
Yong Yan telah memulai perjalanan untuk mencari obat demi kesembuhan Yong Lanmei. Setelah perdebatan yang panjang dengan kaisar, akhirnya Yong Yan dapat ijin untuk melakukan perjalanan begitu pula dengan Raja Ye. Awalnya kaisar merasa berat mengijinkan mereka untuk bepergian jauh mengingat kondisi yang belum stabil apalagi genderang perang masih bertabuh. Kaisar merasa kekurangan kekuatan jika Yong Yan dan Raja Ye tidak ada. Selama ini yang paling terlihat di antara yang ada hanya mereka berdua saja. Banyak Mentri serta panglima yang memiliki motif mereka sendiri. Namun kaisar tidak berpikir sempit sebab dirinya tahu betul dalam persaingan akan seperti apa.
Yong Yan telah menyiapkan perbekalan untuk melakukan perjalanannya. Setelah dirasa cukup semua nya di masukkan ke dalam ruang penyimpanan yang di dalam cincin. Untuk Gingseng, Yong Yan telah mengeceknya dan segera memindahkan ketempat yang lebih aman tanpa sepengetahuan siapapun demi menghindari kejadian yang tidak perlu.
Yong Yan menunggang kuda nya dan memacu dengan cepat seolah-olah sedang berlomba dengan waktu. Untuk Raja Ye sendiri juga sudah mulai berjalan pergi dengan arah yang berlawanan dengan Yong Yan. Inilah sebab nya Yong Yan turut memaksa dan menyakinkan bahwa teratai salju akan di dapatkannya. Demi menghemat waktu juga tentunya.
Yong Yan melewati hutan, lereng hingga tebing yang curam dan terjal. Ketika siang dirinya tetap melanjutkan perjalanan hanya istirahat untuk makan selepasnya melanjutkan kembali langkahnya. Ketika malam tiba dirinya akan mendirikan tenda dan bermalam. Tidak mudah melakukan perjalanan ini seakan-akan rintangan terus datang silih berganti tanpa henti bahkan tidak ada waktu sekedar menarik nafas saja. Yong Yan bahkan kini terlihat semrawut dengan pakaian yang acak-acakan hingga rambut yang kusut tak terawat. Nafasnya kini tersengal-sengal akibat serangan binatang buas yang terus menerus datang menyerang Yong Yan. Setelah membunuh binatang buas terakhir dirinya jatuh telentang di atas tanah dengan nafas memburu.
" Aku harus bisa demi Yong Lanmei" Yong Yan menyemangati dirinya sendiri.
" Rintangan ini tidak ada apa-apanya di banding dengan rasa sakit Lanmei."
__ADS_1
" Ini tidak akan menyurutkan langkah ku"
" Ku harap ini adalah langkah awal yang baik untuk memperbaiki hubungan kami"
" Semoga aku segera juga mendapat obat penyembuh dari racun sialan ini."
" Walau aku memang gila harta serta jabatan tapi bagaimanapun juga Lanmei adalah darah daging ku sendiri."
" Semua skenario ini seperti telah di atur serapih mungkin bahkan aku sendiri merasa kecil."
Yong Yan sembari memejamkan matanya mulai menerawang jauh mengingat kehidupan lampaunya. Walau manis namun penuh kepura-puraan. Yong Yan sendiri sadar jika saja hatinya setia pasti tidak akan ada Lu Hairan bahkan selir lainnya muncul di kehidupannya. Namun jiwa lelakinya yang kadang khilaf merindukan sosok yang lembut dan penuh kasih sayang menyebabkan dirinya harus tertarik ke dalam perseteruan para istrinya. Mengingat itu dirinya langsung merindukan sosok Song Shea ibu dari Yong Lanmei yang telah melewati banyak hal bersamanya dari awal hingga merasakan kesakitan bersama akibat pertentangan berbagai pihak pada awalnya namun akhirnya terpaksa di terima setelah Yong Lanmei hadir. Yong Yan tanpa sadar meneteskan air matanya. Baru kali ini dirinya benar-benar merasa kehilangan serta sedih yang teramat tanpa bisa di ungkapkan lagi dengan kata-kata.
__ADS_1
" Kenapa baru sekarang aku sadar bahwa selama ini aku egois serta kejam dan berdarah dingin?"
" Kenapa baru sekarang setelah Yong Lanmei membenci dirinya dengan begitu dalamnya?"
" Aaaarrrrgghhhhhh........." Yong Yan menjerit sekuat-kuatnya di atas penyesalannya.
Tak terasa Yong Yan jatuh tertidur dengan langit sebagai atap nya serta bintang sebagai penerangannya. Kondisi yang sunyi menambah kesan kesedihan sebagai teman malam untuk Yong Yan. Waktu begitu cepat berlalu bahkan kini telah berganti pagi. Yong Yan di bangunkan oleh sinar mentari yang menerpa wajahnya. Segera dirinya bergegas untuk bersiap melanjutkan perjalanannya kembali yang mana sebelumnya sarapan terlebih dahulu untuk mengisi tenaganya.
Yong Yan terus menyusuri berbagai hutan bahkan telah keluar masuk juga hingga ke lembah-lembah yang entah tidak diingatnya lagi nama-namanya. Kini dirinya telah sampai di tempat yang di tujunya. Namun perasaan aneh langsung melingkupi dirinya. Yong Yan merasa ada yang salah namun dirinya tidak tahu ada apa gerangan. Yong Yan memandang sekitar dengan awas. Baru saja dirinya akan menampakkan kakinya di sana langsung seberkas cahaya menghempas dirinya hingga terbang jatuh beberapa mil jauhnya. Yong Yan mengeluarkan seteguk darah segar dari mulutnya.
" Apa ini kenapa bisa seperti ini?"
__ADS_1