DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 52


__ADS_3

"Mas, aku datang lagi."


Lidia berjongkok di depan gundukan tanah bertuliskan nama Ikbar di atasnya. Setelah dari toko tadi, dirinya langsung mengajak sang sopir untuk mengantarnya ke tempat ini. Langkahnya sudah semakin jauh dan berani. Lidia sadar betul akan resiko yang mungkin akan menghadangnya.


Kemunculan dirinya di depan publik akan membuat sebagian orang kembali mengorek tentang kehidupannya. Mau tak mau, Lidia harus kembali merasakan kesakitan tersebut.


Hembusan angin mengibarkan helai demi helai rambutnya. Tak ada hal yang lebih diinginkan oleh Lidia selain keselamatan sang putri. Semenjak kepergian sang suami dia tak lagi punya mimpi. Baginya sudah cukup hidup dalam kenangan masa lalu bersama sang suami.


Kehidupan tenang yang Lidia harapkan telah memberikan kenyamanan baginya selama hampir 24 tahun lamanya. Dimana dirinya memilih untuk menghilang dan dianggap telah mati oleh sebagian orang. Namun semua itu tak menjadi soal baginya.


Hingga sore menjelang dirinya masih disana. Berdoa dan bercerita banyak hal tentang banyak hal. Berharap Ikbar dapat melihatnya di sana.


🍃🍃🍃🍃🍃


Taman kota menjadi tempat persinggahan bagi Andrian dan Dira. Niat awal Andrian akan membawa Dira kesana. Dia yang tak tahu menahu tentang apa yang dialami gadis itu hingga nampak murung dan terpukul hanya bisa diam dan menemani.


Ketika gadis dengan mata sembab tersebut memintanya untuk pergi ke taman maka segera dia iyakan. Dengan harapan Dira bisa sedikit terbuka kepadanya.


Alex hanya meminta bantuannya untuk menjemput Dira. Akan tetapi Alex tak pernah memberitahukan padanya tentang masalah apa yang tengah dihadapi gadis yang terdiam dengan tatapan kosong disampingnya tersebut.


Sudah 20 menit lamanya mereka terdiam. Tak ada yang bersuara namun helaan nafas sangat jelas terdengar. Andrian masih diam, chef tampan tersebut hanya memainkan ponselnya yang sengaja dia buat silent agar tak mengganggu konsentrasi Dira yang sedang melamun.


Dengan segenap rasa penasarannya, Andrian mencoba bertanya pada Alex mengenai gadis dengan mata sembab yang sedang duduk di sampingnya kini. Tanpa di duga, Alex mengirimkan pesan suara padanya membuat Andrian mengeram kecil karena kesal. Bagaimana dia akan mendengarkan pesan tersebut sementara Dira berada di sampingnya.


Di putar nya otak untuk mencari cara agar bisa mendengarkan pesan tanpa harus membuat Dira curiga. Hingga senyum tersungging di bibirnya kala sebuah ide terlintas di benaknya kali ini.

__ADS_1


"Ehm, Dir. Aku ke mobil sebentar ya, mau ambil minum sebentar."


"Iya." Dira menjawab dengan memaksakan senyum di bibirnya.


Dengan tergesa Andrian bergegas melangkah menuju mobilnya yang terparkir 500 meter dari bangku dimana dirinya dan Dira duduk tadi. Andrian begitu penasaran dengan apa yang Alex kirimkan padanya. Entah itu perintah, pemberitahuan atau apapun itu yang jelas dirinya sangat penasaran.


Masuk ke dalam mobil, segera di buka aplikasi perpesanan miliiknya dan membuka pesan yang membuatnya penasaran berat tersebut. Namun rahangnya sedikit mengeras ketika mendengarkan isi dari pesan yang Alex kirim.


Rasa simpati jelas ada namun rasa kesal lebih mendominasi perasaannya kini. Ditatap nya Dira yang masih berada di tempatnya semua. Gadis itu tak bergeming tetap diposisi seperti tadi dia tinggalkan.


