
Senyum, sebuah kegiatan yang asyik, menyenangkan dan sangat ringan dilakukan. Namun percayalah, sebuah senyuman bisa menyembunyikan banyak hal. Sakit, sedih, luka bahkan kebencian.
Jenita menghempaskan badannya lelah. Sebuah rumah sederhana yang telah disiapkan oleh Alex menjadi tempat ternyaman nya saat ini. Terlihat sangat sederhana dan Asri. Akan tetapi, tak ada yang menyadari keamanan rumah tersebut dibuat sedemikian rupa. Tak hanya orang-orang profesional yang berada disana namun juga teknologi cangih yang menunjang. Rumah yang hanya mempunyai 3 kamar, satu ruang tamu dan 1 ruang tengah. Ditambah 1 kamar mandi dan dapur memang nampak seperti rumah biasa pada umumnya.
Jenita menatap langit langit kamarnya. Gadis tersebut merenungkan semua yang terjadi pada dirinya hari ini. Tak banyak memang, namun semuanya sangat berarti baginya. Seperti yang Alex katakan, bahwa kepekaan sangatlah penting digunakan bukan hanya insting yang kuat.
Di ambilnya lagi kertas yang di berikan Angia. Kertas yang tadinya terlipat rapih tersebut telah berubah. Dia yang memang sejak awal tak pernah merasakan kecurigaan kepada siapapun lagi lagi merasa tak berguna.
"Buat apa mereka melakukan itu padaku?" Gumamnya lirih.
Dibaca berulang coretan yang yang diberikan Angia. Disana gadis itu mengatakan bahwa ada beberapa CCTV yang terpasang diruangan Jenita. Bahkan ada 2 buah yang terpasang di lemari tempatnya menyimpan buku buku resepnya. Angia juga memberitahu jika ada sebuah alat perekam di balik mejanya.
Gadis cantik tersebut masih bingung, Angia yang baru saja memulai bekerja 2 hari lalu bahkan telah mengetahui banyak hal di sana. Termasuk di dalam ruang kantor nya.
Ting
Segera diraihnya ponsel yang berdenting karena adanya pesan masuk disana.
"Sudah tidur, sayang?"
Waktu bahkan masih menunjukkan pukul 8 malam. Namun Alex mengirimkan pesan tersebut kepadanya. Sedikit memberengut karena lelaki itu tak menghubungi nya sepanjang siang. Sekali menghubungi nya hanya dengan pesan singkat dan malah tak menanyakan bagaimana keadaannya. Jenita bukan gadis manja, dia adalah pribadi mandiri yang supel. Namun beberapa waktu ini dirinya telah terbiasa dengan kehadiran Alex disisinya. Membuatnya sangat tergantung pada laki-laki itu.
Alih alih mengetik balasan untuk sang kekasih. Jenita memilih untuk menghubungi Alex secara langsung.
Wajah lesu yang nampak lelah terpampang nyata di layar ponselnya. Jenita tertegun menatap laki-laki yang tersenyum manis padanya kini. Walau sangat terlihat lelah namun Alex masih mampu menyajikan senyum indah di bibir nya.
"Belum tidur, sayang?" Alex mengulangi pertanyaan yang belum juga di jawab oleh Jenita. Padahal jelas pertanyaan tersebut tak membutuhkan jawaban karena nyata gadis itu berada di hadapannya kini.
"Kamu masih di kantor?"
__ADS_1
Ditanya apa namun jawabnya apa. Jenita yang fokus menatap sekeliling Alex mengernyitkan dahi. Lelaki itu masih duduk di kursi kebesaran nya, lemari besar berisi buku buku tebal tertata rapih di belakang kursi yang sedang didudukinya. Masih menggunakan kemeja berwarna biru muda dengan tanpa dasi dan juga jas karena mungkin Alex telah melepasnya. Dua kancing bajunya bahkan nampak terbuka dan lengan nya juga telah digulung hingga siku. Rambut yang sudah terlihat sedikit tak rapih namun penampilan tersebut sungguh terlihat seksi dimata Jenita.
"Ya, aku lembur. Banyak sekali pekerjaan yang harus ku selesai kan." Ucap lelaki itu sambil menaruh ponsel yang masih menyala demi bisa merenggangkan sedikit otot nya.
Dari sebrang sana, Jenita dapat melihat komputer yang masih menyala terang. Bahkan secangkir kopi masih terlihat dengan sedikit asap keluar dari dalamnya.
"Apa harus selesai hari ini?" Jenita jelas melihat bagaimana raut lelah Alex yang tersembunyi dibalik senyum manisnya itu.
Berpikir sejenak, bahwa kesibukan Alex akibat dirinya selama ini. Alex yang selalu berada di sisinya pasti meninggalkan banyak pekerjaan hanya demi bisa membuatnya nyaman. Memikirkan hal itu membuat Jenita tak enak hati. Alex menjaganya dengan baik walau pertemuan mereka diawal penuh dengan ketidaknyamanan.
