DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 45


__ADS_3

Senyum yang beberapa waktu lalu terukir indah di bibir Jenita perlahan meredup. Bahkan isakan lirih terdengar disana. Di ruang tengah nampak Lidia yang duduk disebelah sang putri mengelus punggung sang putri yang bergoncang kecil.


Alex, Aldi dan juga Rendi yang tiba beberapa waktu sebelum Lidia nampak menampilkan ekpresi yang sama. Kesedihan yang dialami Jenita seolah menular pada mereka yang berada di ruangan tersebut.


Lembaran kertas, foto dan juga surat surat penting masih berada diatas meja. Bahkan Alex meminta untuk tak ada seorangpun yang masuk ke dalam ruang tengah termasuk bibi. Pengawal yang berjaga pun tak diijinkan untuk mendekat. Bukan karena Alex tak percaya kepada anak buahnya sendiri. Namun semua itu dirinya lakukan demi menjaga privasi sang kekasih yang nampak terguncang, terlihat dari punggung gadis itu yang bergetar menahan tangis.


Kenyataan demi kenyataan yang mulai diketahui membuat Jenita rapuh. Kebencian Ayunita kepadanya yang tanpa alasan kini dia tahu. Wanita baya seusia mamanya tersebut adalah gadis yang dijodohkan dengan Ikbar, bahkan mereka akan melangsungkan pertunangan. Namun seminggu sebelum semua terlaksana, Ikbar membawa Lidia pulang untuk bertemu eyang dan mengatakan bahwa dirinya akan menikahi Lidia. Bahkan demi mendapat restu eyang waktu itu, Ikbar meminta Lidia untuk mendukungnya dan mengatakan bahwa dirinya tengah hamil.


Keluarga Ayu yang tak terima menuntut Ikbar atas apa yang dilakukannya. Hermawan yang pada waktu itu juga berada disana tak bisa berbuat banyak. Dirinya bahkan pasrah menerima perjodohan dengan Ayu menggantikan Ikbar. Sementara dirinya mencintai Lidia.


Semua berjalan lancar para awalnya hingga mulailah timbul masalah demi masalah yang puncaknya membuat Hermawan berubah dan menyalahkan Ikbar atas apa yang menimpanya kala itu.


Terungkapnya jati diri Hermawan menambah kelam hubungan mereka. Dengan terang-terangan keluarga Ayu menghina status Hermawan yang hanya sebagai anak angkat eyang Sulastri. Hingga percekcokan terjadi terus menerus antara Hermawan dan Ikbar yang sebelumnya nampak akur.


Di dalam tulisannya. Ikbar mengungkapkan semua keluh kesahnya, kekecewaan dan juga kesedihan yang dirasakannya tak luput tertuang disana. Bahkan Ikbar menuliskan bahwa dirinya benar-benar tidak mengetahui jika Hermawan juga menyimpan rasa pada Lidia yang saat itu telah menjadi istrinya.


Persahabatan ke tiganya kandas dan meninggalkan luka yang mendalam mana kala kebohongan tentang kehamilan Lidia terungkap. Bahkan disaat Lidia benar-benar hamil dan melahirkan respek kepadanya pun tak lagi baik. Ikbar juga menceritakan tentang siapa sebenarnya Hermawan dan keluarga aslinya.

__ADS_1


Tak ada kebencian dalam goresan tinta Ikbar. Yang ada hanya kesedihan, kekecewaan dan juga luka. Hermawan dan dirinya tumbuh bersama dan melakukan banyak hal bersama, namun adanya kesalahpahaman membuat hubungan keduanya hancur.


🍃🍃🍃🍃🍃


"Bagaimana pendapatmu?" Andrian berujar setelah lama terdiam.


Lidia dan Jenita telah masuk ke dalam kamar mereka setelah sekian waktu menangis. Kedua wanita tersebut terlihat terguncang terutama Jenita yang baru mengetahui semuanya secara jelas.


