DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 12


__ADS_3

Fakta mengejutkan Claudia dapatkan dari buku harian mendiang Ikbal, papanya. Dari sana Claudia mengetahui adanya cinta segitiga antara Ikbal, Lidia dan juga Hermawan. Perlahan bulir air mata menetes di pipinya yang mulus. Claudia tak mampu berkata-kata, disana tertulis dengan jelas betapa sang papa merasa sangat bersalah kepada Hermawan.


"Jadi, mereka?"


Lidia tak pernah sekalipun menyinggung kisah masa lalunya. Bahkan mungkin mendiang kakeknya juga mengetahui hal tersebut dari buku harian peninggalan Ikbar.


Perjodohan yang dilakukan dahulu membuat Lidia dan Hermawan yang kala itu tengah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih harus berpisah dengan terpaksa. Yang lebih menyakitkan kala itu ketika mereka mengetahui dengan siapa Lidia di jodohkan. Bahkan, baik Ikbar dan Lidia berusaha keras untuk menolak perjodohan tersebut namun tetap saja mereka tak kuasa.


Goresan demi goresan tinta yang sudah mulai memudar itu nampak jelas menggambarkan betapa seorang Ikbar merasa bersalah atas semua yang terjadi.


Claudia menutup buku harian usang tersebut ketika mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Diusapnya air mata dipipi dan menarik nafas berulang kali demi mengusir sesak yang menguasainya beberapa saat yang lalu.


Tok tok tok


"Jen!!"


"Ya ma, sebentar lagi Jen keluar."


Claudia menoleh sesaat ke arah pintu yang terbuka dengan sosok wanita cantik yang tersenyum simpul di sana. Sebuah buku besar menjadi alasan Claudia kali ini demi membuat mamanya tak melihatnya menangis. Beruntung nya, semua penghuni rumah tahu bahwa Claudia mempunyai hoby membaca sejak kecil hingga hal itu tak menimbulkan pertanyaan dari sang mama.


"Jangan terlalu lama ya sayang, nanti makanannya keburu dingin. Usai makan baru dilanjut lagi bacanya." Wanita itu masih tersenyum walau hanya anggukan kepala yang didapatnya dari sang putri.

__ADS_1


Lidia berlalu setelah kembali menutup pintu perlahan. Meninggalkan Claudia yang menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa dan mengatur nafas nya yang sesak. Di tatapnya buku harian sang ayah dengan tatapan nanar. Dia sembunyikan buku tersebut diantara buku lainnya sebelum bergegas keluar menyusul sang mama yang telah lebih dulu berlalu.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Makan siang berakhir dengan habisnya makanan yang terhidang di atas meja. Ayam kecap yang menjadi makanan kesukaan Claudia sejak kecil habis tak bersisa. Dia yang memang selalu menyukai setiap masakan buatan sang mama.


"Nanti malam mau dimasakan apa, nak?"


"Apa saja, masakan mama pasti aku makan habis. Yang penting ini ayam kecap kesukaanku sudah dimasak." Claudia bergelanyut manja di lengan sang mama yang sedang mengupas buah jeruk.


Keduanya melanjutkan bercerita di ruang tengah. Dimana ada kolam ikan didalam ruangan yang luas tersebut. Kolam ikan peliharaan mendiang kakeknya masih terawat dengan baik. Kenangan masa kecilnya terlintas dalam benak Claudia. Hingga senyum kecil tercipta di sudut bibirnya yang tipis.


"Teringat masa lalu ma, saat Jen masih kecil. Di kolam ini dulu Jen suka menghabiskan waktu bersama kakek. Saling mengejar dan tertawa bersama. Rasanya baru kemarin namun kakek sudah mendahului kita disana."


Lidia mengelus pundak Claudia lembut. Dia yang hanya tinggal seorang diri dirumah besar tersebut dengan hanya ditemani beberapa pekerja saja sudah tentu merasakan kesepian dan merindukan hal hal yang dulu indah.


"Ma, boleh Jen bertanya sesuatu?"


