DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 7


__ADS_3

Selepas makan malam, Claudia yang memang tak bisa menunda waktu dan menunggu terlalu lama akhirnya mengajak sang mama untuk berbicara. Kedua wanita cantik beda usia tersebut berada diruang baca. Ruang tenang yang bisa membuat Claudia menghabiskan waktu berjam-jam disana.


Lidia sendiri telah menyiapkan beberapa jawaban atas pertanyaan yang kemungkinan akan ditanyakan putrinya. Dia sangat yakin, setelah melepaskan Claudia waktu itu. Akan banyak kemungkinan dan kejadian masa lalu yang sedikit demi sedikit akan ditemui sang putri.


"Ma, apa benar. Sebelum eyang meninggal telah terjadi perjanjian pernikahan untukku?"


Lidia sedikit kaget, jujur saja persiapannya selama ini bukan terfokus pada hal itu. Perjanjian itu bahkan tidak lagi dipikirkan nya semenjak dirinya pergi meninggalkan kota C.


Setelah lama berbincang dengan sang mama. Claudia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Pembicaraan dengan sang mama membuatnya sedikit pusing. Tak ada cela bagi dirinya untuk menolak perjodohan konyol tersebut. Namun untuk menerima nya pun Claudia ragu. Di umurnya yang sudah menginjak 24 tahun. Claudia tak pernah sekalipun memikirkan untuk menikah. Karir adalah yang paling dipikirkan nya selama ini.


"Menikah dengan nya? lelaki sombong dan arogan itu bahkan tak melirik ku sedikitpun." Claudia bergidik ngeri.


Berguling ke kanan dan ke kiri hingga menemukan posisi ternyaman hingga dirinya terlelap.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Meninggalkan kota C dan kembali menjalani aktivitas nya sebagai Claudia tidak serta merta membuatnya lupa akan kewajiban nya sebagai Jenita. Chef Andrian yang telah resmi berpindah ke kota C adalah bantuan terbesarnya kali ini. Bersama Marni, orang yang dipercaya Jenita untuk menjalankan bisnis bolunya secara online mengatasnamakan toko eyang tetap berjalan dengan pengawasan nya.


Jenita sendiri tak mengerti dengan apa yang Andrian lakukan untuknya. Sebagai guru les, seharusnya tugasnya tak sampai seperti ini. Namun Andrian selalu berdali bahwa dirinya telah menganggap Jenita adalah adiknya, dan tak mempersoalkan hal kecil seperti itu. Pada akhirnya Jenita membiarkan saja Andrian membantu nya.


Dengan menggunakan pakaian folmalnya. Claudia melangkah dengan senyum yang selalu tersungging dibibirnya. Enam bulan lamanya sudah dirinya tak menginjakkan kakinya di perusahaan. Ada rindu yang dia rasakan pada tempat dimana dirinya selalu mendapat pelajaran keras dari sang kakek. Tempat yang menjadikan Claudia dikenal seperti saat ini.

__ADS_1


Menuju ruang rapat, dirinya ingin sejenak menyapa seluruh stafnya. Walau terkenal galak dan dingin namun Claudia juga dikenal baik hati. Sikap tegas yang dimilikinya hanya semata demi kebaikan para staf nya.


Satu jam berlalu akhirnya Claudia bisa kembali memasuki ruangannya sendiri.


"Pertemuan dengan pak Jakson apa dilakukan pada minggu ini?"


"Dengan perusahaan pak Jakson ditunda hingga bulan depan. Saat ini beliau sedang berada di luar negeri demi mengurus perusahaannya disana." Sinta mendudukkan dirinya dikursi depan meja kerja Claudia,


Diatas meja sudah terkumpul beberapa laporan yang menunggu giliran untuk Claudia cek ulang. Hanya beberapa laporan yang memang membutuhkan tanda tangannya langsung lah yang masih ada disana. Sementara yang lainnya telah diselesaikan oleh Sinta.


"Lalu minggu ini ada agenda yang mendesak?"


"Hanya ada beberapa pertemuan dengan kolega. Namun untuk besok kita ada janji temu dengan perusahaan GFK. Perusahaan ini sudah beberapa kali meminta janji temu. Namun kerena mereka ingin membahasnya langsung dengan mu makanya baru bisa ku agendakan minggu ini.Selebihnya hanya laporan seperti biasa." Claudia mengangguk kan kepalanya.


