DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 69


__ADS_3

Lidia mengusap lembut bahu sang suami. Senyum perlahan terbit disana. Dengan lembut pula diusap nya air mata yang perlahan mulai terlihat mengering.


Kumpulan kisah masa lalu yang kembali harus diingat membuat sesak dadanya. Memang benar apa yang tertuang pada kalimat kalimat pepatah lama. Tak akan ada asap tanpa adanya api. Dan Ikbar menyakini bahwa dirinya lah penyebab semua kekacauan ini.


Andai saja, ya andai saja dirinya mengetahui bagaimana pengorbanan Hermawan terhadapnya dulu, kemungkinan besar dirinya bisa mencegah semuanya terjadi.


Sayangnya, Ikbar mengetahui semuanya setelah peristiwa kecelakaan itu terjadi. Dimana lagi dan lagi Hermawan menyelamatkan dirinya.


Jenita mengusap pelan air matanya. Baru menyadari hal mendasar yang telah membuat Ayunita sangat membenci dirinya. Cinta yang entah bagaimana harus disebutkan mengingat hubungan yang memang tak pernah baik antara sang papa dengan wanita itu. Bahkan di usia pertunangannya yang terbilang lumayan itu, tak pernah sekalipun keduanya bermesraan selayaknya sepasang kekasih.


*


*


*


Dira kembali memutar stir mobilnya. Tujuannya kali ini adalah sebuah restoran tempat dirinya membuat janji dengan kedua orang kepercayaannya.


Keduanya telah nampak duduk manis di bangku dekat dengan jendela kaca yang lebar. Dira segera memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk ke dalam restoran. Pembicaraan mereka berlangsung sedikit lama. Entah apa lagi yang direncanakan oleh Dira, karena senyum tipis nampak sedikit mengerikan dia berikan ketika melangkah keluar dari restoran.


Tak berselang lama setelah kepergian Dira. Kedua orang tersebut nampak keluar dan pergi mengendarai mobil mereka.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Sebuah TV layar besar nampak terpasang di halaman depan toko yang luas. Menurut rencana, acara tersebut akan disiarkan secara live di beberapa stasiun televisi dan akan ada sesi wawancara khusus nantinya.

__ADS_1


Segala sesuatu nampak disiapkan dengan sangat teliti termasuk dengan keamanannya. Dira nampak tersenyum puas dengan sengala rencananya. Gadis itu melenggang masuk ke dalam toko untuk pertama kalinya setelah kepindahannya dan memilih menetap di ruko.


Angia yang melihat kedatangannya segera memberi kode kepada Lisna. Keduanya pun nampak seperti biasa dan bekerja. Andrian yang berada di ruang produksi menatap sebentar ke arah pintu masuk ketika bayangan Dira menaiki tangga menuju lantai dua. Hembusan nafasnya terdengar berat, namun Andrian tetap menampilkan senyum menawannya disana.


Hobi nya menonton film bergenre horor dan misteri tak pernah sedikitpun membuatnya takut. Namun kali ini apa yang diperankannya membuat nyalinya menciut. Dan bodohnya, Andrian masuk dan menjebak dirinya sendiri dalam labirin drama keluarga besar tersebut.


Andai saja waktu itu dia mendengarkan usulan Alex untuk menjauh sementara waktu. Mungkin nasipnya tak akan berada di ujung tanduk saat ini. Entahlah, Andrian bahkan tak mampu untuk menerka apa yang akan terjadi esok hari. Yang dia tahu hanyalah bersiap dan berperan.


Beberapa resep kue kering dan juga bolu nampak baru saja matang. Uap panasnya masih terlihat sangat jelas dengan bau harum yang menguar seketika kala pintu oven dibuka. Dengan cekatan, Chef tampan tersebut segera mengeluarkan loyang dan menaruhnya diatas rak rak khusus penata kue dan loyang panas. Bergerak kembali mengambil adonan yang berada di rak adonan mentah untuk kembali mengisi oven yang kosong.