Gadis itu merebahkan kepalanya di pangkuan sang mama. Terasa nyaman dan tak ada duanya. Dirinya yang sejak kecil hanya memiliki mama dan kakek tentu sangat hafal dan sering bermanja di sana. Terkadang, Claudia kecil merasa iri jika melihat temannya sedang bermain atau bercanda dengan papanya. Dirinya tak bisa merasakan itu, karena lelaki kebanggaannya tersebut telah berpulang diwaktu dirinya masih terlalu kecil. Tak ada bayangan sedikitpun yang Claudia ingat tentang sosok papa.


"Soal?"

__ADS_1


"Papa.Jen ingin tahu semua tentang papa, ma. Sudah 24 tahun dan rasanya sudah waktunya buat Jen tahu semua tentang papa dan juga masa lalu kalian."


Elusan di kepala Claudia terhenti, wanita itu sedikit kaget dengan permintaan putrinya. Sejak menginjak umur 13 tahun. Claudia tak hentinya meminta sang mama untuk menceritakan sosok Ikbar. Gadis itu ingin lebih mengenal sang papa walau hanya lewat cerita. Namun, baik Lidia maupun sang ayah tak pernah mau menceritakan apapun kepada Claudia. Dengan alasan jika putri kecilnya masih belum cukup umur untuk mengerti. Yang mereka katakan hanyalah bahwa Ikbar sangat mencintainya dan selalu menyayangi nya.


Claudia mengubah posisinya menjadi duduk. Di tatapnya wajah sang mama penuh harap. Banyak hal yang berputar dalam otak nya. Claudia yang tumbuh menjadi gadis cerdas sedikit bisa menarik kesimpulan dengan membaca sebagian coretan sang papa. Dirinya hanya memerlukan kepastian dari mamanya untuk mengaitkan analisa otaknya.


Wajah sang mama yang selalu tersenyum diyakininya menyimpan banyak cerita yang luar biasa. Entah itu cerita suka maupun sedih. Claudia hanya ingin sedikit membuat Lidia terbuka agar apa yang mengganjal dalam hatinya dapat berkurang meski hanya sedikit.


Senyum itu terlihat walau sangat jelas penuh dengan keterpaksaan. Lidia mengajak putrinya masuk ke dalam kamarnya. Disana nampak foto nya bersama mendiang Ikbar yang lumayan besar tergantung di dinding kamar. Foto dengan senyum yang terukir di bibir ke duanya.


Claudia menutup pintu dengan perlahan. Dibiarkan nya sang mama yang masih berdiri menatap foto dirinya dan sang suami.


"Mas, liatlah!! putri kita sudah besar. Dan mas tahu apa yang dia inginkan sekarang?. Dia menuntut ku untuk bercerita tentang kita ah tidak dia hanya ingin tahu tentang kamu mas, tentang papanya. Aku rasa ini juga sudah saatnya baginya mengetahui semuanya. Aku tidak ingin ada kesalah pahaman lagi." Terlihat Lidia menarik nafas dalam namun senyum muncul diwajahnya.


Dibalikan badannya menghadap sang putri sebelum akhirnya wanita cantik itu mengulurkan tangannya, meminta putri cantiknya mendekat. Dengan memilih duduk di sofa yang terdapat di kamar tersebut. Lidia perlahan membuka sebuah kotak yang diambilnya dari koper kecil yang disimpan diatas lemari.


Diusapnya pelan kotak tersebut sebelum dibuka secara perlahan. Sebuah album foto terlihat disana. Terpampang dengan nyata wajah Ikbar yang sedang tersenyum dan memeluk Lidia dari belakang. Nampak juga beberapa pose mesra mereka berdua di dalam kumpulan foto dalam album tersebut. Beberapa kali Claudia mencoba menajamkan penglihatannya, ada yang sedikit aneh dengan foto foto tersebut dan Lidia pun mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh sang putri.


Album terakhir dikeluarkannya dan disana nampak kebersamaan antara Ikbar, Lidia dan Hermawan.


"Papa kamu adalah orang terbaik yang pernah mama temui. Mama sangat bangga bisa menjadi bagian dari dirinya. Tak ada penyesalan sedikitpun untuk itu."

__ADS_1


__ADS_2