DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 17


__ADS_3

Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak lagi memiliki kesabaran untuk menunggu laporan anak buah dan detektif yang disewanya untuk mencari jejak Jenita. Dia berpikir untuk bertindak cepat mengingat gadis yang awalnya menjengkelkan untuk nya itu telah menghilang tiga hari lamanya.


Segala rasa berkecamuk di dadanya dan penyesalan masih membayanginya. Dia teringat dengan kata katanya kasar dan hinaan yang selalu dilontarkannya pada Jenita. Alex menghela nafas pelan.


"Aku akan menebus semuanya, semoga saja kamu masih bisa memaafkan ku Jen." Gumamnya sambil terus memutar mobilnya agar cepat sampai ke lokasi terakhir yang dikirimkan anak buahnya saat mengikuti Jenita.


Tak hanya Alex yang sedang frustasi. Andrian dan Sinta pun tak tinggal diam atas hilangnya Jenita. Sinta bahkan tak berani menghubungi Lidia dalam beberapa hari ini. Dirinya sungguh belum bisa mencari alasan yang baik untuk menjawab segala pertanyaan yang mungkin akan di ajukan oleh wanita baya tersebut.


Marni dan Dira masih berbagi tugas menjalankan toko dan rumah produksi. Mereka tak ingin menghilangnya Jenita diketahui oleh banyak orang dan membuat pelakuanya bertambah senang melihat kepanikan mereka. Namun tak dipungkiri, Andrian sudah mengumpulkan bukti bukti seandainya nanti benar-benar dibutuhkan untuk melaporkan menghilangnya Jenita ke pihak berwajib.


🍂🍂🍂🍂🍂


Jenita mengernyapkan matanya. Menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam melalui cela sebuah jendela yang terdapat di hadapannya. Sedikit kebingungan karena tempat ini berbeda dari tempat yang kemarin. Sedikit bisa bernafas lega disini karena sirkulasi udara dapat berganti dengan adanya jendela dan beberapa lubang yang terdapat di bangunan tersebut. Entah apa namun yang jelas Jenita tidak tahu ini gudang atau rumah. Hanya berbentuk ruangan dengan beberapa bagian yang nampak telah rapuh dan rusak.


Sedang yang kemarin dia yakinin adalah sebuah gudang. Karena dia masih dapat melihat sebuah meja, kursi dan beberapa kertas nota yang berserakan di lantai. Dijam jam tertentu akan ada seseorang yang datang dan menyuapinya makan. Lelaki yang tak Jenita kenal itu tak banyak bicara, hanya datang menyuapinya kemudian pergi lagi. Dengan penutup wajah yang dipakainya membuat Jenita tak pernah mampu menebak siapa dia. Namun dirinya masih tetap bersyukur karena masih ada seseorang yang membantunya walau hanya dengan menyuapinya makan karena hingga kini kaki dan tangan Jenita masih mereka ikat.


Seperti siang ini, lelaki muda itu datang lagi dengan sebungkus makanan di tangannya. Masih dengan penutup muka yang dipakainya, dia mengeluarkan makanan dari bungkusnya dan mulai memyuapi Jenita.


"Kak, sebenarnya saya salah apa? dan kenapa saya harus dikurung disini?"


Pertanyaan yang sama namun entah untuk ke berapa kalinya terlontar dari bibir Jenita. Gadis cantik tersebut nampak sangat lusuh setelah 3 hari lamanya tak mengganti pakaiannya. Tangan dan kakinya hanya dilepaskan ketika dirinya berteriak ingin ke ke kamar mandi.


Di hari ke dua kemarin, Jenita sempat mencoba melarikan diri namun naas baginya. Ketika hendak keluar dari lubang yang berada di kamar mandi yang berada di gudang tersebut dirinya malah terpeleset hingga menyebabkan kakinya terkilir dan membuatnya kembali meringkuk. Dan akhirnya dirinya dibawa lagi untuk berpindah tempat.


"Aku hanya bertugas menjagamu disini. Untuk hal lainnya, maaf aku nggak tahu. Simpan aja tenangamu, dan makan lah agar kamu tak lemah." Ucap lelaki itu sambil menyuapi Jenita sesuap demi sesuap.


"Kak, biarkan aku makan sendiri saja." Jenita menatap dengan penuh iba. Dia ingin tangan dan kakinya dilepaskan hingga dirinya kembali mempunyai kesempatan untuk mencari cela bisa keluar.

__ADS_1


"Aku tak bisa membantu mu untuk itu. Sekarang makanlah!!"


"Aku bukan orang sakit kak, biarkan Aku makan sendiri." Tolak Jenita.


