
Pagi menjelang ketika Jenita dikejutkan oleh suara Alarm yang berbunyi nyaring. Dikernyapkan mata beberapa kali demi menyesuaikan dengan cahaya yang masuk melalui cela cela korden.
"Aku bermimpi." Ucapnya lesuh.
Merindukan Alex membuatnya hingga terbawa ke dalam mimpi. Entah apa dan mengapa dirinya pun tak pernah tahu. Tak pernah mengenal cinta membuat Jenita hanya tahu rasanya merindu. Seperti saat ini, ketika Andrian harus kembali ke kota S demi menggantikan papanya. Dirinya merasa tak lagi punya seseorang yang bisa menemaninya walau hanya sekedar bercerita.
Keberadaan Rendi disisinya tak banyak merubah keadaan. Pemuda itu masih menjaga jarak aman dengannya. Mungkin karena segan atau bisa jadi karena dirinya takut pada Alex. Yang jelas pemuda itu masih canggung di hadapannya.
Berguling ke kanan dan ke kiri, tak berniat sedikitpun untuk segera bangun dan membersihkan diri seperti biasanya. Jenita benar-benar merasakan malas hari ini. Hingga ketukan di pintu menghentikan gerakan absurd nya diatas ranjang.
"Iya bibi, aku ke tokonya agak siangan."
Jenita masih tak bergeming, namun gadis tersebut mulai memberengut kesal karena ketukan di pintu tak kunjung berhenti. Tak biasanya bibi begitu, bahkan wanita separuh baya tersebut jarang sekali membangunkan Jenita karena gadis tersebut memang tak pernah bangun terlalu siang.
"Iya, bi.. " Ucapan Jenita terhenti. Menatap lekat wajah Alex yang berdiri menatap nya di balik pintu yang terbuka sedikit.
"Sakit?" Pria itu berucap.
Waktu telah menunjukkan jam 7 pagi namun Jenita belum keluar dari kamarnya. Sesuatu yang diluar kebiasaannya. Tentu saja hal itu membuat khawatir mereka yang menjaganya kini. Tak terkecuali Rendi dan bibi. Kedua orang yang secara khusus di perintahkan oleh Alex untuk selalu menjaga Jenita dengan baik.
Kehadiran Alex secara mendadak tak cuma membuat Jenita terkejut. Tapi juga orang-orang yang berada disana. Pasalnya, Alex tak mengatakan apapun tentang kedatangannya pagi ini.
Bukannya menjawab, Jenita masih terdiam menatap Alex yang berdiri khawatir. Tangan lelaki tersebut bahkan telah terulur dan menepel di kening Jenita yang tak panas karena gadis tersebut memanglah tak sakit.
"Kau datang?" Sentuhan tangan Alex nyata dan Jenita barulah tersadar akan keterpakuannya.
"Heem, kamu kenapa? sakit?"
__ADS_1
Gelengan kepala Jenita malah membuat Alex menyipitkan matanya. Menelisik seluruh wajah Jenita dengan tatapan tajamnya. Membuat gadis itu kikuk. Dengan segera Jenita menutup pintu dan segera berlari ke kamar mandi. Segera tersadar dengan penampilannya pagi ini yang terlihat acak acakan.
"Ya, ampun. Kenapa aku bego sekali sih." Ucapnya seraya menutup pintu kamar mandi.
Sementara itu Alex yang masih berdiri di depan pintu kamar Jenita tersenyum lucu. Kemudian melangkah ke ruang tengah dimana Rendi tengah menunggunya dengan rasa gugup luar biasa. Tak bisa dipungkiri kalau dirinya takut membuat kesalahan yang membuat Alex marah nantinya. Namun melihat Alex melangkah dengan senyum yang tersungging di wajahnya membuatnya sedikit legah.
"Ada perkembangan?" Alex mulai bertanya ketika dirinya telah duduk di sofa single yang berhadapan langsung dengan Rendi.