Dengan gontai, Andrian keluar dari dalam mobil membawa serta botol air mineral dalam mobilnya dan melangkah kembali ke tempat dimana Dira berada. Tak banyak kata yang ingin dirinya ucapkan. Bagaimanapun dia bisa merasakan bagaimana hancurnya gadis itu saat ini.


"Hari sudah petang. Sebaiknya kita pulang."


"Kita pulang ke ruko, disana masih ada kamar yang bisa kamu tempati jika memang kamu tak ingin pulang ke rumahmu." Usaha terakhir dilakukan oleh Andrian karena dirinya juga tak mungkin untuk menemani Dira disini semakin lama.


Tepat di jarum jam menunjuk angka 6 sore pada akhirnya Dira beranjak dari duduknya. Mobil Andrian segera meluncur ke ruko yang menjadi tempat produksi Jenita. Setelah beberapa waktu lalu dirinya menghubungi Marni.


"Hubungi aku jika kau butuh teman untuk bicara. Jangan diam saja, karena jika kau diam tak ada yang tahu masalahmu. Lalu bagaimana kami bisa membantumu kemudian?. Masuk dan beristirahatlah!! aku sudah meminta Marni menunjukkan kamar untukmu."


"Terimakasih, chef. Kamu tak singgah dulu?"


"Aku masih ada urusan. Setelahnya akan pulang ke apartemen. Aku pamit ya."


Dira mengangguk, mereka telah berada di halaman ruko sejak sepuluh menit yang lalu. Andrian memutar stir mobil dan berlalu setelah membunyikan klakson. Sepeninggal Andrian satpam langsung menutup gerbang dan menguncinya. Kemudian mengajak Dira masuk untuk menemui sang istri yang kala itu tengah mandi.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Andrian melajukan mobilnya sampai ke rumah Jenita. Dirinya tak lagi bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Selama ini tak pernah ada pembicaraan tentang adanya kisah cinta yang menjadi sumber dari masalah demi masalah yang menimpa Jenita.


"Kenapa kau tak menceritakannya padaku? andai aku tahu pasti aku akan lebih memperhatikan gerak gerik pasangan itu."


Andrian tak habis pikir jika dirinya tertinggal hal yang penting.


"Aku ingin semuanya nampak Alami. Dan jujur saja, kejadian hari ini diluar rencana. Aku sungguh tak pernah merencanakannya sampai Tante Lid datang tadi pagi dan memintaku untuk melakukan ini. Jadi aku minta maaf padamu."


Apa yang dikatakan Alex adalah hal sebenarnya. Lidia lah yang berada dibalik kejadian hari ini. Dan bagaimana dengan rekaman yang mereka miliki hingga mengetahui semua yang terjadi pada pasangan Ayu dan Hermawan serta Dira? Jawabannya adalah karena kelihaian Lisda dan Angia. Kedua gadis itu yang berhasil menaruh perekam pada Dira dan Ayu.


Flashback Lisda.


"Mbak, permisi. Saya mau mengecek laporan hari ini." Lisda masuk ke dalam ruangan dimana Dira sedang bergelut dengan nota nota diatas meja nya.


"Lo bukannya sudah ya?"


"Takutnya ada yang kelewatan mbak. Lebih baik saya cek ulang daripada nanti repot." Kilanya yang kemudian mendekat kearah Dira yang masih duduk di tempatnya.


"Sini aja kalau gitu, Da. Kebetulan aku juga lagi nyalin laporan itu sekarang." Dira menggeser duduknya memberi ruang pada Lisda untuk duduk disampingnya.


Dengan segera Lisda mendekat dan mulai duduk disebelah Dira yang masih asyik menggerakkan jemarinya diatas keyboard.


Entah bagaimana caranya hingga Lisda berhasil menyelipkan alat rekam yang kecil berbentuk jepitan pada ujung kemeja yang sedang Dira pakai. Disaat semua telah selesai Lisda akhirnya keluar ruangan dan kembali ke tempatnya di ruang produksi.

__ADS_1


__ADS_2