"Menurutlah!! jangan membuatku masuk dalam masalah lagi!! Ayo makan!!" Suara lelaki itu sedikit keras sehingga membuat Jenita terlonjak dan memilih untuk diam, mau tak mau Jenita menerima suapan demi suapan dari tangan lelaki tersebut.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Bagaimana?" Alex yang baru saja sampai ke titik utama Jenita terakhir dipantau oleh orang-orang nya.


"Kalian yakin disini?" Tanyanya kemudian sambil memasuki halaman rumah besar tersebut.


"Benar tuan, ini lokasi terakhir dimana nona Jenita berhenti dan masuk ke dalam. Tapi saya sudah memeriksanya, tak ada apapun dirumah ini kecuali mobil nona Jenita yang terparkir di halaman bagian samping tertutupi oleh pepohonan."


Alex terus melangkah masuk disana sudah berdiri dua orang anak buahnya yang lain. Mereka menundukkan kepala ketika melihat Alex semakin dekat.


"Tidak Tuan. Hanya ada 3 orang disini untuk menunggu kedatangan Tuan. Sementara yang lainnya bergerak untuk mencari lokasi yang lain yang mungkin bisa memberi petunjuk keberadaan nona."


Alex mengangguk dan meneruskan langkah dimana terlihat mobil Jenita disana.


"Ini tas nona yang kami temukan di teras rumah ini Tuan."


Alex menerima tas kecil berwarna crem yang biasa di bawanya. Dengan tangan sedikit bergetar, Alex membuka tas kecil tersebut yang hanya berisi ponsel dan sebuah lip blam.


Drtt Drrrt Drttt


Ponsel salah satu anak buah Alex bergetar. Dengan segera lelaki tegap tersebut menerima panggilan dari salah seorang rekannya. Alex yang mendengarnya meminta mereka segera mengirim lokasi sekarang juga.

__ADS_1


Waktu masih menunjukkan jam 3 dini hari ketika Alex dan orang-orang nya kembali bergerak dari lokasi pertama ke lokasi ke dua ditemukannya jejak keberadaan Jenita. Lelah setelah melakukan perjalanan jauh tak menyurutkan niat Alex untuk menemukan wanita itu kembali.


"Tuan, biar saya yang membawa mobilnya. Sebaiknya anda beristirahat dulu selama perjalanan."


"Heem" Hanya deheman yang Alex berikan namun dia langsung masuk ke bagian penumpang dan mendudukkan dirinya disana.


Dengan sigap lelaki yang masih terlihat muda tak berbeda jauh dengan Alex tersebut masuk dan mendudukkan dirinya di balik kemudi. Setelahnya dirinya bergerak diikuti satu mobil lagi di belakangnya.


Entah berapa lama Alex tertidur, namun kini lelaki tampan namun dingin dan arogan tersebut mengernyapkan matanya. Udara pagi menyapu wajahnya dari kaca mobil yang dibukanya sedikit. Dilongoknya kiri dan kanan. Pria muda yang semalam menyopirinya nampak mendekat.


"Tuan,, gudangnya sebelah sana."


"Kita sudah lama disini?" Alex bertanya sambil menatap jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Baru setengah jam yang lalu, Tuan. Maaf kami tidak membangunkan tidur Tuan tampaknya sangat lelah.


Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 menit, Alex menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk mengerti.


Ditemani pria muda tadi, Alex melangkah menuju gudang yang sempat disebutkan anak buahnya.


Sebuah gudang terbengkalai di sebuah pinggiran kota. Alex sedikit bergidik menatap sekeliling gudang bekas yang nampak sangat kotor tak terawat tersebut. Tangannya mengepal kuat mana kala dirinya membayangkan Jenita berada disana. Bahkan jalan untuk masuk pun sudah ditumbuhi ilalang yang tinggi.


" Pergerakan kita harus lebih cepat. Namun usahakan agar tak mencolok, cukup dua orang tiap timnya. Dan mulai sekarang kamu mendampingi ku, karena aku ingin terjun langsung mencari tunanganku." Ucap Alex dan diangguki oleh pria disampingnya.


Dua orang menunggu Alex di pintu masuk gudang, mereka membukakan pintu dan masih tetap berjaga. Membiarkan Alex dan pria yang diketahui bernama Rendy tersebut masuk.


Rasa pengap dan bau tak sedap menusuk hidung Alex. Dia yang memerintahkan anak buahnya untuk tak menyentuh apapun disana nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang hanya mendapat cahaya dari pintu dan dua buah lubang yang sedikit besar dibagian atas tembok.

__ADS_1


Sebuah bangku dan meja nampak berada disudut ruangan dengan banyaknya lembaran kertas yang berserak dilantai nya. Tatapan mata Alex tertuju pada kacamata dan wig yang disebutkan anak buahnya saat melapor semalam. Dia bergerak perlahan demi memastikan barang barang tersebut benar milik Jenita.


__ADS_2