
Sebuah mobil berwarna putih masuk ke halaman toko. Sang sopir membukakan pintu untuk majikannya. Seorang wanita cantik keluar dengan angun. Dandanannya tak begitu mencolok namun auranya sangat terasa. Dengan memakai gaun terusan berwarna hitam, rambut yang dibiarkan tergerai dan kacamata hitamnya wanita tersebut masuk ke dalam toko.
Keadaan toko yang sedikit ramai membuat dirinya tersenyum kala tatapannya tertuju pada sosok yang sedang berbicara serius tak jauh disana.
"Jen." Sapanya dengan senyum yang mengembang sempurna.
Jenita yang kala itu sedang berbicara dengan Dira sontak menoleh. Sedikit terkejut namun pada akhirnya senyum terukir di bibirnya yang merah alami.
"Mama, kenapa nggak ngasih tahu kalau mau datang?" Ucapnya seraya menghambur kepelukan Lidia.
Benar, Lidia benar-benar menunjukkan dirinya. Telat dalam hatinya telah bulat. Selama bertahun-tahun dirinya menghindari dunia luar demi keselamatan diri dan juga anaknya. Namun ternyata semua tak ada gunanya karena kehidupan tenang yang diinginkannya masih saja terusik.
Keriuhan kecil tersebut menarik perhatian beberapa pengunjung toko. Selama ini tak ada yang tahu sosok orang tua Jenita. Gadis cantik tersebut tak pernah menyinggung keberadaannya sama sekali.
Dira yang sempat ter bengong pun akhirnya bersalaman dengan Lidia yang menyambutnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Tak jauh dari tempat mereka berada. Nampak Hermawan menatapnya tanpa berkedip. Sekian lama menunggu pada akhirnya wanita yang merupakan cinta pertamanya tersebut menampakkan diri.
Cantik.
Satu kata yang digumamkannya lirih. Tak bisa dipungkiri bahwa cintanya itu nyata. Lidia, gadis yang dapat merebut hatinya hanya dengan senyum dan tatapannya saja.
__ADS_1
Sementara Ayunita mendadak geram. Wanita yang sudah dianggapnya mati tersebut ternyata muncul kembali dihadapannya. Hatinya kembali panas dengan amarah yang ingin meledak. Canda tawa masih terlihat disana, bahkan Dira pun nampak bergabung dalam obrolan ibu dan anak tersebut tanpa tahu apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya.
Kehebohan sedikit terjadi kembali ketika Alex datang dan langsung bergabung di meja yang ditempati Jenita. Kecupan lembut pun dilayangkan kepada sang kekasih juga sapaan hangat kepada Lidia dengan memeluknya sesaat menunjukkan bagaimana dekatnya mereka.
Lelaki yang jarang sekali tersenyum tersebut untuk pertama kalinya terlihat tertawa lebar kala berhasil membuat wanitanya cemberut. Dira yang masih berada disana sempat terpesona dengan tawa Alex. Bahkan suara lelaki tersebut mampu membuat hatinya bergetar. Gadis itu melirik iri ke arah Jenita yang berada didekapan Alex.
🍃🍃🍃🍃🍃
Ayunita berjalan dengan menghentak hentakkan kakinya. Hatinya panas dengan apa yang dilihatnya tadi. Wanita yang selalu bisa merebut apa yang diinginkannya nampak sehat dan tak kekurangan apapun.
Dia yang sudah menganggap Lidia mati bertahun-tahun lalu mendadak kesal pada kenyataan yang ada. Sakit hatinya kembali menggunung dan rasa dendamnya kembali berkobar. Bukan hanya pada Lidia namun pada Jenita juga dirinya membenci sedemikian dalam.
Andai wanita itu tak muncul, bisa dibilang Lidia lah penghambat kebahagiaan bagi dirinya. Dia yang merupakan tunangan Ikbar meski lewat jalur perjodohan. Kehadiran Lidia membuat mimpinya pupus ditambah dengan berita kehamilan wanita itu semakin membuatnya tak bisa menyentuh Ikbar.