"Baiklah, Sinta. Silakan lanjutkan pekerjaan mu, nanti saya pelajari semua laporan ini terlebih dahulu." Sinta mengangguk kemudian melangkah keluar dari ruangan Ceo.


"Huuft, kembali lagi bergelut dengan bulpoint dan kertas. Dan untuk tepung dan para loyang, bersabarlah tunggu aku kembali." Gumam nya pelan seraya tersenyum kecil.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Tuan."

__ADS_1


"Bacakan jadwal ku hari ini." Alex melepaskan jasnya dan menaruhnya di sandaran kursiny.


Duduk tenang sambil mendengar Aldi sang asisten membacakan agenda kerjanya hari ini. Dia memijit pelan pangkal hidungnya setelah mendengar padatnya jadwal kerjanya.


"Belum ada kabar dari perusahaan Claudia tentang janji temu kita." Sudah beberapa bulan lamanya Alex mengajukan janji temu untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Claudia. Namun hingga kini belum juga ada jawaban yang memuaskan nya. Bahkan, sekertaris Ceo cantik itu mengatakan bahwa Claudia sedang tidak berada di kota S.


"Besok sebelum jam makan siang, Tuan. Tadi pagi, sekertaris nya menghubungi saya untuk menyampaikan ini."


Senyum terbit di bibir Alex. Akhirnya apa yang dinantikan nya selama ini datang juga. Sejak beberapa waktu lalu dirinya terpesona oleh sosok Claudia, seorang Ceo cantik yang tekenal tegas dan dingin. Bahkan dirinya yang seorang playboy pun sangat penasaran dengan sosok Claudia.


"Baiklah, besok persiapkan semuanya. Jangan sampai kita menyia nyiakan kesempatan ini." Ucapnya penuh antusias.


Aldi hanya mengangguk. Di geleng kan nya kepala tak mengerti jalan pikiran sang boss. Dia yang beberapa hari ini selalu uring-uringan karena masalah perjodohan nya dengan Jenita. Kini terlihat tersenyum lebar seolah tak ada beban masalah yang tengah dipikirkannya.


Namun sesuai tabiat Alex, Aldi tak ingin ikut campur terlalu dalam jika Alex tak memintanya. Sampai detik ini pun, Aldi hanya menuruti apa yang diinginkan Alex.


"Kalau begitu saya permisi, tuan." Dia menundukkan sedikit badannya sebelum keluar dari ruangan Alex. Sepeninggal Aldi, Alex bahkan mengepalkan tangannya sambil berucap "Yess".Dirinya akan bertemu dengan wanita yang berhasil merebut perhatiannya.


"Selangkah lagi, aku harus bisa meyakinkannya untuk menjadi kekasih ku. Dengan begitu aku akan mempunyai alasan kuat untuk membatalkan perjodohan konyol itu. Huu.. mana bisa seleraku dibandingkan dengan gadis culun berkacamata tebal itu. Dilihat dari sisi mana pun mereka sangat jauh berbeda. Selain cantik, Claudia juga seorang Ceo ternama. Sudah pasti papa dan mama akan memikirkan ulang tentang keputusannya yang mendukung penuh isi wasiat opa."


Alex tersenyum dengan rencananya. Dia yang seorang palyboy tak akan memerlukan waktu lama untuk menaklukkan seorang wanita. Disisi lain Dira yang pelan pelan melakukan penyelidikan tentang Jenita tak menemukan informasi apapun tentang nya. Bahkan, alamat tempat tinggalnya di kota S pun tak dia dapatkan.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa sedikit familiar dengan sosok nya. Tapi dimana aku melihatnya." Dira berjalan mondar-mandir. Dirinya sedikit tak percaya dengan apa yang di ceritakan sang mama. Ayu mengatakan bahwa Jenita adalah anak yang tak punya pendidikan, bersama ibunya dia menghalalkan segala cara untuk meraih semua impiannya termasuk merampas warisan eyang yang seharusnya menjadi milik sang papa, Hermawan.


Bahkan perseteruan kedua orang tuanya sejak waktu itu hingga kini belumlah berakhir. Ayu yang memiliki sifat keras tetap pada pendiriannya untuk menghancurkan Jenita dan menguasai semua warisan eyang.


__ADS_2