"Ehmm, harus selesai beberapa waktu. Setidaknya semua bisa ku handle dengan baik. Jangan khawatir, semua akan beres." Di teguknya kopi yang masih mengepul tersebut secara perlahan.
"Kenapa minum kopi malam malam? kamu tidak berencana untuk lembur hingga pagi kan?" Tersirat kekhawatiran yang tidak begitu kentara dalam kalimatnya.
Alex tersenyum, menatap lekat gadis yang wajahnya memenuhi layar ponselnya kini. Tak bosan dan bahkan membuat Alex merindukan nya sepanjang waktu. Baru sehari dirinya jauh dengan gadis itu membuatnya rindu yang teramat sangat.
"Aku juga." Pelan Jenita menjawab.
"Oh ya, masa?" See, senyum menyeringai penuh kejahilan muncul di bibir Alex membuat Jenita memberengut kesal.
"Katakan sekali lagi?"
"Apa?" Jenita pura-pura bodo kali ini. Dia tak mau lagi diledek oleh Alex. Wajahnya sudah merona, beruntung lampu kamarnya tak begitu terang sehingga sedikit menyamarkan ke gugupannya.
"Katakan apa yang kamu bilang barusan, aku tadi tak mendengarnya dengan jelas."
"Aku lupa."
"Sampai jam berapa kamu di kantor? kamu nggak berencana untuk menginap disana juga kan?" Jenita buru buru merubah topik pembicaraan.
__ADS_1
Alex adalah orang yang sulit ditebak cara berpikir nya. Lelaki itu terkadang bertindak tanpa perlu merencanakan terlebih dahulu. Namun anehnya, semua yang dia lakukan menunjukkan bukti nyata bahwa keputusannya tak pernah main main.
"Entahlah, aku belum memikirkan hal itu. Aku hanya ingin semua segera selesai dengan cepat. Agar aku bisa segera menyusulmu ke sana(kota C)"
Jenita terdiam, lagi dan lagi lelaki tersebut melakukan semuanya demi dirinya. Sementara Jenita tak pernah sekalipun melakukan hal baik untuk Alex. Dia yang selalu tergantung setelah kejadian penculikan tersebut bahkan nyaris tak pernah berpikir sendiri. Semua sudah dipikirkan matang matang oleh Alex dan Jenita hanya perlu melakukannya saja.
"Pulanglah!! kamu juga butuh istirahat. Jangan paksakan dirimu seperti ini."
"Tak masalah, aku bisa melewati semuanya." Lelaki itu menjawab dengan tenang. Matanya tak lepas menatap wajah cantik tanpa makeup yang berada disebrang sana.
"Tapi aku nggak suka!! Kalau kamu sakit gimana? siapa yang akan menjagaku?. Aku ingin kamu segera datang ke sini. Namun aku juga tak ingin kamu sakit." Jenita menunduk. Alex mengorbankan banyak hal untuk nya, sekarang gadis itu hanya ingin Alex menjaga kesehatan nya sendiri.
"Hey hey, sayang. Jangan menangis." Alex kelabakan disana.
Lelaki tersebut buru buru mematikan komputernya setelah menyimpan semua pekerjaan nya. Tak lupa juga dirinya merapikan berkas berkas yang tadinya masih berserak di atas meje besar tersebut.
"Sayang, lihatlah!! aku sudah membereskan semuanya. Jangan menangis, ok."
Alex berlalu dari ruangannya. Setelah mematikan lampu dan menutup pintu ruangannya. Lelaki itu bergegas menuju ke bawah dimana mobilnya terparkir disana. Dengan masih menggenggam ponselnya dia masuk ke dalam mobil dan mulai menyalahkan nya.
"Yang, aku sudah dimobil. Sebentar lagi sampai ke apartemen. Jangan menangis lagi, ok."
Tak ada jawaban dari Jenita, gadis itu hanya menatap nya dengan isakan kecil yang terkadang masih terdengar. Jenita bukan gadis cengeng, namun dia tak mampu menyembunyikan kekhawatiran dan juga rasa tersentuh nya karena perbuatan Alex. Tak pernah dirinya berpikir jika lelaki itu akan memperlakukan nya sedemikian rupa. Menempatkan kepentingannya diatas kepentingan Alex sendiri.
Apa dia benar-benar mencintai ku? atau hanya merasa kasihan padaku?
Semua pertanyaan itu datang menghantui pikiran Jenita. Tidak pernah dekat dengan seseorang dalam konten special membuatnya tak mengetahui bagaimana rasanya mencintai. Yang dia tahu hanya kenyamanan yang dia rasakan saat bersama Alex.
Hingga sambungan berakhir dengan Alex yang mengatakan akan mandi terus tidur. Barulah Jenita turut menarik selimutnya dan memeluk guling dengan tenang.
__ADS_1