
Sebuah mobil berwarna hitam dop masuk kepelataran toko. Jam sudah hampir menunjukan waktunya makan siang. Seorang lelaki tampan dengan kacamata bertengger dihidung mancungnya nampak keluar dari mobil. Tak hanya penumpangnya, bahkan sang sopir yang keluar lebih awal dan membukakan pintu untuknya nampak menawan.
Aldi dan Alex datang tepat di jam makan siang. Keduanya langsung masuk ke dalam toko. Ayu yang dulu sempat melihat keduanya datang kala Alex berniat membatalkan pertunangannya dengan Jenita nampak mulai berbinar. Setelah kepergian Andrian beberapa waktu lalu dirinya tak lagi mempunyai kesempatan untuk menjodohkan sang putri kepada chef tampan tersebut.
Dan sekarang dihadapannya hadir sosok yang sempurna membuat angannya melambung tinggi. Buru buru wanita itu melangkah mendekati Alex dan berusaha untuk menarik perhatiannya.
"Selamat datang, tuan. Ada yang bisa kami bantu?" Ucapnya dengan tersenyum manis semanis madu.
Bahkan Angia pun dibuat tercengang dengan perubahan suara Ayu yang biasanya sangat jauh dari kata ramah itu.
"Kami.." Aldi baru membuka mulutnya ketika ucapannya kembali dipotong oleh Ayu dan tak sedikitpun melirik kepadanya. Fokus Ayu hanya pada Alex yang diam tak bergeming dengan wajah dinginnya.
"Ah benar, sepertinya Dira bisa membantu tuan. Silakan tunggu sebentar karena saya akan Memanggilkannya untuk tuan." Ucapnya sambil berlalu pergi menuju lantai 2.
Alis Alex menukik tajam dengan senyum yang sedikit samar diujung bibirnya. Sementara Aldi hanya mengulum senyumnya. Dirinya tahu pasti sikap apa yang ditunjukkan bos nya itu.
Jenita turun bertepatan dengan Ayu yang datang dengan menarik lengan Dira bersamanya. Ketika langkah mereka berhadapan dengan sengaja Ayu menyenggol Jenita hingga gadis tersebut sedikit oleng. Kesempatan tersebut tidak disia siakan oleh Ayu untuk menarik sang anak agar cepat sampai di hadapan Alex yang masih berdiri diam disana.
"Tuan, ini anak saya Dira. Dia yang akan menemani tuan untuk memilih apapun yang tuan mau di toko ini. Dia juga lebih berpengalaman dari semua pegawai disini. Selain cantik dia juga cekatan dalam pekerjaan." Ucapnya tanpa tahu malu.
"Ma, apa apaan sih!!" Protes Dira namun tak direspon oleh Ayu.
"Sudah jangan membantah, kamu layani tuan ini." Lanjutnya sambil mendorong Dira agar lebih mendekat kearah Alex.
Jenita melangkahkan kakinya dianak tangga terakhir. Tatapannya tertuju pada Alex yang masih bergeming disana. Sementara Ayu melengos dan sedikit mencibir karena merasa menang. Alex tak menghindar kala Dira berhasil berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Sayang, kemarilah!!"
Alex mengulurkan tangannya pada Jenita yang masih terpaku disana. Bukan karena kelakuan Ayu dan adanya Dira disamping Alex. Namun Jenita mempertanyakan kehadiran lelaki tersebut di toko. Bukankah dia tak ingin orang tahu keberadaannya? kenapa malah muncul tanpa memberitahukan sebelumnya.
Ayu yang masih berada disana melotot tak suka. Dia masih menatap Alex tak percaya. Bukankah lelaki tersebut telah membatalkan pertunangannya? Atau Alex salah lihat?.
"Kenapa mendadak datang?"
Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari bibir Jenita. Alex mengulum senyumnya. Lelaki dingin tersebut memang sengaja tak memberitahu rencananya kepada Jenita. Selain dirinya ingin melihat langsung bagaimana wanitanya salah tingkah dengan pipi yang sudah merona. Dia juga memang ingin membuat kejutan untuk wanita cantik yang perlahan mendekatinya.
"Kau tak suka aku datang?" Alex berujar seolah kecewa.
"Bu.. bukan begitu." Jenita salah tingkah, dia benar-benar tak bermaksud begitu.
"Aku merindukanmu. Apa alasan itu cukup?" Alex menarik pinggang ramping tersebut mendekat.
