DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 13


__ADS_3

Claudia merebahkan tubuhnya perlahan. Pikiran nya kacau namun sedikit lega karena telah mengetahui cerita tentang ke dua orang tuanya. Terutama kisah kasih keduanya hingga maut memisahkan mereka.


Tradisi perjodohan sejak dulu kental sekali dilakukan bahkan hingga dirinya kini pun ikut terimbas. Claudia menengadah manatap langit langit kamarnya. Tak bisa dipungkiri apa yang menimpa kedua orang tuanya menjadi cikal bakal permusuhan hingga saat ini.


Diraihnya buku catatan kecil sang papa yang sempat diambilnya tadi diruang baca sang kakek untuk dibawanya ke kamar. Walaupun sang mama, Nyonya Lidia telah menceritakan segalanya namun Claudia masih penasaran dengan versi cerita sang papa. Bahkan Ikbar didalam coretannya mengatakan bahwa dirinya sungguh tak mengetahui prihal perjodohan itu sebelumnya.


Rasa cintanya pada Lidia sudah tertanam sejak mereka duduk di bangku SMA. Hingga sampai kuliah jalinan itupun terjalin bahkan semakin kokoh. Tak pernah dipungkiri kehadiran Hermawan dan juga Ayu ditengah tengah mereka menjadikan hubungan mereka sempat renggang.


Ayu yang datang dengan mengatakan bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Ikbar waktu itu dengan sengaja meminta Lidia untuk menjauh. Lidia tak bisa berbuat banyak dan memilih untuk pergi dari kehidupan Ikbar tanpa memberitahukan alasannya kepada lelaki itu.


Hingga akhirnya, Hermawan yang memang diam diam menyimpan rasa kepada Lidia mengajukan dirinya sebagai pengganti Ikbar. Untuk membuat Ikbar benar-benar menjauh akhirnya Lidia bersandiwara menjalin kasih dengan Hermawan. Tanpa tahu akibat dari pemikiran sesatnya itu akan menimbulkan bumerang pada dirinya sendiri.


Claudia menutup buku coretan peninggalan sang papa. Hanya sebatas itu yang dapat dia baca karena selanjutnya banyak halaman yang hilang dan menyisahkan sebuah lukisan tangan dengan menampilkan wajah seorang wanita yang Claudia yakini itu adalah wajah mamanya di kala muda.


Tak terasa air mata meleleh di pipi mulusnya. Kisah cinta kedua orang tuanya membuatnya sedih. Andai tak ada keegoisan mungkin dirinya akan bahagia berada dalam keluarga yang utuh saat ini.


Claudia bahkan baru mengetahui eyang menerima kehadirannya sebagai cucu di usianya yang menginjak 15 tahun. Dari semenjak dia lahir hingga setelahnya sang eyang enggan menganggap nya sebagai cucu. Bahkan pernikahan kedua orang tuanya pernah tak diakui oleh eyang Sulastri.


"Semua sudah berlalu nak, yang terpenting sekarang kamu harus bahagia dan melakukan kewajiban mu pada eyang dan juga kakek. Walau bagaimanapun eyang membencimu dulu, darahnya masih mengalir kental dalam tubuhmu. Ikhlas kan dan maafkan semua yang sudah berlalu. Mama juga sudah memaafkan semuanya. Kita harus hidup dengan menatap masa depan dan tak lagi menoleh kebelakang. Mama harap kamu bisa mengerti maksud mama. Mama hanya tak ingin kamu menyimpan dendam dalam hatimu."


Ucapan mama tadi siang membuat Claudia mengusap air matanya kasar. Ada rasa tak terima dengan perlakuan orang-orang kepada kedua orang tuanya terutama sang mama. Namun ada bangga yang terselip disana. Dirinya terlahir dari orang-orang yang mempunyai tekat teguh mempertahankan apa yang mereka yakini apapun halangannya.

__ADS_1


"Aku akan melakukan seperti yang kalian lakukan. Aku akan berjuang untuk kebahagiaan dan keberhasilan ku agar kalian bangga padaku dengan itu. Papa, Jen janji akan menjaga mama dengan baik dan juga memajukan usaha peninggalan eyang atas namamu. Papa berbahagia lah disana dan doakan Jen untuk bisa kuat seperti papa dan mama. Jen sayang kalian."


Claudia memeluk foto kedua orang tuanya. Foto yang selalu diajaknya bicara kala rindu sosok papanya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Sepuluh hari berlalu dan kini tiba saatnya bagi Claudia untuk kembali ke kota C. Kembali sebagai Jenita si gadis culun namun berotak cerdas. Dengan berat hati Lidia melepas kepergian sang putri. Claudia meyakinkan sang mama bahwa dirinya akan baik baik saja di kota C.


