatkannya."


Jenita hanya tersenyum menanggapi perkataan Andrian yang memang benar adanya. Namun sebutan tunangan hanya karena adanya perjanjian perjodohan diantara mereka berdua. Sedangkan cinta, baik Alex maupun Claudia belum pernah membahasnya secara serius.

__ADS_1


__ADS_2