
Tak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna. Kecuali sang Pemilik Hidup. Begitu juga dengan hati, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya tersimpan dalam hati seseorang. Karena terkadang sang pemilik hati sendiri mengingkari apa yang dia rasakan.
Cinta harta dan tahta selalu saja menjadi rebutan dan itu tak hanya sekali dua kali terjadi.
Pagi yang cerah dengan kicauan burung di dahan dahan pohon rindang yang ada di sekitaran rumah sakit nampak riuh saling bersautan. Udara pagi ini cukup sejuk dengan angin yang berhembus pelan.
Lidia yang sudah terbangun dari subuh tadi nampak membuka tirai jendela kaca dan menghirup udara yang berhembus masuk. Senyum tersungging dibibir tipisnya. Melangkah menuju pintu yang mengarah ke balkon dan membukanya lebar. Udara sejuk semakin masuk ke dalam kamar, terasa segar.
Lidia melanjutkan langkah menuju pagar pembatas balkon dan merentangkan ke dua tangannya ke kiri dan ke kanan. Kegiatan itu dia rutin dilakukannya setiap hari setelah menjadi penghuni tetap rumah sakit ini.
Lidia memutuskan untuk tetap tinggal disisi sang suami. Bahkan wanita baya tersebut menolak tinggal di apartemen yang kuncoro sewa khusus untuknya istirahat. Semuanya berjalan sangat indah dan santai seolah tak ada beban yang harus mereka lalui.
Berbanding terbalik dengan kehidupan sang putri yang selalu menjadi incaran.
Sebulan berlalu setelah konfrensi pers dilakukan. Jenita kembali ke kota S untuk mengecek toko. Gadis cantik tersebut juga kembali tinggal di rumah besar eyang Sulastri. Semua itu tak luput dari rencana Alex dan Rendi tetap menjadi sopir pribadi dan juga pengawalnya.
Andrian juga masih berada disana turut mendampingi Jenita. Sementara untuk perusahaan kembali kekelola oleh sang papa bersama seorang utusan yang tentunya Alex sudah atur semua itu.
Tak ada pergerakan yang terjadi di pihak Hermawan. Namun mereka sangat tahu dan yakin segala gerak gerik mereka diawasi. Bahkan Andrian beberapa kali melihat ada beberapa orang yang melintas dan berhenti sejenak. Entah itu di toko, ruko maupun di jalan yang menuju apartemennya.
Beruntungnya mereka telah bersiap dengan segala kemungkinan. Andrian bahkan telah memasang CCTV yang berada di balkon apartemennya menghadap ke arah jalan raya. Tak ada yang akan menyadari alat tersebut, selain letaknya yang berada di ujung tralis dan berbentuk hiasan dinding yang terlihat sepintas seperti menyatu dengan tralis. Namun jika diamati dengan jeli semua itu akan terlihat berbeda.
"Aku lama lama seperti burung dalam sangkar." Ucap Andrian sambil tergelak di depan laptopnya. Disana terlihat wajah Alex yang masih tetap datar meski terdapat senyum tipis tersungging di bibirnya.
Sementara disampingnya terlihat Aldi mengulum senyumnya. Dia yang terlihat lebih manusiawi ketimbang Alex yang nampak datar.
"Sekalian saja kamu cari sarang disana, biar tambah betah." cetusnya masih tanpa ekpresi.
__ADS_1
"Aish, dasar muka tembok. Kenapa aku kenal orang seperti mu." Umpatnya kesal.
"Atau perlu ku suruh Aldi menanam pohon rindang didalam apartemen mu supaya kau gampang bertengger disana."
"Kau pikir aku seekor burung?"
"Bukannya kau sendiri yang bilang jika dirimu adalah burung dalam sangkar? lalu salahku dimana?"
Andrian mendelik kesal namun Alex tetap menatapnya tak datar membuat Aldi tersenyum lebar.
"Astaga kalian berdua seperti bocah. Sudahlah kita harus serius dulu saat ini. Tak ada pergerakan secara instens dari pihak mereka bukan berarti kita bisa bersantai ria. Keselamatan Nona Jen dan juga nyonya Lidia menjadi taruhannya disini." Aldi mulai mengajak keduanya untuk lebih serius lagi.
"Aku sempat melihat beberapa kali dia (Hermawan) keluar rumah. Tapi sepertinya tak pergi ke rumah pribadi. Atau mungkin ada tempat lain lagi selain disana?" Andrian berujar pelan.
