DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 64


__ADS_3

Jenita tersenyum menatap lelaki tampan yang sedang berjalan ke arahnya. Perasaan bahagia itu nyata dia rasakan. Alex mampu memberinya rasa nyaman dan aman. Dibalik sikap tegas dan juga kerasnya Alex adalah lelaki yang benar-benar bertanggungjawab.


"Kok nggak kasih tahu kalau mau datang."


"Sengaja sayang, aku rindu."


Alex meraih tubuh gadis yang memang sangat dirindukannya. Sudah sejak kemarin dirinya datang, namun Alex menahan rasa rindunya demi untuk mengerjakan sesuatu yang dirasa lebih penting terlebih dahulu. Meski Jenita adalah hal terpenting baginya saat ini. Namun kebahagiaan gadis itu juga keselamatannya adalah yang utama.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


Jenita yang berada dalam pelukannya mendongak dan menatap Alex penuh tanya. Namun gadis tersebut tak lagi banyak bicara seperti sebelumnya. Jenita sadar sesadar sadarnya tentang dirinya dan juga orang-orang disekelilingnya.


Berhati-hati dalam segala hal sangat diingatnya saat ini. Anggukan kepala dengan cepat diberikannya dengan senyum yang semakin mengembang. Hingga sebuah kecupan mendarat di keningnya barulah Jenita mengurai pelukannya.


Keduanya melangkah keluar dari toko. Masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Rendi. Tak ada pembicaraan selama perjalanan yang terjadi antara ke tiga orang tersebut. Mobil nampak tenang dengan hanya memperdengarkan suara deru mesin serta klaksonnya saja. Hal itu berlanjut hingga mobil yang mereka tumpangi keluar dari kota C.


Jenita yang semula diam mulai bergerak mengubah posisi duduknya hingga sedikit serong seraya menatap sang kekasih yang duduk disebelahnya dengan ponsel yang sedang menyala.


Benda pipih yang menjadi fokus Alex pun perlahan berpindah seiring dengan sang pemilik yang menyadari jika dirinya sedang ditatap tajam.


"Kenapa?" dahinya mengernyit sambil menatap ke arah Jenita.


"Kita mau kemana?"


"Kota D."


"Ngapain?"


Alex tak menjawab namun direngkuhnya bahu sang kekasih hingga menempel padanya. Diciumnya puncak kepala Jenita lembut. Alex belum bisa merangkai kata yang tepat untuk memberitahukan kepada sang kekasih tentang keberadaan ayah gadis itu yang ternyata masih hidup.


"Aku tak bisa menjawabmu sekarang, sayang. Setelah sampai nanti kamu akan tahu semuanya, Hem."

__ADS_1


"Nggak ada masalah serius kan?" Jenita mendongakkan wajahnya menatap mata elang yang berada dihadapannya itu.


"Tidak." Jawaban singkat keluar dari bibir Alex namun tidak dengan hatinya. Lelaki itu berharap apa yang dia janjikan pada Jenita benar-benar terjadi dan tak akan pernah lagi ada masalah dikemudian hari untuk mereka. Namun semuanya tentu tak akan mungkin terjadi mengingat hal itu sudah berlangsung sangat lama.


Mobil terus melaju membela jalan. Setelah menempuh waktu selama kurang lebih 3 jam Mobil tersebut masuk ke dalam sebuah basement rumah sakit.


Meski masih diliputi rasa penasaran yang tinggi. Jenita masih mengunci mulutnya agar tak bertanya. Genggaman tangannya mengerat pada lengan Alex.


Ketiganya masuk ke dalam lift yang langsung membawa mereka ke lantai teratas rumah sakit tersebut. Ketika pintu lift terbuka nampaklah disana wajah Anton dan beberapa orang anak buah Alex menyambut.


Seperti biasa, Alex akan terus berjalan dengan wajah datarnya. Setelah membalas sapaan Anton dan orang-orang yang ada di sana Jenita mengedarkan pandangan dan terlihat sang mama yang tengah tersenyum dengan kedua tangannya terentang menyambut kedatangan sang putri.


Nampak ke dua orang tua Alex tengah berdiri tak jauh dari sang mama membuat Jenita semakin dilanda rasa penasaran yang kuat.


