
Polisi bertindak cepat, mereka yang memang sudah berada disana mempunyai kesigapan tersendiri meski sejak awal Alex menegaskan untuk menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh terlebih dahulu. Namun tindakan Herdiansyah sudah diluar batas sehingga mereka pun maju.
Alex yang masih berada ditempat memijit pelipisnya pelan. Semua orang telah berhasil diamankan dan tempat berhasil disterilkan. Selain orang-orang Alex dan juga kepolisian dilarang untuk masuk.
"Papa." Dira berteriak ketika menatap tubuh sang papa tersungkur dengan luka didadanya.
"Kalian jahat!! untuk menutupi aib dan membuangku kalian membunuh papa." Teriaknya kalap.
Tim medis segera bertindak setelah polisi menyatakan aman bagi mereka untuk melakukan tindakan. Tubuh Herdiansyah telah diangkat ke dalam ambulance. Meski begitu, kedua tangan lelaki paruh baya tersebut harus diborgol demi keamanan.
Anto pun mendapatkan tindakan yang serius. Meski masih tersadar, namun pemuda tersebut kehilangan banyak darah dari bahunya yang tertembak.
"Dia bukan papa, kak." Habibi berujar sambil menatap iba sang kakak.
Habibi tak mengira segalanya akan berakhir begini. Andai saja sang ayah tak mengirimkan pesan singkat waktu itu, mungkin dirinya juga akan masuk perangkap dan menjadi alat seperti Dira.
Dira menatap penuh amarah ke arah sang adik yang masih terlihat tenang disana meski tubuh lelaki baya yang disebutnya ayah itu telah dibawa pergi oleh ambulance dengan pengawalan ketat pihak kepolisian.
"Kau jangan jadi anak durhaka." Teriaknya kencang.
"Kakak tak salah, karena dia memang papa kakak. Tapi bukan ayahku mereka beda." Habibi menatap kembali wajah Dira.
"Ayah ku ada disana." Tunjuk nya pada sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari tempat mereka semua berdiri.
__ADS_1
Rendi bergerak ke arah mobil dan membukanya perlahan. Nampak seorang dokter turun. Penampakan mobil dari luar tetap sama namun didalamnya terdapat banyak alat medis dengan sesosok tubuh yang terbaring di sebuah brangkar. Mobil sengaja dimodifikasi menjadi sebuah ruang perawatan mini lengkap dengan dokter didalamnya. Hal itu terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa Hermawan.
Beberapa kali percobaan pembunuhan atas dirinya berhasil digagalkan. Membuat Alex berinisiatif mengubah mobil van itu menjadi ruang perawatan bagi Hermawan. Dirasa lebih aman dan tak dicurigai oleh siapun.
Lidia dan juga Jenita tentu saja ter bengong mendengar penuturan Habibi. Jika Hermawan berada di mobil tersebut lalu siapa yang tadi tertembak? Lalu siapa Herdiansyah? nama itu bahkan sempat Ikbar sebut tadi.
"Kak, sadarlah!! kakak hanya diperalat oleh papa kandung kakak untuk memuluskan rencananya. Apa yang dikatakannya semua tak benar."
Papa kandung?
Pertanyaan itu kembali berputar di benak Dira. Gadis itu menggeleng kuat, dia bingung dan pikirannya kacau hingga tak berapa lama Dira jatuh tak sadarkan diri.
🍃🍃🍃🍃
Herdiansyah Herlambang, adalah anak pertama dari pasangan Herlambang dan Kurniati. Bayi itu terlahir 5 menit lebih dulu dari Hermawan Herlambang.
Di usia mereka yang menginjak 5 tahun. Keluarga Herlambang pindah ke kota C untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Herlambang yang kala itu memang telah bekerja di toko eyang terpaksa harus bolak-balik beberapa kali dalam setiap bulannya.
Hingga pada suatu waktu pria dengan dua anak tersebut menerima tawaran yang diberikan eyang Sulastri untuk pindah dan menetap di kota C dengan membawa serta keluarganya.
Senang dan bahagia, tentu saja keluarga kecil itu rasakan. Jika biasanya mereka bisa berkumpul dengan personil yang lengkap diakhir pekan atau diakhir bulan ketika Herlambang pulang. Kini mereka bisa melakukannya setiap hari.
Kurniati yang awalnya hanya menjadi ibu rumah tangga biasa, lambat laun mempunyai keinginan untuk membantu sang suami. Hubungan keluarga kecil tersebut semakin dekat dengan keluarga eyang. Apalagi kehadiran Ikbar yang sering berkunjung hanya sekedar bermain dengan si kembar.