Hari yang sibuk sedikit membuat otaknya yang lelah untuk sejenak tak berpikir. Jujur saja dalam beberapa hari ini otaknya terasa sangat panas. Meski iya tak pernah paham dengan apa yang terjadi namun secara garis besar Andrian dapat memahami persaingan yang terjadi.


🍃🍃🍃🍃🍃


Hari yang dinanti telah tiba. Semua telah bersiap di tempatnya masing-masing. Anak buah Alex datang dan berbaur dengan banyaknya orang yang memang sedang bersiap dan kembali merapihkan tenda.


Ratusan kamera terasang di berbagai sudut tanpa ada yang menyadarinya. Alat-alat yang bentuknya lucu dan mungil membuat orang benar-benar terkecoh dan mengangap nya sebagai hiasan saja.


"Ada masalah?" Alex berujar tenang.


Lelaki dengan jas berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja biru laut dengan celana hitam membuatnya nampak berbeda.


Untuk beberapa saat Aldi malah menatap sang sahabat tanpa berkedip. Setelan yang digunakan saat ini membuat orang tak percaya jika itu adalah Alex. Lelaki yang hanya menyukai warna gelap tersebut bahkan tak pernah terlihat memakai pakaian dengan warna lain.


"Kenapa?" Herannya.

__ADS_1


"Kamu tak lagi demam kan? atau semalam habis kejedot pintu." Aldi menatap menelisik.


Alex mengangkat satu alisnya lebih tinggi. Dia tak mengerti dengan arah pembicaraan Aldi yang terkesan berbelit itu.


"Katakan atau kau ingin tinjuku yang bergerak." Geramnya pelan.


"Ckckck, ternyata hanya penampilanmu yang berubah. Auramu tetap saja sama." Aldi melengos dan kembali menatap layar laptop guna memantau titik-titik yang telah terpantau di layar cctvnya.


"Sejauh ini semuanya aman, hanya tinggal menunggu waktu saja. Orang-orang kita juga telah bersiap di tempatnya masing-masing. Untuk dua orang yang bekerja sama dengan Dira, mereka sudah berada di tempat yang aman. Anto sudah membawa mereka. Kali ini, polisi akan ikut terlibat karena kita tak bisa mengambil resiko yang lebih berbahaya lagi. Mengingat akan ada orang banyak disana nanti."


Alex menghempaskan tubuhnya di sofa singel tepat di sebelah Aldi yang masih fokus.


"Setelah ini aku akan mengambil cuti dan berlibur. Rasanya semua badanku pegal-pegal belum lagi otakku yang panas." Aldi bergumam pelan.


"Jones seperti mu buat apa berlibur? malu maluin aja." Celetuk Alex tanpa filter.


"Ckck, dasar manusia batu. Seorang jones pun butuh quality time agar hidupnya lebih berkualitas lagi. Agar tak terserang virus galau."


"Bukannya jones itu sarangnya kegalauan? kau contoh nyatanya. Wajah ganteng tapi sayang nggak ada yang tertarik, karena jujur saja masih ganteng aku kemana-mana."


"Cih, berkaca sana!! Aku heran, kenapa Jenita bisa tertarik pada orang macam kamu ini. Muka tembok kepala baru, tak ada manis manisnya sama sekali."


"Siapa?" Alex menatap dengan sok polosnya membuat Aldi melengos sebal.


"Kambing disebelah." Ucapnya sambil berlalu. Sementara Alex melongo ketika sadar sang sahabat mengatainya Kambing.

__ADS_1


"Si@lan." Umpat nya yang masih terdengar bersamaan dengan suara Aldi yang tergelak kencang dan semakin menjauh.


Senyum Alex kembali terbit, menatap pantulan dirinya di cermin jendela. Hari ini segalanya telah dimulai. Segala perubahan yang nyata bukan hanya pada dirinya namun juga dengan segala kisah didalamnya bersama dengan Jenita.


__ADS_2