DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 14


__ADS_3

Dari hari ke hari toko mengalami kemajuan yang pesat. Bahkan Jenita menambah karyawan untuk ditoko utama maupun rumah produksinya yang hanya menerima pesanan via online saja. Keberadaan Mirna dan Dira sedikit banyak membantunya kini.


Dira yang kemudian di fokuskan untuk bertanggung jawab di toko utama lebih banyak menghabiskan waktunya disana. Gadis itu menjadi lebih giat dan semakin dekat dengan Jenita. Walaupun Ayu selalu marah dan melarang nya namun Dira tak punya alasan untuk menjauhi Jenita bahkan untuk merusak usaha yang menurutnya memang semakin baik dari sebelumnya.


Dari Jenita pula, Dira belajar artinya menghargai dan selalu tersenyum dalam menghadapi berbagai masalah. Seperti siang ini, dikala bos besar baru pulang dari luar kota dan bisa dipastikan mereka akan langsung beristirahat. Namun lain hal nya dengan Jenita. Gadis itu sibuk menyapa karyawannya dan memberikan oleh-oleh pada mereka secara pribadi. Belum lagi kehadirannya tepat disaat ada salah seorang pelanggan yang menanyakan banyak hal yang berbelit belit hingga membuat para karyawan kewalahan menjawab termasuk Dira. Jenita menanggapi dengan santai dan masih tersenyum walau ibu ibu tersebut sudah menarik urat padanya.


Hanya membutuhkan sedikit waktu ketika Jenita yang turun tangan sendiri. Wanita yang tadi melotot tajam pada semua orang ditoko itupun melenggang pergi dengan senyum yang sedikit lebar. Bagaimana tidak, dia mendapatkan apa yang diinginkannya secara GRATIS bahkan mendapatkan bonus tambahan.


Jenita hanya tersenyum lucu dengan kelakuan pelanggannya. Tak dapat dipungkiri, semakin maju usaha maka akan semakin banyak pula kendala yang terkadang datang menerpa.


"Semua sudah selesai, dan minta tolong ya. Tadi saya membawa beberapa oleh-oleh dari rumah untuk di bagikan. Nah berhubung ada beberapa karyawan baru dan saya belum tahu maka untuk itu saya minta tolong bantuannya, agar semua rata dapat bagian." Ucapnya seraya tersenyum kecil.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Kenapa dikasih gratis malah di bonusin lagi. Kan lama lama bisa ngelunjak dia itu."


Dira yang mengikuti langkah Jenita masuk ke dalam ruangannya masih menggerutu kesal.


Bagaimanapun dirinya juga mendapat semprotan dari wanita itu yang entah apa maunya.


"Dia memang sengaja membuat keributan. Jadi dari pada diladeni dan berbuntut panjang lebih baik membungkamnya. Dengan begitu tak akan ada banyak drama yang dia lakukan lagi setelahnya. Dengan membuat dia pergi paling tidak kita bisa menciptakan suasana yang aman buat pengunjung lainnya. Dengan begitu kita bisa memikirkan cara untuk menghadapi yang demikian itu jika suatu saat muncul lagi." Jenita mendudukan dirinya di sofa dan meminum jus jeruk yang sempat diambilnya tadi sebelum naik ke lantai atas.


Dira terdiam menatap Jenita yang hanya tersenyum sambil meminum jus jeruknya. Gadis cantik itu bahkan membuka kaca mata nya dan mengusap peluh yang menetes di dahinya. Seolah tak pernah terjadi apapun sebelumnya.


"Kenapa kamu memakai kaca mata? kenapa tak memakai lensa saja. Bukankah itu terlihat lebih bagus?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin memakai ini. Menggunakan lensa agak sedikit merepotkan buat ku. Aku lebih suka yang simpel aja." Jenita masih tersenyum dan menggedikkan bahunya pelan.


Dira hanya menggeleng namun kemudian memilih diam. Semakin lama dirinya semakin mengetahui banyak hal yang menarik tentang Jenita. Gadis itu nampak sederhana dan hanya melakukan hal yang menurutnya simpel. Namun bagi Dira semua yang dilakukan Jenita adalah hal yang luar biasa.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Pesanan via online semakin membludak dari hari ke hari. Marni yang biasanya hanya menghandel pesanan saja kini harus ikut turun tangan mengemas bahkan membuat adonan jika semua tenanga yang berada disana sedikit kewalahan.


Jenita tentu saja puas dengan hasil kerjanya dan dengan kesigapan para karyawannya. Di toko utama yang khusus melayani pengunjung yang secara langsung pun nampak tamu mulai naik dari bulan bulan sebelumnya.


