DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 51


__ADS_3

"Kau bohong apalagi sekarang? berapa banyak kebohongan yang kau lakukan dibelakangku?" Pekik Ayunita tajam, wanita baya tersebut meluapkan rasa kecewanya pada sang suami.


Cukup sakit rasanya karena mengetahui kebohongan tersebut. Kehadiran Jenita saat itu sudah membuatnya murka. Dan sekarang ditambah dengan kemunculan Lidia dengan tiba-tiba sungguh membuatnya terkejut.


Dia yang hanya tahu bahwa wanita yang merupakan orang yang paling dibencinya tersebut telah mati tentu saja terkejut. Bukan hanya masih hidup, namun keadaan Lidia tak menunjukkan bahwa wanita tersebut menderita.


Hermawan yang hanya diam tak menjawab membuat Ayu semakin kalap. Wanita itu memaki dan memukul sang suami dengan kedua tangannya. Suaranya yang meledak ledak tak membuat tangisnya redah namun bertambah karena rasa kecewa yang dirasakannya.


Bertahun-tahun mencoba hidup dengan orang yang tak pernah dicintainya tak membuat Ayu benar-benar bahagia. Kabar tentang kematian lelaki yang menjadi penghuni hatinya membuatnya hancur kala itu. Dan niatnya untuk melenyapkan Lidia pun semakin besar.


Kala masih hidup, Ikbar akan menjaga wanita itu dengan sangat baik sehingga tak pernah ada cela baginya untuk membalas sakit hatinya selama ini. Namun dengan kepergian Ikbar seakan membuka jalan yang luas baginya untuk melakukan niatnya selama ini.


"Kau bilang sudah membunuhnya beserta anak si@lan itu. Pada awalnya aku percaya, ketika melihat kedatangan gadis jelek itu akupun bertanya padamu. Namun kau berkata tak tahu dan mungkin ada orang yang menyelamatkannya. Aku masih percaya dan sengaja diam demi mencari kesempatan untuk melenyapkan nya. Tapi sekarang, bahkan wanita si@lan itu masih hidup dan terlihat bahagia. Kau membodohi ku apa lagi?"


Kepalan tangannya menghantam dada Hermawan beberapa kali. Lelaki baya tersebut masih saja terdiam. Membiarkan sang istri melampiaskan amarahnya. Muka Ayu merah padam dengan rasa kecewa yang terlihat jelas di sorot matanya.


"Jawab aku, jawab bajingan!!" Pekiknya frustasi.

__ADS_1


"Tak ada. Hanya saja aku tak bisa menghabisinya." Hermawan berujar sambil mencengkram kepalanya sendiri.


"Kau pembohong. Kau bilang akan melakukan apapun untuk membantuku membalas dendam. Kenapa kau tak membunuhnya, kenapa?"


"Karena aku mencintainya."


Ayu berdiri dengan sedikit lemah, bahkan badannya sedikit bergetar. Wanita yang penampilannya sudah berantakan tersebut tersenyum sinis. Mendekat ke arah lelaki yang menjadi yang selalu bersamanya selama 25 tahun lamanya sekarang mengatakan cintanya kepada wanita lain. Dan sayangnya, wanita tersebut adalah wanita yang sama. Wanita yang merebut Ikbar, lelaki yang sangat dicintainya bahkan mereka telah bertunangan.


"Kau juga mencintainya? hahahah. Kalian semua mencintainya? Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Teriaknya kencang.


Hermawan reflek segera menarik tangan Ayu dan membawanya masuk ke dalam kamar. Terdengar kebisingan dari ruangan tersebut sesaat sebelum suara tangis Ayu kembali terdengar. Entah apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri tersebut di dalam sana. Tak ada suara dan tak ada pergerakan yang bisa didengar.


Dira melangkah tak tahu arah. Hatinya sakit bahkan teriris sangat dalam. Rasa kecewa kepada kedua orang tuanya terlihat jelas. Sedikit demi sedikit masalah terkuak dan dirinya tak menyangkah kedua orang tuanya tersebut bisa berbuat keji. Apapun masalahnya Dira tak bisa membenarkan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


Sebuah mobil hitam berhenti di sisi Dira. Gadis itu bahkan tak menoleh hingga sebuah suara menegurnya.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Alex mengusap wajahnya kasar. Saat ini dirinya telah berada di rumah Jenita. Namun gadis kesayangannya tersebut memilih untuk tetap berada di toko saat dirinya pulang.


Tak ada keraguan dari gerak cepat para anak buahnya. Mereka melakukan tugas dengan sangat baik. Seperti saat ini, di dalam mobil. Alex dengan jelas bisa mendengar apa yang sedang diperdebatkan oleh pasangan Ayunita dan juga Hermawan. Dirinya yang mengetahui cerita dari banyak versi tak mampu mengurai benang kusut dari masalah tersebut jika dirinya tak tahu akar masalah sebenarnya.


"Cinta atau harta?" Ucapnya pelan nyaris tak terdengar.


"Awalnya mungkin karena cinta namun semakin lama semakin berkembang. Tapi entahlah, karena kita hanya mampu menebak-nebak saja." Gumaman pelan tersebut pada kenyataannya masih dapat didengar oleh Aldi yang duduk di kursi depan. Mereka menghentikan mobil tepat dipersimpangan tak jauh dari toko Jenita berada.


Aldi, pemuda yang sejam lalu baru sampai ke kota C langsung menemui boss nya.


Dia yang juga tak kalah sibuk dengan bos nya tersebut rela bolak balik demi untuk misi ini segera selesai. Otaknya memang tak seencer sang bos. Namun kemampuannya tak bisa diremehkan. Aldi adalah asisten dan tangan kanan Alex yang paling bisa dipercaya. Dia satu satunya orang yang tahu segala seluk beluk kehidupan Alex. Mereka berteman sejak kecil dan menjadi akrab setelah menginjak dewasa. Tak ada rahasia diantara ke duanya membuat persahabatan tersebut terjalin dengan hangat.


"Kisah rumit mereka melibatkan banyak orang yang tak bersalah. Andai mereka bisa duduk saling bicara mungkin semua ini tak akan terjadi, paling tidak semua masih bisa dicegah."


"Terkadang emosi dann amarah mengalahkan logika. Kita tak bisa memaksakan orang lain melakukan apa yang kita mau. Mereka juga punya keinginan dan kemungkinan besar akan melakukan perlawanan meski pada saat ini terlihat baik baik saja dan menurut. Tak ada yang tahu isi hati orang lain dan tak ada yang bisa membaca hati kita selain diri kita sendiri."


Hening tercipta membuat keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sementara Andrian yang kala itu mendapat pesan singkat dari Alex segera meluncurkan laju mobilnya keluar toko. Tujuannya adalah menjemput Dira yang kala itu memang nampak sedang tak baik baik saja.

__ADS_1


Namun Andrian tak mengetahui banyak hal. Bahkan Alex tak memberitahukan apapun hanya memintanya menjemput Dira dan membawa gadis tersebut ke ruko milik Jenita. Tak banyak bertanya namun Andrian sedikit tergelitik penasaran ketika melihat tampang kusut dan mata sembab gadis yang duduk diam di sebelahnya. Meski begitu chef tampan tersebut tak membuka suaranya. Dia membiarkan Dira menenangkan dirinya terlebih dahulu.


__ADS_2