DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 39


__ADS_3

Tak ada yang berubah, semua masih berjalan seperti biasanya. Jernita dengan kesiibukannya dan Alex pun dengan kesibukan yang dijalaninya di kota C. Meninggalkan tanggungjawab perusahaan kepada sang papa dan juga Aldi tidak serta merta membuat Alex benar-benar bebas tugas.


Dia yang juga menjadi pemimpin perusahaan Claudia mau tidak mau masih memantau perusahaan yang sedang berjalan di bawa komando Sinta. Alex sedikit tenang manakala mengetahui bahwa Andrian sering membantu Sinta di sana. Sepertinya hubungan ke duanya menunjukkan keseriusan.


Alex sedang menatap laptopnya yang menyala. Deretan angka angka yang tentu membuat orang pusing jika tak mengetahui seluk beluk dan solusinya. Namun bagi seorang Alex semua itu bukanlah masalah besar.


Sebagai pembisnis muda yang namanya sudah terkenal di kalangan para pembisnis baik dalam maupun luar negeri tentunya kemampuan Alex tak bisa di ragukan lagi. Analisanya selalu nyaris sempurna dan bahkan lebih akurat di bandingkan dengan para pembisnis seniornya.

__ADS_1


Rendi datang dan segera melangkah masuk menuju tempat dimana Alex tengah mendudukan diri dengan laptop dihadapannya yang masih nampak menyala. Namun lelaki dingin tersebut menghentikan jemarinya dan beralih menatap Rendi tajam.


"Kenapa kamu disini?" Alex mengerutkan keningnya.


Rendi menunduk namun tak lama dirinya menyodorkan ponselnya ke pada Alex yang masih menatapnya kini.


Kedua alis Alex bahkan nampak menukik tajam seolah mewakili beragam tanya tentang keberadaan Rendi. Namun tak urung dirinya menerima ponsel yang Rendi sodorkan padanya. Kembali mengernyitkan dahi seolah mencoba menebak apa yang ingin disampaikan oleh anak buahnya tersebut namun tak dia temukan juga.

__ADS_1


Alex memperhatikan lebih seksama rekaman yang ada di ponsel Rendi. Matanya kembali memicing tajam kala mengingat mobil yang berada di sana adalah mobil yang sama dengan yang ada di rekaman CCTV yang diperlihatkan oleh Anto tempo lalu.


"Mobil tersebut berada di toko roti nona Jen, Tuan. Dan yang lebih mencengangkan pemiliknya adalah paman dari nona sendiri. Menurut informasi yang Angia peroleh, lelaki tersebut baru pulang dari luar kota demi untuk menjalani pemulihan. Kabarnya, sebelum pergi lelaki tersebut sempat sakit dan diluar kota tersebut dia harus menjalani perawatannya. Kepergiannya seminggu sebelum kejadian Anto yang menculik nona waktu itu. Tapi anehnya, mobil tersebut keluar dari rumah yang selama ini sedang Anto beserta yang lain intai." Rendi menjedah ucapannya.


"Tadinya saya ingin melaporkan ini lewat hubungan telfon, tuan. Tapi menurut saya itu tak lagi aman makanya saya memutuskan untuk segera menemui tuan. Maaf tuan saya harus meninggalkan nona di toko. Tapi saya sudah meminta Angia, Lesda untuk selalu berada disekitar nona. Saya juga menempatkan beberapa orang di sekitar toko yang menyamar sebagai pembeli selama saya menemui tuan."


Rendi menundukkan wajahnya. Dirinya tahu betul, meninggalkan Jenita sendiri adalah sebuah tindakan fatal yang berkali-kali Alex jelaskan kepada para anak buahnya. Namun Rendi tak bisa mengambil resiko yang lebih besar lagi nantinya jika dirinya telat melapor.

__ADS_1


"Aku mengerti. Bagus, kamu melakukan tugas dengan baik. Aku akan memikirkan ini dan mencari solusinya. Untuk sekarang kamu kembalilah ke sisi Jen. Jaga dia dan jangan sampai lengah. Ingatkan pada anak buahmu untuk selalu waspada namun jangan terlalu mencolok." Alex menyerahkan kembali ponsel Rendi setelah dia memindahkan vidio tadi kedalam ponselnya.


Rendi menganggukkan kepalanya dan segera berlalu untuk kembali ke toko dimana Jenita saat ini masih berada.


__ADS_2