"Belum banyak, tuan. Hanya saja seperti yang saya laporkan semalam. Kalau salah satu anak buahnya melihat mobil hitam yang terlihat sesaat sebelum mereka beraksi menyelamatkan Nona waktu itu." Rendi kembali menjelaskan secara rinci apa yang didapat anak buahnya.
Obrolan mereka terhenti ketika melihat Jenita keluar dari dalam kamar dan melangkah kearah mereka berada. Dengan wajah segar dan senyum yang selalu tersungging di wajah cantiknya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Kenapa nggak ngasih kabar kalau mau datang?"
Ada sekitar 5 orang yang sarapan terlebih dahulu di pagi itu termasuk Rendi. Mereka menolak halus ketika Jenita meminta mereka untuk makan bersama di ruang makan.
"Sengaja."
"Jenita mendengus kecil dengan jawaban Alex. Lelaki itu hanya tersenyum sambil menikmati tempe goreng yang tersedia di meja makan. Semalam, dirinya langsung berangkat dari kota S setelah semua pekerjaannya dirasa telah selesai.
Andrian memberinya kabar jika dirinya harus kembali ke kota S kemarin. Itulah mengapa Alex berusaha menyelesaikan pekerjaan nya sesegera mungkin.
" Apa agendamu hari ini?"
"Belum tahu, tadinya aku ingin membuat kue dengan variasi resep yang dulu pernah aku dan Andrian pelajari. Tapi entah mengapa rasanya aku malas hari ini." Jenita mengunyah nasi dengan sayur bayam dan juga dadar jagung dipiringnya.
__ADS_1
"Istirahat saja kalau gitu. Nanti sore rencananya aku mau mengajakmu menemui seseorang."
"Siapa?"
"Nanti juga kamu tahu, yang. Makanlah, lihat tubuhmu kurus begitu. Sini ku suapin!"
Alex menyodorkan sendok yang berisi nasi di depan mulut Jenita. Awalnya gadis itu menolak namun Alex tak menututinya hingga pada akhirnya Jenita menerima sesuap demi sesuap nasi dari Alex.
*
*
*
"Kenapa kamu tidak memberitahu kami, Lid. Bagaimana pun kita ini adalah keluarga."
Di sebuah rumah mewah di kota S tepatnya di kediaman kedua orang tua Alex. Lidia nampak duduk bersama dengan Kuncoro dan juga Winarni.
Kuncoro memaksa Lidia untuk ikut bersamanya. Setelah dirinya mendengar cerita dari sang putra, mengenai sahabat nya dan juga putrinya tersebut. Keberadaan Claudia sebagai Jenita lambat laun akan diketahui oleh banyak orang. Mengingat saat ini pun Jenita tak lagi memakai wig ataupun kacamata demi menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya. Tak menutup kemungkinan jika orang-orang yang akan mencelakai mereka berdua akan segera bertindak bahkan akan menemukan keberadaan Lidia selama ini.
"Aku hanya tak ingin merepotkan kalian dengan masalahku. Aku bahkan sudah menghindar bertahun-tahun lamanya, tapi mengapa mereka seolah tak pernah melepaskanku."
Winarni mengusap lembut bahu Lidia yang terguncang. Kehidupan pelik yang harus dilaluinya cukup membuat Winarni memahami keadaan sahabat baik suaminya tersebut.
"Tinggallah disini!!. Kamu akan aman berada disini, jangan khawatirkan putrimu. Dia gadis kuat dan pasti akan bisa melewati semua nya dengan baik. Ada Alex yang menemani dan melindunginya kini." Kuncoro berujar lirih.
Kuncoro merasa berhutang budi terhadap mendiang Ikbar. Sahabat baiknya tersebut pernah menyelamatkan Kuncoro dari percobaan pencuri an. Bahkan Ikbar harus menerima enam jahitan di bagian dadanya akibat goresan senjata tajam yang seharusnya diterima olehnya. Tapi dengan cepat Ikbar menepisnya dan menggantikan nya menerima luka tersebut.
__ADS_1
Bagi Kuncoro, tak ada yang bisa menandingi posisi Ikbar dalam hatinya.