
"Aku masih tidak habis pikir dengan keputusan yang kamu ambil selama ini, Lid. Jujur saja aku sangat kecewa dengan keegoisan yang kamu miliki. Bertahun-tahun kamu bersembunyi dan malang nya, kamu juga membuat putrimu mengalami hal yang sama denganmu."
Di ruang tengah kediaman Kuncoro mereka berbincang. Lidia yang telah di boyong ke sana hanya bisa menunduk dengan butiran air mata di sudut matanya. Wanita baya tersebut hanya berpikir sesaat. Demi keselamatan putrinya waktu itu hingga memilih menghilang bahkan tak pernah memberi akses bagi keluarga Ikbar untuk mengetahui keberadaan mereka berdua.
Di lima tahun pertama persembunyian nya. Lidia berhasil menghilang bahkan dari orang-orang suruhan sang papa. Namun di tahun ke 6 barulah Lidia ditemukan dan di bawa kembali ke kediaman besar keluarganya. Ditemukannya Lidia tidak serta merta merubah keputusannya. Dia masih keukeh untuk menutupi jati diri dan juga putrinya. Bahkan nama Ikbar pun tak pernah dia sebutan. Lidia benar-benar memilih untuk mengubur masa lalunya bersama mendiang sang suami.
"Aku hanya ingin hidup tenang bersama Jen. Aku bahkan tak pernah berpikir bahwa hal ini akan terbawa hingga sekarang. Padahal jelas jelas aku sudah tak menginginkan apapun itu. Semuanya telah lama ku kubur bersama kepergian Mas Ikbar." Ungkapnya terisak lirih.
Kepergian Ikbar yang mendadak serta banyaknya tuduhan yang memojokkannya dulu membuat Lidia tak bisa berpikir normal. Dia hanya berusaha untuk melindungi putri semata wayang mereka dari orang-orang disekitarnya memilih untuk pergi. Tak ada lagi perlindungan baginya apalagi tanpa kehadiran sang suami. Bahkan eyang Sulastri pun seolah menatap jijik padanya kala itu.
Tanpa ragu dan dengan bekal seadanya Lidia nekat pergi membawa putrinya yang kala itu masih berusia 7 bulan.
Winarni segera bergerak memeluk tubuh sahabatnya yang bergetar. Ibu dari Alex tersebut sangat paham dengan apa yang Lidia rasakan. Dia yang berasal dari keluarga biasa saja tentu sangat tahu bagaimana rasanya penghinaan. Beruntung, keluarga Kuncoro bukan termasuk salah satu nya.
Lidia yang sebenarnya bukanlah berasal dari kalangan biasa. Ayahnya seorang pembisnis kenamaan. Namun Lidia remaja tak pernah mau membanggakan dirinya kala itu. Dia yang lebih senang tinggal bersama bibinya malah jarang pulang ke rumah kedua orang tuanya.
Tak heran banyak orang yang menyangka bahwa Lidia adalah keponakan papanya bukan putrinya. Bahkan mungkin hingga saat ini kebanyakan orang masih menganggap nya begitu.
"Sesaat setelah kau menghilang. Eyang sempat datang menemui papa ku. Entah apa yang mereka bicarakan waktu itu. Bahkan tak ada seorang pun yang papa ijinkan masuk ke dalam ruang kerjanya selama mereka berdua berbicara." Kuncoro menarik nafasnya pelan kemudian menghembuskannya perlahan.
"Papa bahkan memintaku untuk turut mencari keberadaan mu. Namun aku tak bisa fokus karena saat itu Alex juga sedang sakit. Di saat aku mulai mengerahkan orang-orang ku, saat itulah aku mendengar bahwa papamu telah berhasil membawamu kembali meski masih dengan identitas sebagai keponakan. Pada awalnya aku tidak mengerti akan semua itu, sampai papa menceritakan semuanya barulah aku paham. Namun yang membuat aku sulit percaya hingga saat ini. Kamu masih melanjutkan sandiwara tersebut. Menutup fakta jika dirimu masih ada dan kamulah putri tunggal Tuan Diko dan Jenita adalah cucu nya. Bukan sebagai keponakan dan cucu keponakan seperti yang orang luar tahu selama ini."
"Sudah saatnya semua terungkap, Lid. Kamu tidak akan bisa merubah takdir. Bagaimanapun usaha kerasmu tak akan pernah bisa merubah segalanya. Semua sudah tersirat dan tersurat. Kita hanya bisa merubah nasib namun tidak dengan takdir itu kenyataan yang harus kamu ingat."
__ADS_1
"Bangkitlah, setidaknya untuk putrimu. Dia berhak untuk memiliki kehidupan normalnya."
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Alex berdiri di depan jendela besar di rumah Jenita. Lelaki tersebut terdiam dengan banyaknya lamunan di dalam benaknya. Rekaman pembicaraan yang di kirim papanya membuatnya menghela nafas tak tahu harus berbuat apa.