__ADS_1
Semua berjalan sangat manis, tak ada yang janggal dengan tumbuh kembang mereka. Bahkan ketiganya bersekolah di tempat yang sama atas usulan eyang Sulastri.
Hingga sebuah kejadian mengubah semuanya. Kala itu, ketiga bocah usia 10 tahun tersebut terlibat sebuah perkelahian dengan teman sekolah mereka. Lebih tepatnya Hermawan yang sedang mengalaminya. Dia yang memang pendiam dan suka mengalah hanya diam saja kala gerombolan teman teman yang memang suka jahil dan nakal mengganggunya.
Melihat lawannya yang tak melawan membuat mereka semakin menjadi hingga Ikbar pun turun tangan untuk membantu Hermawan. Pertengkaran anak SD itu tentu saja tak seimbang. Namun semuanya nampak syok setelah melihat Herdiansyah yang tanpa kata dan ekspresi malah menghantam kepala lawan Hermawan.
Beruntung korban cepat ditemukan dan mendapat pertolongan. Namun demikian, Herdiansyah tak pernah menunjukkan sifat menyesalnya sama sekali. Justru dirinya tersenyum setelah berhasil membantu sang adik.
Penampakan Herdiansyah tentu saja dianggap tak wajar. Bahkan bocah tersebut mengatakan jika tak meleset tentu saja batu itu akan pas menghantam bagian belakang lawannya. Dengan terpaksa masalah diselesaikan dengan cara kekeluargaan mengingat usia mereka masih kecil. Namun kejadian kejadian janggal tak pernah berakhir sampai disitu saja.
Herdiansyah yang akhirnya lebih sering menghabiskan waktu sendirian seringkali pulang dengan baju yang terdapat bercak darah dimana-mana. Sempat Kurniati mengira bahwa sang anak tetjatuh, namun setelah di telisik tak ada luka sedikitpun pada tubuh sang putra kala itu.
Hingga ditemukannya beberapa ekor kelinci dalam keadaan tak lagi utuh. Disanalah Herdiansyah mengaku bahwa dirinya tengah belajar cara oprasi. Syok, tentu saja. Sebagai orang tua tentu Herlambang dan Kurniati merasa takut dengan kelakuan sang anak yang telah menyimpang itu.
Kejadian itu membuat eyang Sulastri prihatin hingga memanggil seorang psikiater untuk menangani Herdiansyah. Hanya sebulan Herdiansyah menjalani penanganan di rumah orang tuanya. Karena setelahnya, bocah tersebut dibawa paksa untuk menjalani penanganan serius tentang kejiwaannya.
Khawatir bocah tersebut bisa membahayakan keselamatan orang lain disekitarnya, dengan terpaksa Kurniati dan Herlambang menyetujuinya.
Herdiansyah kecil tak menangis waktu itu. Namun sorot mata tenang itu ternyata menyimpan kebencian yang mendalam. Hingga pada dinyatakan sembuh, Herdiansyah kembali ke kediaman ke dua orang tuanya. Namun fakta mengejutkan yang dia terima kala tahu kedua orang tuanya sudah berpulang sebelum dirinya bisa bertemu dengan mereka membuat hatinya kembali sakit.
Lama berdiam dan menghilang. Ternyata Herdiansyah telah menyusun rencana matang guna membalas dendam. Kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya dianggapnya salah Eyang Sulastri yang waktu itu meminta pasangan suami istri tersebut pergi mengantar sebuah pesanan.
Dia tak sudi melihat keluarga eyang bahagia sementara keluarganya telah hancur. Dimulai dengan menghancurkan pertunangan antara Ikbar dan ayunita kala itu. Ayunita dinyatakan hamil ketika belum sah menikah dengan Ikbar.
__ADS_1
Hal itu sontak membuat geger. Hermawan yang beberapa kali berhasil mengikuti sang kakak yang pergi bersama Ayu menebak jika janin yang berada dalam kandungan Ayu itu adalah anak dari Herdiansyah, kakaknya. Namun lelaki tersebut menghilang bagai ditelan bumi. Kehamilan Ayu yang tak lagi bisa menunggu itu membuat Hermawan mau tak mau menggantikan posisi sang kakak demi untuk menyelamatkan nama baik Ayu dan juga kakaknya. Meski dirinya harus rela melepaskan rasa cintanya pada gadis lain dan menerima takdirnya.
Semua kembali berjalan normal hingga kecelakaan yang mengakibatkan meninggalnya seorang Ikbar membuat semuanya menjadi semakin rumit.