🍃🍃🍃🍃🍃
Beberapa jam berlalu hingga pada waktu makan siang Lidia bergegas pergi dari toko kue milik mendiang ibu mertuanya. Meninggalkan Alex yang masih betah disana bersama pemilik hatinya.
Tak pernah terucapkan kata cinta diantara keduanya namun rasa itu nyata bahkan membuat iri siapapun yang melihatnya. Kehadiran Andrian beberapa saat lalu menambah riuh canda tawa di meja tempat mereka bercengkrama.
Dira yang memang sedikit pendiam hanya sesekali menanggapi obrolan mereka. Rasa bahagia terselip dalam hatinya. Merasakan bagaimana dekatnya mereka yang berada di hadapannya. Dira tak pernah merasakan hal itu. Hari harinya hanya sendiri semenjak dirinya memutuskan untuk pulang ke kota C meninggalkan aktifitas nya yang bekerja di sebuah butik di luar kota.
__ADS_1
Gadis manis tersebut juga merasakan bahagia ketika tanpa canggung Jenita menganggapnya adik. Dia yang mengetahui statusnya dalam keluarga eyang tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Berbeda dengan sang mama yang tak pernah mau mengakui statusnya, Ayu masih keukeh menginginkan kehancuran Jenita yang dianggap nya sebagai penghalang.
Tak dipungkiri bahwa hatinya menghangat. Namun rasa itu tak berlangsung lama setelah melihat bagaimana sang mama pergi meninggalkan toko dengan amarah yang tak pernah ditutupinya. Banyak rahasia yang belum diketahuinya dan alasan yang membuat sang mama sangat membenci Jenita.
"Oh ya, Dir. Dengar dengar kamu sempat bekerja di kota?"
"Iya, hampir 3 tahun aku bekerja di sebuah butik di kota. Waktu itu eyang memintaku untuk melanjutkan kuliah namun aku menolaknya dan memilih mengikuti berbagai kursus. Karena bosan aku iseng iseng melamar pekerjaan dan ternyata diterima." Ucapnya sambil tersenyum diujung kalimatnya.
"Kenapa nggak melanjutkan kuliah?"
"Otakku hanya mampu berpikir hal yang ringan. Dan sedikit blank jika memikirkan hal yang rumit rumit." Cengirnya dusambut anggukan kepala oleh Andrian yang memang duduk didekatnya.
"Kau tak berminat menjadi pekerja kantoran?" Alex berujar tanpa menghentikan aktifitasnya yang ******* ***** lembut jemari Jenita yang selalu di genggamnya.
"Pendidikan ku hanya sebatas sekolah menengah atas. Dan tak ada keahlian lain yang aku punya, tentu saja akan merepotkan jika aku melamar menjadi pekerja kantoran."
"Tapi ku lihat hasil pembukuan yang kamu kerjakan tiap bulannya bagus lo, Dir. Tak ada yang salah bahkan kau merinci nya secara detail." Jenita menggeser duduknya agar lebih rapat dengan Alex yang menarik lembut bahunya untuk mendekat.
Kecupan hangat bahkan mendarat di kening gadis cantik tersebut membuatnya menoleh dengan memelototkan matanya sebagai tanda protes. Bukannya takut dengan amarah sang kekasih Alex bahkan dengan santainya mendekap dan kembali melabuhkan kecupan nya.
"Kau harus bersabar melihat tingkah mereka yang sedang bucin akut itu, Dir. Biasakan mata sucimu untuk ternoda dengan ulah mereka berdua." Andrian berujar sambil menggelengkan kepalanya seraya tangannya terulur meraih minuman di dalam gelasnya yang hanya tinggal sedikit.
__ADS_1
Jenita tersenyum kecut dan kembali melayangkan cubitan mautnya di perut Alex yang hanya ditanggapi dengan senyum kecil tanpa berniat untuk membalas. Keempatnya masih berada disana dan terus mengobrol tentang banyak hal.
Berbeda dengan kesibukan yang dilakukan anak buah Alex dibawah komando Rendi. Mereka bergerak cepat dan mencoba cara yang mereka bisa lakukan hingga helaan nafas lega terdengar ketika mereka berhasil membuka pintu rahasia itu dengan pelan.