
Sesuai rencana, Claudia kembali ke kota C. Berubah pula penampilan Claudia yang menawan menjadi Jenita si gadis berkaca mata. Ajang pameran yang mengikuti sertakan para pelaku ekonomi menengah ke atas sangat menarik minat nya. Keinginan kuat Jenita untuk lebih mengembangkan usaha warisan yang menjadi tanggungjawab nya. Membuat Jenita harus lebih jeli melihat cela dan peluang yang ada di depannya.
Dengan menyisir mangsa pasar kalangan menengah ke atas. Jenita selalu berupaya untuk menciptakan inovasi dan modifikasi disetiap bolu hasil keluaran toko nya. Dukungan Andrian membuat semangatnya lebih meningkat dan rasa percaya dirinya semakin tinggi oleh antusiasme para konsumen dengan melihat bertambah banyaknya pesanan baik secara online maupun pengunjung yang datang langsung ke toko.
Senyum ramah dengan lesung pipi nya menambah daya tarik Jenita. Membuatnya semakin di kenal tidak hanya dalam kepiawaiannya membuat kue dan bolu namun karena sikapnya juga.
*
*
*
"Kamu jadi pergi?"
"Iya, entah kenapa tiba-tiba ayah memintaku untuk pulang. Tak biasanya seperti ini."
Andrian menyeruput es kopi pesanannya. Keduanya kini berada di satu rumah makan. Melepas penat setelah mengikuti pameran dan juga beradu skill dengan beberapa peserta lain. Dengan hasil yang memuaskan membuat Jenita selalu menyunggingkan senyum dibibir tipisnya.
"Entah kali ini untuk berapa lama aku pulang. Sepertinya memang ada hal serius yang membutuhkan kehadiranku."
"Anggap saja kamu cuti, sebagai bonus atas kerja kerasmu membantuku selama aku berasa di kota S."
"Tapi aku tidak mau gajiku dipotong untuk itu, ya."
"Cih perhitungan sekali kau." Jenita melempar kentang goreng yang di pesannya ke arah Andrian. Keduanya tertawa renyah, hubungan guru les dan murid diantara keduanya berubah menjadi persahabatan. Baik Andrian maupun Jenita tak sungkan untuk menceritakan segala yang mengganjal di pikiran mereka. Walau untuk saat ini masih sebatas masalah toko, kue dan bolu. Namun keduanya telah menjadi kesatuan yang asyik ketika sedang bertukar pikiran.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Dira yang beberapa waktu lalu terbakar api kebencian perlahan mulai ragu dengan apa yang pernah diucapkan sangat mama. Dirinya lebih bersikap netral untuk saat ini, tak lagi mendukung tindakan Ayunita. Namun Dira juga tak pernah menunjukkan sikap pembelaan. Dia hanya berdiri diantara keduanya, mencoba memahami keadaan dan mencari tahu kebenaran.
__ADS_1
Fakta bahwa Jenita tak pernah melawan apapun perbuatan Ayu membuat Dira sedikit luluh. Fakta bahwa dirinya hanyalah cucu angkat membuat Dira mengetahui posisinya kini. Sang papa, Hermawan telah menceritakan semuanya. Didalam tubuhnya tak sedikitpun mengalir darah keturunan eyang Sulastri. Dia beserta keluarganya hanyalah penumpang di dalam keluarga tersebut.
Namun untuk mengakui kesalahannya Dira masih was was. Sikap sang mama yang masih menginginkan sebagian warisan untuk nya menjadi kan dirinya ragu. Dira takut Jenita akan menganggap remeh dirinya setelah itu. Oleh karenanya Dira menyalurkan permintaan maafnya melalui perbuatan sebelum dirinya mampu mengakui dengan ungkapan dan kata kata.
Jenita yang selalu tersenyum ramah perlahan-lahan diterima oleh para pegawai yang rata-rata mengikuti eyang. Bahkan beberapa karyawan yang selalu mendengarkan Ayu pada akhirnya berbalik mendukung Jenita. Toko yang mengalami kemajuan setelah perombakan yang dilakukan Jenita membuat mereka sadar. Bahkan, bukan hanya penghasilan toko yang bertambah. Gaji mereka pun bertambah seiring ramainya pesanan konsumen.
"Dira, Mbak Jen manggil kamu keruangan nya."
"Oh, ya. Makasih Sep." Septin mengangguk.