Benar, Kuncoro merekam semua pembicaraan nya dengan Lidia dan mengirimkannya pada sang putra. Kuncoro ingin Alex mengetahui fakta yang sebenarnya, karena selama ini Lidia sangat menyembunyikan kebenarannya.
Claudia yang dimata kebanyakan orang adalah gadis beruntung karena menjadi ahli waris dari perusahaan besar mendiang pamannya. Pada kenyataannya dialah cucu kandung yang sebenarnya.
"Ada masalah?" Jenita berdiri disisi Alex, menatap lurus ke depan seperti yang Alex lakukan saat ini.
"Kenapa belum tidur?" Kebiasaan sekali, jika ditanya bukannya menjawab namun malah balik bertanya dan itu sudah di hafal oleh Jenita kini.
Keduanya masih berdiri menatap malam dibalik jendela. Tak ada yang bersuara hanya dentangan jam yang terdengar beraturan. Malam sudah semakin larut namun kedua nya tak ada yang mengantuk.
"Apa rencanamu untuk besok?" Alex mengakhiri kesunyian.
Lelaki itu berjalan ke arah sofa dan memilih mendudukkan dirinya disana. Jenita menoleh, gadis tersebut belum menjawab dan memilih kembali menatap ke luar Jendela.
"Aku masih berpikir tentang alasan logis hingga papaku menghilang dan dinyatakan meninggal. Aku masih selalu berharap papa masih hidup walau rasanya kemungkinan tersebut sangat kecil."
"Kamu sudah memiliki petunjuk?"
__ADS_1
"Aku hanya tahu, papa pergi malam itu. Kata mama, beliau pergi mengantarkan pesanan bolu untuk hajatan ke luar kota. Pada saat itu jasa ekspedisi masih sangat terbatas dan untuk lebih menghemat waktu maka harus dikirim secara pribadi. Papa pergi berdua dengan om Hermawan. Namun keduanya tak kunjung pulang hingga 3 hari setelahnya."
"Om Hermawan ditemukan di sebuah rumah sakit dan menurut dokter dia mengalami amnesia. Bahkan Om Hermawan tak mengingat siapapun kecuali Eyang. Namun keberadaan papa tak pernah diketahui sejak saat itu. Hingga akhirnya, mobil papa ditemukan di sebuah jurang tak jauh dari tempat ditemukannya Om Hermawan seminggu setelahnya."
Alex memeluk Jenita kala melihat bahu gadis tersebut terguncang. Tangis nya yang mencoba ditahan pada akhirnya tak bisa dibendung nya lagi.
Rendi yang mendengar tangis nona nya segera bergerak cepat. Namun langkahnya segera terhenti ketika melihat Alex memberinya isyarat jika semua baik baik saja. Dengan anggukan kepala pemuda tersebut kembali berlalu dan memilih masuk ke dalam dapur.
"Ada apa?" Bibi yang baru saja keluar dari kamarnya turut di cegah oleh Rendi.
"Tak apa bi, sudah ada tuan bersama nona."
Bibi mengangguk kemudian melangkah menuju kompor dan menghidupkan nya.
Penghuni kediaman Jenita yang baru sangat tahu dengan situasi yang menimpa Jenita. Tugas yang diberikan Alex memang tak pernah main main. Bahkan orang-orang yang berada disana adalah orang-orang terpilih.
"Aku buatkan kopi." Wanita yang berusia sekitar 35 tahun tersebut kemudian turut duduk bersama Rendi di dapur.
"Aku harap semua cepat berakhir. Kasihan nona, hidupnya tak tenang dengan adanya bahaya yang bahkan tak ada yang tahu siapa dibalik semua itu."
Wanita itu berujar dengan tatapan kosong. Dia teringat tentang suami dan anaknya yang telah meninggal. Dia yang hidup sebatang kara pada akhirnya bertemu dengan Aldi. Asisten Alex tersebut menawarkan pekerjaan untuk membersihkan apartemen tempat tinggal Alex sebanyak seminggu 3 kali.
Perlakuan Aldi maupun Alex yang baik membuatnya betah. Namun kepercayaan Alex padanya adalah poin yang paling dia hargai. Dimana Alex tak sungkan memberikan kode akses apartemen nya bahkan mengijinkannya untuk tinggal disana jika Alex tak pulang. Statusnya yang janda dan miskin terkadang membuat sebagaian orang mencibir bahkan menaruh curiga berlebih.Namun Alex tak pernah menunjukan hal itu.
__ADS_1
Dibalik sikap arogan dan dinginnya. Alex adalah sosok yang baik dimata anak buahnya. Amarah lelaki tersebut meledak mana kala ada kesalahan yang fatal dan itu mereka anggap wajar. Alex bahkan tak pernah memerintahkan hal hal diluar batas.