"Ma."


"Bagaimana kabarmu, sayang." Lidia memeluk erat tubuh Jenita. Putri kecilnya telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan tangguh. Lidia tentu berbangga diri karena sang putri terlahir dengan jiwa seperti sang ayah juga kakeknya. Tak seperti dirinya yang hanya bisa mengurung diri dan menyerah.


"Om, tante." Jenita beralih kepada kedua calon mertuanya. Setelah bersalaman dan saling memeluk mereka membawa Jenita masuk ke dalam ruang perawatan diikuti Alex dibelakangnya.


*


*


*


Untuk pertama kalinya Dira meninggalkan ruko. Gadis itu mengatakan jika dirinya merindukan sang mama. Setelah berpamitan pada semuanya Dira pergi ke rumahnya yang memang letaknya tak begitu jauh dari ruko. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai kesana.


Rumah dua lantai dengan chat berwarna kuning gading tersebut nampak sepi. Berada tepat di samping belakang rumah mewah eyang Sulastri yang hanya dibatasi oleh tembok dan beberapa pohon rindang.


Dira melanjutkan langkahnya memasuki rumah tersebut. Dalam garasi masih terlihat mobil Hermawan terparkir dengan rapih.

__ADS_1


Lelaki baya tersebut nampak terlelap di dalam kamar hingga tak menyadari kehadiran sang putri yang telah berdiri disebelahnya. Gadis itu menatap sebentar wajah sang papa sebelum kembali berlalu.


Entah apa yang dilakukan Dira kali ini karena hanya memerlukan waktu tak kurang dari 20 menit gadis tersebut sudah kembali keluar dari rumahnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Jenita baru saja tersadar, gadis itu mengernyapkan matanya. Melihat sekeliling dengan tatapan nanar. Jantungnya berdegup dengan kencang.


Alex melangkah mendekat dan mengelus rambut gadis cantik tersebut dengan sayang. Isak tangis kembali terdengar, bukan karena kesedihan namun tangis bahagia yang tak bisa terucapkan.


"Sayang, maaf." Alex benar-benar merasa bersalah dengan apa yang terjadi namun dirinya memang harus memastikan semuanya terlebih dahulu sebelum memberikan harapan pada gadis cantik tersebut.


"Sudah lama?"


"Kurang lebih dua bulan yang lalu. Kami menemukannya di rumah pribadi milik kedua orang tuamu. Saat menemukannya kami belum yakin jika itu beliau, oleh kerenanya aku memilih untuk merahasiakan semuanya lebih dulu. Kemudian aku memberikan semua urusan tentang beliau kepada papa."


Alex mengeratkan pelukannya.


"Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Sudah stabil, sayang. Hanya tinggal menunggu waktu pemulihan. Berdo'alah agar semua baik baik saja. Kita temui beliau ya?"


Jenita mengangguk, keduanya berjalan menuju ruangan dimana Ikbar dirawat. Di sana masih ada Kuncoro dan Winarni. Sedangkan Lidia nampak sedang berbicara dengan Ikbar meski lelaki tersebut menjawabnya dengan lemah. Namun rona kebahagiaan terpancar dari ke dua wajah pasangan baya yang telah terpisah lama tersebut.


Kuncoro berdiri dari duduknya dan menyambut putra dan calon menantunya yang baru masuk. Tak ada kata yang terucap dari mereka namun Kuncoro mempersilahkan Jenita untuk mendekat ke arah kedua orang tuanya. Sementara Alex masih terdiam ditempatnya.


"Tuan muda." Anton mendekat dan berbisik di telinga lelaki tampan dengan tatapan tajam tersebut.


"Pa, Alex keluar sebentar. Tolong kasih tahu Jen nanti kalau dia bertanya."


"Kamu jangan khawatir. Berhati-hatilah, jangan lupa kabari papa apapun yang terjadi." Kuncoro menepuk pelan bahu putra kebanggaannya tersebut. Putra yang sempat beberapa waktu lamanya menentangnya kini telah kembali dan Kuncoro parut berbangga diri dengan apa yang telah diraih oleh putra semata wayangnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2