DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
.... ....


__ADS_3

Perjalanan di lanjutkan kembali setelah Yong Mei merasa tenang. Kini ksatria pria yang ditunjuk Yong Lanmei untuk memantau perjalanan sang nenek demi keamanan dan keselamatan mereka tampak mengikuti dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ksatria pria tersebut mengikuti dengan cara bersembunyi dari orang yang sekiranya tidak dapat menemukan keberadaannya.


Yong Jun merasa ini sungguh kejadian yang janggal. Selama melakukan perjalanan ke kuil atau ke tempat mana pun itu, tidak ada yang sengaja menghadang perjalanan apalagi para pembunuh bayaran. Rasanya perjalanan ini hanya di ketahui ayahnya serta pelayan kediaman Yong saja, tetapi pemikiran kecil terlintas. Apakah ada hubungannya dengan Lu Hairan atau wanita yang disebut nona Chen itu yang mana baru di bawa oleh sang ayah masuk ke kediaman Yong baru-baru ini.


Yong Mei sendiri tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya. Sesekali hanya dapat mendengar helaan nafas dirinya. Yong Mei berkomat-kamit melafalkan doa tanpa henti selama perjalanan yang mana di tangan kanan nya terdapat tasbih yang tidak pernah berhenti bergulir. Para pelayan yang ikut dalam perjalanan kali ini hanya diam namun merasa was-was dengan jantung berdegup kencang. Tidak dapat di pungkiri bahwa mereka juga merasa takut walau dalam urutan termasuk pelayan senior dalam tingkatannya. Mereka masih ingin pulang dengan selamat demi bertemu keluarga di rumah yang masih menunggu kepulangan mereka apalagi anak-anak mereka. Para pelayan berusaha tenang ketika melihat sang majikan duduk tenang tanpa terusik dengan kejadian yang baru saja mereka alami. Walau pun begitu kini perjalanan kembali aman dan telah sampai di depan kuil yang dituju sebagai tempat teraman sementara untuk sang nenek, Yong Mei.


Kembali pada pembunuh bayaran yang sempat melarikan diri. Kini tampak dirinya sedang duduk bersimpuh di hadapan seorang wanita. Tampak wajah muram sang wanita ketika mendengar kegagalan mereka bahkan dari lima pembunuh bayaran yang handal hanya tersisa seorang saja yang mana kini tengah dihadapannya masih duduk bersimpuh dengan menahan gemetaran hebat pada tubuhnya. Pembunuh bayaran tersebut merasa marah karena teman-temannya harus mati di depan matanya dan kini kondisi didepan matanya sedang sulit jika-jika dirinya malah akan dibunuh sang tuan. Pembunuh bayaran tersebut merasa putus asa dan pasrah jikalau dirinya harus menyusul para temannya di akhirat. Itu lebih baik daripada harus disiksa terlebih dahulu dengan cara yang tidak manusiawi.


" Bodoh, kenapa bisa serangan kalian gagal bahkan kalian sampai meninggal hingga menyisakan kau seorang?."

__ADS_1


" Ampun tuan, awalnya kami dapat memukul mundur hingga mendesak sang pemuda yang kiranya cucu dari wanita yang berada di dalam tandu. Namun tiba-tiba datang bantuan seorang ksatria pilihan yang sepertinya di latih secara khusus."


" Dasar kalian saja yang tidak berkompeten, masih saja mengelak dan menutupi kekurangan-kekurangan kalian yang gagal dan tidak mengakui kemampuan kalian sendiri yang lemah..."


" Tuan ..." pria tersebut menahan amarah dengan gigi yang gemeletuk ketika ada yang menghina usaha mereka bahkan nyawa temannya harus melayang akibat orang yang berdiri di hadapannya saat ini. Namun apa yang terjadi bukan susah-susah menghibur malah semakin membuat hati marah dengan fakta yang ada. Sang tuan hanya memanfaatkan kekuatan mereka dan kini setelah tidak berguna malah di buang layaknya sampah. " Habis manis sepah dibuang" sepertinya sesuai dengan ungkapan tersebut.


Sang wanita yang melihat ekspresi pria dihadapannya merasa jijik dan tidak sabar lagi sehingga dalam satu pukulan langsung tergeletak dengan bersimbah darah tanpa sempat berteriak satu kata pun yang terucap dari pria pembunuh bayaran tersebut.


" Dasar manusia-manusia sampah yang tidak berguna. Sia-sia aku merawat mereka bahkan melakukan tugas sekecil itu saja gagal. Apa aku harus turun tangan secara langsung, baru bisa menyalurkan dendam yang ku pendam selama ini. Lalu apa guna nya mereka jika aku harus terjun langsung dalam misi balas dendam ku."

__ADS_1


" Tidak tidak tidak, baiklah mungkin ada seseorang di balik layar yang telah dapat membaca pergerakan ku ini sehingga dapat menggagalkan serangan ku yang telah terencana dengan baik. Tapi siapakah sosok tersebut?"


" Aku harus segera mencari tahu orang yang telah merusak rencana ku, jika di biarkan berlarut-larut maka balas dendam ku akan gagal. Sudah lama aku menanti hari dimana Yong Yan akan merasakan rasanya kesedihan yang bertubi-tubi di depan matanya sendiri."


" Sial sekali hari ini, ibu Yong Yan selamat. Huh andai bisa langsung membunuh mereka tidak perlu menunggu lama hingga harus satu persatu ku bereskan seperti ini. Jika pak tua Yong ada disini dengan mudah rencana balas dendam ku bisa selesai. Sayangnya Pak tua itu kini berada jauh di perbatasan timur yang terpencil dan terpelosok jauh dari kota. Huh menyebalkan...."


Wanita tersebut terus menerus menggerutu seorang diri.


Disisi lain Yong Lanmei telah mendengar bahwa memang telah terjadi penyerangan sesuai dugaannya untuk menghalangi sang nenek bahkan mengincar nyawa sang nenek. Yong Lanmei telah menduga sebelumnya pelaku serta pergerakan yang akan di ambil olehnya. Bahkan jika gagal sekalipun setidaknya Panji peperangan telah dikibarkan oleh orang itu guna terus menerus memprovokasi secara diam-diam bahkan secara terang-terangan sekalipun.

__ADS_1


Yong Lanmei merasa harus meningkatkan kekuatannya sesegera mungkin dan merekrut para bawahan yang handal guna membantu jalannya kelak. Yong Lanmei terpikir dengan satu nama yang dapat membantunya yaitu " Raja Ye". Saat ini hanya sekedar angan-angan terlebih dahulu untuk menemui Raja Ye sebab dirinya terus menerus di sibukkan oleh pelajaran akademi yang tidak mungkin di abaikan begitu saja.


__ADS_2