Bersikap seolah didalam sana hanya ada mereka berdua. Aldi yang masih setia berdiri disamping bos tengilnya tersebut hanya menarik nafas panjang sambil menahan hatinya"Jomblo harus bersabar."
Alex membawa Jenita berlaku meninggalkan toko. Lelaki tersebut bahkan memeluk erat pinggang Jenita ketika melangkah pergi. Aldi mengangguk pelan kearah Ayu dan Dira yang masih mematung ditempatnya. Si@lan , umpatan tersebut keluar disertai hentakan kuat kakinya sebelum berlalu pergi.
Dira hanya menghembuskan nafas pelan melihat kelakuan sang mama yang tak pernah berubah.
"Baiklah, silakan istirahat dan makan siang. Namun toko harus tetap ada yang menjaga." Ucapnya demi menghilangkan canggung yang tercipta disana.
*
__ADS_1
*
*
Jenita mengerucutkan bibirnya sebal. Bagaimana tidak. Alex membuyarkan mimpinya untuk menikmati ayam goreng dengan sambal pedas dan lalapan segar. Lelaki tersebut bahkan tak menanyakan keinginannya, dan memilih masuk ke dalam sebuah restoran Chinese dan memesan berbagai olahan ikan dan seafood.
Bukan tanpa alasan Alex melakukannya. Lelaki yang ketampanannya makin terlihat kala tersenyum tersebut teringat dengan semua yang Anto ceritakan. Dirinya merasa sangat bersalah dan berniat untuk menebus kesalahannya dengan memberikan asupan gizi yang cukup untuk wanitanya.
"Kenapa cemberut, hem?" Benar-benar tak peka membuat Jenita harus menarik nafas dalam dalam.
Bahkan Aldi yang setia berada diantara keduanya sampai menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Seandainya memang Alex ingin memperbaiki gizi Jenita bukan berarti dirinya harus memesan banyak makanan setia kali makan. Namun lihatlah!! meja penuh dengan pesanan yang semua berbau ikan dan seafood. Padahal hanya mereka bertiga yang akan menikmatinya. Sungguh berlebihan!!
Namun Alex adalah Alex. Tak ada yang mampu mencegah segala kegilaannya. Bahkan Jenita pun harus menurutinya. Pada awalnya Jenita tertekan dengan segala sikap dan aturan Alex padanya. Namun seiring berjalannya waktu dan kedekatan diantara mereka membuatnya sedikit mengerti karakter dan sikap Alex.
"Yang itu, itu dan itu dibungkus saja ya. Aku nggak akan habis, setidaknya ada yang makan nanti." Alex mengangguk tak keberatan. Melihat Jenita menikmati makannya pun sudah cukup baginya.
Acara makan yang seharusnya hanya memakan waktu 1 jam berubah menjadi lebih lama karena Alex harus sedikit demi sedikit menceritakan rencananya. Namun tentu saja hanya sebagian yang ringan ringan saja tanpa memberitahu Jenita tentang kecurigaannya kepada orang yang dipanggil Paman oleh wanitanya. Nama Hermawan masih jadi hal yang harus ditutupinya hingga semua makin jelas dan terbukti. Paling tidak Jenita harus lebih berhati-hati lagi meski telah banyak yang melindunginya kini.
Sementara Ayunita yang merasa kalah lagi sedang meluapkan rasa kesalnya dengan mengomel tak jelas. Wanita tersebut tak habis pikir kenapa Jenita selalu bernasib baik. Bermula dari Eyang Sulastri yang memberikan warisannya, Chef Andrian dan sekarang seorang Alex yang merupakan pembisnis muda kenamaan. Ayu sangat tahu bagaimana kedua laki-laki tersebut mempunyai nama besar.
"Punya pelet apa sih gadis jelek itu sebenarnya, sampai semua orang memilihnya." Gerutunya sebal.
Siapa yang pakai pelet?" Ayu berjengkit, saking seriusnya dia sampai tak menyadari Hermawan masuk kedalam rumahnya.
"Siapa lagi kalau bukan si Jenita itu. Pasti dia pakai pelet sampai mereka mau dekat dengannya. Padahal jelas jelas waktu itu mama melihat dan mendengar sendiri bagaimana Alex meminta membatalkan perjanjian pertunangan mereka. Tapi tahu nggak pa? hari ini Alex datang dan manggil sayang. Pasti ada apa apanya, kan aneh pa." Ungkapnya menggebu.
__ADS_1