DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 57


__ADS_3

Menatap tak percaya wajah lelaki yang sedang terbaring lemah di hadapannya itu. Lidia berulang kali menyeka air matanya. Entah bagaimana dirinya akan meng expresikan segala rasa yang bergejolak dalam hatinya saat ini. Senang, sedih, terluka dan sakit semua terasa bercampur dalam aliran darahnya. Bahagia, kecewa dan juga kesal hadir dalam waktu yang bersamaan.


Siapa yang bisa disalahkan dengan waktu yang telah berlalu?


Wajah yang tak lagi muda dengan tubuh yang penuh dengan bekas luka. Mata yang menghitam dan juga pipi yang sudah tak lagi bisa dicubit nya kini tergolek nyata di hadapannya. Lelaki tampan yang memenuhi relung hatinya selama bertahun-tahun menjadi sosok yang lemah tanpa daya. Bahkan rambutnya pun telah memutih melebihi dari umur yang seharusnya.


Meski begitu Lidia masih mengenali wajah tersebut. Hatinya masih berdebar kencang meski hanya berdekatan saja. Dan yang lebih menyakinkanya adalah tanda lahir di pengan kanannya. Berupa kulit dengan warna sedikit lebih gelap dari kulit disekitarnya.


Lidia masih berdiam diri menatap sang pujaan hati dengan sebelah tangannya telah digenggam. Lidia bahkan menyeka keringat yang keluar di dahi sang suami pelan. Lelaki itu belum sadarkan diri hingga kini.


Dehidrasi yang dialaminya cukup parah ditambah lagi obat obatan yang di suntikan kepadanya dalam jangka waktu yang lama membuat kinerja ototnya lambat berfungsi.


"Istirahatlah, sejak datang kau belum beristirahat. Makan dulu dan istirahatkan tubuhmu meski sebentar. Setidaknya saat dia sadar kau masih dalam keadaan sehat."


Lidia hanya menatap ke arah Kuncoro tanpa berniat menjawabnya. Dia ingin disana berada disamping suaminya yang entah sampai kapan baru bisa tersadar.


Kuncoro mendesah pelan, Lidia memang keras kepala namun dirinya harus tetap bersabar. Bagaimanapun dirinya memahami bagaimana kondisi pasangan tersebut. Saling mencintai namun dipaksakan untuk berpisah hingga puluhan tahun lamanya.


"Jika kau tak ingin beristirahat, sebaiknya kau makan dulu, Lid. Kau bisa makan disini sambil mengawasi suamimu." Bujuknya yang kemudian mendapat respon sebuah anggukan oleh Lidia.

__ADS_1


Dua bungkus nasi sudah ada diatas meja. Kuncoro yang memang berniat untuk menggantikan Lidia berjaga juga menyiapkan nasi untuk dirinya sendiri.


"Kita makan!!"


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Heboh pemberitaan tentang asal usul Jenita menggemparkan bukan hanya di kota S. Namun hal tersebut terdengar hingga ke kota C tempat dimana toko yang Jenita warisi berada.


Sebagian masyarakat tentu saja terkejut dengan berita tersebut. Apalagi bagi orang-orang yang selama ini hanya mengenal Jenita sebagai seorang pengusah bidang kuliner dengan kue bolu sebagai ciri khasnya.


Adapula yang meragukan kemampuan Jenita yang terkenal sebagai Ceo Claudia yang cantik dan anggun bisa membuat penganan apalagi bolu. Berbagai foto tentang Jenita ataupun Claudia beredar dan namanya merebak mengalahkan artis papan atas yang sedang naik daun.


Nama Lidia dan Ikbar pun kembali mencuat, demikian pula dengan nama eyang, dan keluarga Kuncoro seusai pernyataan Alex yang menegaskan adanya hubungan diantara dirinya dan Jenita.


"Kau senang?"


Keduanya sedang berada di dalam kantor tepatnya di ruangan Jenita. Gadis cantik tersebut kembali memimpin perusahaan yang beberapa bulan terakhir diambil alih oleh Alex.


"Rasanya seperti terbebas dari tempat yang pengap dan menghimpit. Sekarang aku bisa jadi diriku sendiri sebagai Jen ataupun Claudia. Aku tak perlu lagi merubah mimik wajah dan karakter ketika harus tampil sebagai salah satu nama itu karena keduanya adalah aku." Senyumnya semakin lebar.

__ADS_1


"Makasih Lex, semua berkatmu. Aku tak akan bisa sampai ketitik ini tanpa bantuan darimu."


"Hem."


Hanya sebuah deheman yang terdengar dari bibir Alex dan itu sudah biasa Jenita dengar. Dia tak marah apalagi tersinggung karena lelaki yang sedang menyelipkan rambutnya dibalik telinganya itu memiliki sifat dan karakter yang berbeda dengan lelaki lain.


Alex adalah Alex. Yang selalu cuek, datar, tegas namun memiliki perhatian yang besar. Di rebahkan nya kepalanya ke dada bidang yang selalu hangat mendekapnya. Jenita menemukan ketenangan disana. Alunan detak jantung yang seirama memberikan kenyamanan padanya. Tumbuh besar tanpa pernah merasakan dekapan seorang ayah membuat Jenita sangat merindukan hal ini. Baginya dekapan hangat Alex bisa menghadirkan kembali kenangannya bersama mendiang sang kakek.


"Akan banyak konsekuensi yang harus kamu lalui setelah ini. Kau harus kuat, yank." Alex mencium lembut puncuk kepala Jenita berulang-ulang. Tak pernah bosan melakukan hal itu karena diapun menyukainya.


"Aku tahu. Berjanjilah kau akan selalu berada di sisiku, menggengam tanganku dan memberiku kekuatan untuk itu." Jenita mendongak hingga mata mereka beradu pandang dalam garis lurus.


Jemari Alex terulur membelai wajah cantik yang merubah kepribadiannya tanpa dirinya sadar. Sifat kaku dan galak yang dimilikinya tak berlaku di hadapan Jenita. Alex akan berubah menjadi sosok Alex yang lembut dan penyayang didepan gadis dengan dua lesung pipit di pipinya.


Ci uman hangat pun terjadi diantara keduanya. Entah siapa yang memulai karena semuanya terjadi begitu cepat dan terhenti disaat oksigen dalam dada mereka telah habis.


Jenita kembali menenggelamkan wajahnya dalam dada Alex membuat lelaki tampan tersebut tergelak dengan tingkah sang kekasih.


"I love you, Jenita Claudia Andini. I love you gadis jelek ku. I love you kamu entah itu sebagai Jenita ataupun Claudia karena bagiku kamu tetaplah kamu. Wanita yang bisa menggetarkan hatiku dan memutar balikkan duniaku. I love you."

__ADS_1


Ungkapan cinta yang Alex ucapkan untuk pertama kali membuat Jenita melambung tinggi. Gadis itu tersenyum dengan anggukan kepala pelan. Semakin dieratkan nya pelukan pada tubuh hangat Alex.


"I love you too." Gumamnya pelan membuat senyum Alex kian samar terbentuk di bibir tipisnya.


__ADS_2