Wanita dengan dua anak tersebut telah bekerja selama 5 tahun di toko ini. Dirinya sekarang bahkan bertanggungjawab dalam hal pemasaran. Tugasnya adalah menawarkan produk produk terbaru kepada pengunjung yang datang. Menarik minat pembeli untuk membeli dalam jumlah banyak adalah tujuannya.
"Tumben dia memanggilku. Ada masalah apa?" Dira bermonolog seraya melangkahkan kakinya menuju ruangan Jenita yang berada di lantai dua toko.
Tok tok tok
Jenita tersenyum menyambut Dira. Setelah mempersilahkan duduk dirinya pun ikut duduk disofa yang berada di hadapan Dira.
"Ada apa memanggilku? apa ada kesalahan?" Dira yang sejak awal bertanya tanya tak kuasa untuk membendung rasa ingin tahunya.
"Tidak.Aku memanggilmu karena butuh bantuan darimu."
"Aku?" Dira menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, begini. Aku sebenarnya sudah mengoperasikan sistem penjualan secara online. Tapi semua itu aku kerjakan diluar toko ini. Walau tetap yang ditawarkan adalah produk toko dengan nama dan juga merk yang sama. Namun pada kenyataannya pembuatan dan pengiriman nya dilakukan di tempat lain. Aku ingin memintamu untuk membantu ku mengelolanya disana. Bagaimana menurutmu?"
"Cabang?"
"Bisa dibilang begitu, tapi lebih tepatnya ini adalah rumah produksi ke dua toko kita. Disana tempat aku membuat resep terbaru dan juga mencobanya. Setelah lulus uji barulah aku membawa resepnya kesini. Aku rasa kamu mempunyai keahlian untuk membantuku meng-handle penjualan disana."
__ADS_1
"Lalu disini?"
"Kamu tetap disini, hanya saja pekerjaanmu bertambah dengan urusan pemasaran melalui online. Kamu bisa mengerjakannya dimanapun tanpa harus berada di sana. Untuk penjualan disini sepertinya Septin sudah sangat mahir. Jadi kita bisa menjalankan dua sitem untuk kedepannya. Menjemput bola dan juga menunggu bola. Bagaimana?"
"Ke.. kenapa aku?"
"Karena eyang percaya padamu. Aku yakin kamu bisa diandalkan sesuai dengan pemikiran eyang. Kita majukan toko ini bersama-sama." Jenita tersenyum dirinya yang memang tak pernah marah atas perlakuan Dira beberapa waktu lalu nampak berkata tanpa beban.
"Nanti siang kita pergi kesana. Disana akan ada seseorang yang membantumu. Dia yang selama ini menjalankan disana."
"Baik, jika itu sudah menjadi keputusan mu." Dira tersenyum menyambut senyum Jenita kepadanya.
🍂🍂🍂🍂🍂
Sepeninggal Dira. Jenita nampak memijit pelipisnya pelan. Ditatap nya ponsel yang berada di atas meja. Beberapa menit yang lalu sebuah pesan dari Alex diterimanya. Lelaki itu memintanya bertemu sesegera mungkin.
"Aku bahkan tak punya kuasa untuk membatalkan nya. Surat perjanjian itu keluargamu sendiri yang memegangnya. Hanya ada salinan yang keluarga ku terima. Lalu aku harus bagaimana membantumu."
Benar, perjanjian tersebut adalah keputusan keluarga Tuan Gerrick. Bahkan Lidia pun menyangka perjanjian tersebut telah gagal sejak meninggalnya Ikbar. Tak disangka Tuan Gerrick bahkan menuangkan nya dalam surat wasiat nya.
"Baiklah, kapan kamu punya waktu." Balasnya kemudian
Tak menunggu lama, sebuah balasan segera muncul. Jam makan siang adalah waktu yang di sepakati Alex untuk bertemu. Sepertinya pemuda itu sedang berada di kota C.
"Huuft, bukannya dia berada di kota S, kenapa bisa berada di kota ini juga? ah bisa saja dia sengaja datang kemari karena ingin membicarakan hal ini." Monolognya kemudian.
Disambar nya tas kecil yang selalu dibawanya. Waktunya sudah sangat mendesak. Jika dia terlambat sebentar saja sudah dipastikan Alex akan membentak nya. Bukan karena dirinya takut, namun sebagai Jenita. Dia harus tampil semaksimal mungkin sebagai gadis lugu demi memuluskan rencananya.
Tanpa ada yang menyadari, Jenita diam diam telah menyewa seseorang untuk mulai melakukan penyelidikan tentang apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
__ADS_1