"Mbak, hari ini sama besok ada pesanan bolu dan kue kering sedikit banyak. Ada sebuah perusahaan katering yang sedang menghandel acara pernikahan. Namun karena mereka kewalahan dengan snacknya maka mengajukan bolu dan kue kering dari toko kita mbak. Beruntungnya pihak yang berkepentingan setuju."


Marni dengan antusias menunjukan beberapa nota pesanan untuk seminggu ke depan.


Jenita mengernyitkan dahinya. Sedikit aneh namun tak ada curiga sedikitpun dalam benaknya. Mungkin si pemesanan ingin berkenalan dengannya secara langsung, pikirnya kemudian.


"Tadinya saya sudah beralasan kalau mbak Jen lagi keluar kota tapi dia tetap memaksa dan tidak mau bernegosiasi dan tetap keukeh mau mbak yang mengantarkannya." Marni melanjutkan ucapannya, sedikit was was takut Jenita akan menyalahkan dirinya nanti.


"Nggak apa apa mbak. Biar besok Jen yang antar langsung, Mbak kasih tahu saja jika pesanan nya sudah siap."


"Syukurlah, kalau mbak Jen bersedia. Saya bingung karena orangnya sedikit memaksa." Marni tersenyum kecil.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Total ada 5 box yang akan Jenita antarkan siang ini. Alamat sudah tertera dengan rapih di dalam ponselnya yang dikirimkan Marni beberapa saat lalu.

__ADS_1


Dengan mengendarai mobilnya Jenita berangkat mengantarkan pesanan sendiri demi menghargai keinginan pelanggan nya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima puluh menit barulah dirinya sampai ke sebuah rumah yang tidak begitu besar namun terlihat sedikit tak terurus.


Tanpa menaruh curiga Jenita memencet bel yang terdapat di depan gerbang yang tak terlalu tinggi itu. Memencet ke dua kalinya barulah nampak sesosok lelaki baya membukaan pintu untuk nya. Dengan ramah Jenita menyebutkan tujuannya datang ke rumah tersebut.


Lelaki itu mengatakan jika cucunya sedang sakit dan dia menginginkan bolu yang dijual di toko eyang. Namun cucunya tersebut juga ingin bertemu secara langsung dengan Jenita karena dirinya kagum pada sosok Jenita.


Setelah berbasa-basi sejenak, lelaki baya tersebut mengajak Jenita untuk masuk. Perlahan Jenita melangkahkan kakinya mengikuti lelaki baya yang berjalan di depannya. Halaman rumah yang kotor dan juga terlihat beberapa bagian bangunan yang sedikit rusak pada awalnya membuat Jenita mengurungkan niatnya. Namun mengingat cerita lelaki baya yang nampak tersenyum padanya tersebut membuatnya kembali melangkah dan menepis keraguan dalam hatinya.


"Bapak hanya tinggal berdua dengan cucu nya di sini?"


"Nggak, banyak orang dan mungkin sebentar lagi juga datang." Jawab lelaki tersebut masih terus melangkah.


Namun tak berapa lama seseorang memukul tengkuk Jenita hingga membuat gadis itu tak sadarkan diri. Seorang laki-laki menangkap tubuh Jenita yang pingsan sementara lelaki baya tadi mengikat tangan dan kaki Jenita. Tak lupa keduanya melakban mulut Jenita dan menutup matanya dengan kain yang diikat kuat.


"Tahan dulu disini, aku mau memindahkan mobilnya ke dalam." Ucap lelaki baya tersebut seraya berjalan keluar dan memindahkan mobil Jenita.


Meninggalkan mobil Jenita dihalaman rumah itu.Keduanya membawa tubuh Jenita masuk ke sebuah mobil yang sudah terparkir tak jauh dari tempat mereka. Lelaki baya yang tadi berbincang dengan Jenita melepas wig berwarna putih dan kumis palsu yang dipakainya. Sosok Pria muda dengan tubuh kekar nampak di balik dandanan yang sengaja dibuat seperti lelaki baya untuk mengelabui Jenita.


Mobil masuk kedalam sebuah gudang yang nampak kosong. Sudah ada beberapa orang disana yang memang sudah menanti kan kedatangan ketiganya.


"Bos besar ada?" Tanya lelaki bertubuh kekar itu kepada rekannya ketika telah turun dari mobil.


"Bos sedang ada urusan. Dia hanya menyuruh kita untuk menjaga wanita itu. Dan membiarkan nya disekap di dalam."


Lelaki itu mengangguk kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan membopong tubuh Jenita masuk ke dalam gudang.

__ADS_1


__ADS_2