"Makam." Alex menjawabnya dengan nada pelan juga.
"Ha, makam? buat apa? ehm maksudku makam siapa dan untuk apa? atau dimakam tersebut tersimpan ruang rahasia juga seperti yang ada dalam film film."
"Tunggu dulu, apa mungkin dia sadar kalau kita sedang mengikutinya hingga dirinya lebih waspada lagi? dan jika kemungkinan itu terjadi bukankah akan lebih berbahaya?"
"Ku kira otakmu hanya berisi telur dan tepung. Ternyata kau pintar juga ya." Celetuk Alex yang kembali membuat Andrian mendengus sebal.
Beruntung lelaki yang berbicara didepannya tersebut tampan dan juga banyak membantu usaha papanya. Andai tidak mungkin Andrian akan mengumpatnya dengan kasar.
"Ya Tuhan." Pekik Aldi yang kembali harus menggelengkan kepalanya.
"Untuk hal itu, sudah ada Anto dan beberapa orang orangnya yang melakukan pengintaian. Hanya saja, kami masih sedikit menyimpan kecurigaan terhadap Dira."
__ADS_1
"Dira?"
"Ya, gerak geriknya sedikit mencurigakan meski tak kentara namun itu bisa juga menjadikan alasan untuk kita curigai."
"Bukankah selama ini dia bersikap wajar dan malah tak pernah kemana-mana selain di ruko?"
"Itu yang mencurigakan. Kau tahu alasan dirinya meninggalkan rumahnya waktu itu kan?" Andrian mengangguk.
Ingatannya kembali ke siang menjelang sore dimana dirinya sedang melajukan mobilnya menuju ruko. Ditengah jalan Andrian melihat Dira sedang berjalan seorang diri tanpa membawa apapun. Setelah mereka berbincang sebentar barulah gadis itu mau ikut bersamanya namun karena tak ingin pulang, Andrian membawa Dira untuk tinggal di ruko sementara. Akan tetapi hingga detik ini, gadis manis tersebut masih bertahan disana.
"Kau sudah ingat? apa dia mengatakan padamu jika dirinya mendengar kedua orang tuanya bertengkar sehingga dirinya nekat pergi meninggalkan rumah?"
"Tidak.Dia hanya mengatakan kalau sedikit berselisih paham dengan keluarganya dan dia membutuhkan waktu untuk menyendiri." Andrian menatap kedua orang yang kini menatapnya juga.
"Lisda berhasil memasang alat perekam di tubuhnya. Pada saat itu kami tak begitu fokus pada apa yang dirinya lakukan. Karena pada saat yang bersamaan Angia juga berhasil memasang alat itu pada tubuh Ayu. Kami fokus kesana dan melupakan Dira. Dua minggu setelahnya kami baru mengingat tentang hal itu. Dan beruntungnya, kita masih punya 2 orang lagi di ruko selain Marni. Melalui mereka kami mendapatkan kembali alat tersebut, entah bagaimana cara mereka melakukannya. Karena setelahnya malah mereka bertiga yang berinisiatif sendiri merekam segala kegiatan yang dilakukan Dira dengan ataupun tanpa mereka."
"Jadi intinya semua telah ditangani termasuk Dira?"
"Benar.Dan Marni bukanlah ujung tombak nya. Karena tugas dia sebagai pemancing saja."
"Bukankah Marni yang lebih dekat dengannya?"
"Benar. Dan itu juga merupakan strategi mereka bertiga. Baik kedua gadis itu akan memasang alat perekam pada diri mereka sendiri saat akan melakukan kontak dengan Dira. Disengaja atau tidak, alat perekam itu akan selalu mereka pakai."
Andrian mengangguk penuh kekaguman. Dirinya tak menyangkah bahwa orang-orang yang mendukung Alex benar-benar sudah terlatih. Bahkan tanpa perlu menunggu komando dari Alex mereka sudah bisa bergerak sendiri.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" Andrian menatap kembali Alex sebelum mereka mengakhiri obrolan.
__ADS_1
"Tetaplah menjadi burung, karena jika kau terlepas kasihan sangkarmu yang kemudian kosong."
Gelak tawa Aldi tak dapat lagi di tahan. Sampai pembicaraan mereka berakhir dan layar berubah menjadi gelap gelak tawanya masih terjadi disebrang sana. Berbeda dengan Andrian yang kembali harus mengumpat dan berjalan menuju kamar mandi untuk berendam agar otaknya tak terlalu panas.