Meski sempat membaca buku harian sang papa yang dia temukan di ruang kerja kakeknya. Jenita tetap terkejut dengan banyak hal. Lebih terkejut lagi ketika mengetahui sang papa bersedia memberikan semua harta warisan eyang yang pastinya akan jatuh ketangannya sebagai anak tunggal kepada Hermawan demi menebus semua kesalahannya. Namun semua itu tak pernah terwujud karena eyang Sulastri menolak tegas semua permintaan Ikbar.


"Aku sudah menduga semua kejadian berhubungan dengan lelaki itu. Namun aku tak menyangka bahwa semua ini berawal dari masa lalu. Pantas saja, beberapa waktu lalu papa berpesan agar aku lebih Jen terutama dari orang-orang terdekatnya. Mungkin papa sudah mengetahui kisah ini sejak lama hanya saja tak ada bukti yang kuat."


Kisah yang rumit dan berbelit membuat semuanya seakan tak berujung. Padahal, seandainya saja mereka bisa menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin, masalah tak harus berlarut larut hingga berimbas sampai sekarang.


"Sebaiknya kita tak terfokus pada masa lalu mereka. Lebih baik kita berpikir tentang saat ini. Keselamatan Jenita dan ibunya adalah yang terpenting. Bahkan kuncinya adalah Jenita jika memang semua ada kaitannya dengan harta warisan. Jen sebagai ahli waris pengganti papanya tentu akan menjadi orang pertama yang harus dilenyapkan oleh orang-orang yang memang menginginkan warisan eyang."


"Bagaimana dengan rumah pribadi yang sempat tante Lidia sebutkan beberapa kali? mungkin kita menemukan petunjuk baru disana?" Aldi yang diam sejak awal membuka suaranya.

__ADS_1


Alex dan Andrian saling menatap. Mereka berdua bahkan tak menyadari hal itu. Fokus mereka hanya pada kisah yang memilukan hati.


"Kenapa menatapku begitu?" Aldi kembali berujar dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Aku bahkan tak mengingat hal itu." Alex berujar seraya menepuk pundak Aldi sedikit keras membuat asisten sekaligus sahabatnya tersebut meringis.


"Rumah pribadi? itu artinya selama menikah mereka tidak tinggal ke kediaman eyang." Andrian berujar disambut anggukan kepala Alex dan Aldi.


"Besok aku akan mencoba bertanya kepada Tante. Siapa tahu kita benar-benar bisa mendapatkan petunjuk dari sana."


"Bagaimana dengan rencana selanjutnya?"


"Fokus kita tetap pada keselamatan Jen dan mamanya. Terus kita harus menambah orang yang berjaga. Ketika tante Lid muncul nanti, pastilah akan ada pergerakan dan kita harus bersiap sebelumnya." Aldi mengangguk dengan cepat ketika Alex menatap padanya.


Malam semakin larut membuat mereka mengakhiri obrolannya. Masuk ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan diri.


Alex tak segera lena, tubuhnya masih bolak balik ke kanan dan kiri tanpa bisa memejamkan matanya. Pikirannya jauh melayang, banyak hal yang bergejolak dalam benaknya. Bukan hanya masalah sang kekasih namun juga masalah perusahaan yang menjadi bebannya. Alex tak bisa mengabaikan sang papa mengingat kesehatan lelaki itu tak lagi sebaik dulu.

__ADS_1


Meski hubungannya dengan sang papa sempat memanas paska perjanjian perjodohannya dengan Jenita turut dicantumkan ke dalam surat wasiat mendiang kakek Gerrick. Tak dipungkiri Alex harus mengucapkan terimakasih pada sang papa pada akhirnya. Tanpa dirinya sadari bahwa sang papa telah lama mengetahui bahwa Jenita dan Claudia adalah orang yang sama.


"Aku tak akan membuat kalian semua kecewa. Aku berjanji untuk itu." Gumamnya sebelum menutup mata dan terlelap.


__ADS_2