DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
..... .....


__ADS_3

Yong Yan terpaku di tempatnya saat menyadari bahwa wanita bercadar putih yang datang secara tiba-tiba membantu mereka adalah putrinya sendiri yang selama ini selalu di perlakukan tidak adil bahkan di anggap orang yang tidak berguna. Yong Yan yang sedikit demi sedikit telah berubah dan ingin menjadi ayah yang baik merasa gagal lagi di hempas realita yang menyakitkan. Seharusnya Yong Yan menyadari bahwa dirinya belum bisa menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab, namun tahta serta jabatan membutakan hatinya. Kini melihat Yong Lanmei yang tergeletak tak berdaya, membuat Yong Yan tiba-tiba merasakan ribuan duri yang menancap di hatinya. Sakit namun tak berdarah, itulah yang di rasakan Yong Yan maupun Raja Ye. Raja Ye kini tampak menyeramkan dengan balutan jubah yang bersimbah darah bahkan wajahnya kini tertutup debu serta darah yang mengering. Raja Ye tidak memperdulikan lagi keadaannya yang semrawut, dalam hatinya mencemaskan Yong Lanmei.


" Mana tabib, kenapa lama sekali?"


" Segera panggil tabib atau kalian semua akan menemani Lanmei jika terjadi sesuatu?"


Semua orang bergidik ngeri ketika Raja Ye sedang dalam keadaan marah besar. Bahkan sekedar untuk bernafas saja serasa sulit seolah-olah tercekat di tenggorokan dengan batu besar yang menghimpitnya. Segera dari mereka berlari untuk mencari tabib dan menyusul rekannya yang baru saja pergi memanggil tabib. Mereka tidak ada yang berani komentar sebab masih sayang nyawa.


Dengan tergesa-gesa bahkan terlihat keringat membasahi wajah tabib tersebut, Raja Ye yang melihatnya telah datang segera memerintahkan untuk memeriksa Yong Lanmei bahkan tabib tersebut tidak di beri kesempatan sekedar mengatur nafas yang kini masih memburu. Namun tabib tersebut tidak memprotes Raja Ye bahkan dirinya segera memposisikan untuk memeriksa Yong Lanmei.


Raja Ye yang melihat tabib tersebut yang mana terlihat kerutan dalam di keningnya menandakan bahwa kondisi Yong Lanmei kini tengah kritis merasa was-was dan takut tiba-tiba menyeruak dalam dadanya bahkan terasa sakit hingga Raja Ye mencengkram kuat dadanya yang terasa nyeri. Tabib refleks memandang Raja Ye lalu melihat Yong Lanmei yang terbaring dengan wajah pucatnya. Tabib ingin mengatakan hasilnya, namun terasa kelat lidahnya bahkan kesulitan untuk membuka suara. Raja Ye melihat tabib yang takut-takut untuk berbicara merasa geram sendiri.

__ADS_1


" Katakan apa yang sebenarnya terjadi, jangan bertele-tele?"


" Iii-ini sangat berbahaya, bahkan kemungkinan untuk sembuh sangat kecil"


" Jika ada harapan kenapa tidak di coba, katakan yang jelas!"


" Racun ini sangat mematikan, bahkan jika seseorang terkena racun ini akan langsung meninggal dalam hitungan detik namun bersyukur bahwa fisik nona Yong termasuk kuat dan memiliki antibodi yang bagus namun saat ini kondisi nona Yong semakin menurun."


" Untuk obatnya harus menyiapkan Gingseng ribuan tahun, jika ada yang lebih lama itu lebih baik. Teratai salju yang bahkan hanya tumbuh satu kali dalam seribu tahun. Serta mata air keabadian, cukup beberapa tetes saja. Untuk Gingseng dan teratai salju mungkin ada harapan untuk menemukannya namun untuk mata air keabadian itu mustahil."


" Jika mustahil kenapa di sebutkan?" Raja Ye geram mendengar tabib yang seakan-akan meremehkan kekuatannya.

__ADS_1


" Ampun beribu ampun yang mulia namun fakta ini benar adanya. Untuk mata air keabadian hanya ada di tempat para dewa berada. Bahkan jika ada keajaiban terjadi ketika hati para dewa sedang baik itupun jika para dewa menghendaki seseorang memasuki wilayah mereka. Namun jika sedang dalam keadaan buruk untuk melihat tempat tersebut saja tidak akan bisa apalagi memasukinya."


" Aku tidak peduli apapun resikonya akan aku ambil demi kesembuhan Yong Lanmei. Bahkan jika harus menentang maut sekalipun aku tidak takut!"


Yong Yan yang mendengar tekad kuat dari Raja Ye merasa malu sebab sebagai ayahnya telah gagal melindungi putrinya kini pun tidak bisa melakukan apapun. Yong Yan tidak memiliki muka untuk melihat Raja Ye. Dengan dipaksakan, Yong Yan ingin berbagi kesulitan apalagi yang tengah membutuhkan obat adalah putri kandungnya.


" Yang Mulia Raja Ye, jangan khawatir aku juga sebagai ayahnya akan membantu untuk mencari bahan obat tersebut. Untuk Gingseng aku memilikinya bahkan usianya kini mencapai jutaan tahun yang tersimpan rapih tanpa ada yang tahu. Untuk yang lain jika yang mulia tidak keberatan aku akan mencari teratai salju tersebut."


" Atur saja yang terbaik, lebih cepat lebih bagus. Apalagi berbagi tugas memungkinkan cepat terkumpul bahan obat yang di butuhkan."


Raja Ye tidak mempermasalahkan Yong Yan yang berbicara dengan bahasa informal sebab pikirannya sedang tertuju pada Yong Lanmei.

__ADS_1


Dalam hati Raja Ye sedang bertanya-tanya kapan Yong Lanmei memulihkan kekuatannya bahkan jika harus menelan pil menambah qi saja tidak akan bertahan lama di dalam tubuh jika terus menerus di gunakan dalam kurun waktu yang lama. Raja Ye juga memikirkan gerakan Yong Lanmei saat bertarung tanpa qi itu terasa asing di matanya. Bela diri yang Yong Lanmei gunakan adalah dari dunia modern sehingga Raja Ye tidak mengetahui gerakan tersebut. Raja Ye juga merasa kagum melihat kegesitan Yong Lanmei dalam bela diri serta ilmu pedangnya. Walau Yong Lanmei datang tanpa senjata, dirinya mendapatkan pedang tersebut dari prajurit musuh dengan cara merampasnya lalu membunuhnya. Gerakan indah bagaikan tarian pedang terus menari memenuhi pikiran Raja Ye. Raja Ye segera memfokuskan dirinya untuk menemukan mata air keabadian sebab untuk teratai salju, Yong Yan telah berjanji untuk menemukannya.


__ADS_2