Lidia bahkan menyarankan agar Claudia berangkat diantar sopir pribadinya, namun gadis kecil nya yang kini tumbuh menjadi gadis cantik tersebut menolak dan mengatakan jika dirinya akan menjadi Jenita yang mereka kenal di kota C bukan Claudia yang terkenal di kota S.


Jenita bahkan menceritakan dan memasang dandanan nya sebagai Jenita dihadapan sang mama yang menatap nya dengan mata yang terbelalak tak percaya. Gelak tawa pada akhirnya terdengar dari bibir wanita yang masih terlihat cantik tersebut.


"Sering seringlah mengirim kabar pada mama. Biar mama tak kesepian disini." Pelukan hangat keduanya disaat Jenita telah bersiap untuk berangkat.


"Hati hati di jalan, dan Sinta jangan ngebut berkendara."Lidia menoleh pada Sinta yang tersenyum menatapnya. Gadis manis yang diangkat anak oleh mendiang ayahnya tersebut sudah dianggapnya sebagai anak sama seperti Jenita. Keduanya yang tumbuh bersama membuat Lidia paham betul dengan tabiat keduanya.


Walaupun sudah sering diwanti-wanti kedua gadis tersebut tetap memilih untuk tinggal di apartemen masing-masing. Padahal rumah utama saangatlah besar dan cukup muat untuk menampung keduanya. Alasan ingin mandiri menjadi paling utama diungkapkan kedua gadis tersebut secara kompak.


Semenjak kedua orang tua Sinta meninggal karena kecelakaan waktu itu. Sinta lebih banyak menghabiskan waktunya berada dirumah keluarga Jenita dibandingkan dirumah nya sendiri.


Sinta yang berasal dari keluarga biasa saja tak pernah menganggap lebih. Dirinya hanya ingin bermain bersama Jenita dan membalas kebaikan kakek Jenita semasa hidupnya dulu.

__ADS_1


" Baik, Ma. Ohya nanti sepulang mengantarkan Jen, Sinta langsung ke kantor ya Mam. Jadi tidak kembali lagi ke sini." Gadis itu maju memeluk Lidia yang dipanggilnya mama. Lidia sendiri yang memintanya melakukan hal tersebut agar sama dengan Jenita.


"Iya, nanti kabari mama juga kalau kamu sudah kembali ke kantor. Dan jangan lupa untuk sering mengunjungi mama disini. Mama hanya punya kalian berdua, jadi kalian harus baik baik menjaga diri."


Anggukan kepala kedua gadis cantiknya membuat Lidia tersenyum. Keduanya meninggalkan rumah mewah tersebut dengan mobil yang dikendarai Sinta.


"Kali ini berapa lama kamu akan kembali ke sini?"


"Entahlah Sin, aku belum bisa memastikan. Seperti biasa saja, jika memang ada meeting penting yang mengharuskan kedatanganku segera beri tahu aku jauh jauh hari sebelumnya. Atau jika mendadak buat pengaturan agar meeting bisa dilakukan secara virtual saja. Karena aku tak begitu yakin akan mempunyai banyak waktu senggang belakangan ini. Toko sudah mulai menampakkan kemajuannya dan membutuhkan penanganan khusus baru bisa menjalankan segala management yang ku atur ulang." Jenita membuka Tabletnya.


Diperiksanya laporan yang dikirimkan oleh Marni dan juga Dira beberapa hari yang lalu. Gadis cantik itu tersenyum puas dengan kinerja keduanya yang terbilang sangat baik dan cekatan.


"Oh ya, kamu sudah berbicara dengan Andrian?" Sinta menoleh sebentar sebelum kembali fokus pada jalan didepannya.


"Sudah, dia bilang besok atau lusa baru bisa kembali ke kota C. Kemarin terpaksa menggantikan ayahnya yang sedang sakit karena pertemuan tersebut tak bisa ditunda."


Jenita menjawab namun tatapannya masih fokus pada tablet diatas pangkuannya.


"Aku nggak menyangka ternyata dia mempunyai latar belakang keluarga pembisnis."


"Apa lagi aku. Pantas saja dia selalu punya cara dan ide yang bagus untuk membuka peluang. Aku bahkan tak menyadarinya." Jenita mematikan Tabletnya kemudian menatap lurus kedepan. Senyum tersungging di bibir tipisnya yang membuatnya semakin terlihat cantik sebelum kaca mata super tebalnya di gunakan nanti.

__ADS_1


__ADS_2