
Tubuh Lidia limbung ke lantai, tangisnya pecah seketika manakala Ikbar selesai menceritakan semua kebenaran yang terjadi dimasa lalu. Banyak kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka semua. Tak ada yang mau mengalah bukan berarti semua benar.
Atas permintaan Hermawan, Ikbar kala itu harus menikah dengan Lidia demi menjaga gadis cantik yang telah disakitinya. Hermawan tak berani berharap banyak, dirinya hanya ingin semua baik baik saja dan sang kakak akan menyadari kesalahannya suatu saat nanti.
Namun kenyataannya tidaklah demikian. Herdiansyah menjadi semakin kalap dan menggila hingga merencanakan kecelakaan untuk Ikbar.
Memanfaatkan wajahnya yang sama persis dengan Hermawan dirinya memulai semua rencana. Namun yang mengejutkan, lelaki tersebut tak lantas membiarkan Ikbar mati saat itu juga. Dia merubah rencananya dan membuat Ikbar tersiksa seumur hidupnya.
Sementara Hermawan yang memang tak tahu apa apa menganggap semua yang terjadi adalah garis takdir.
*
*
*
"Maafkan Herman, lupakan semua rasa sakitmu selama ini. Maaf, aku belum mempunyai keberanian untuk berkata jujur padamu waktu itu. Selain karena permintaannya, Aku juga tak mau kehilanganmu. Rasaku tulus meski Aku tahu rasa Herman padamu lebih besar dari yang aku punya. Dia berani mengorbankan kebahagiaannya demi melihat orang-orang disekitarnya bahagia." Ikbar mengusut sudut matanya yang berair.
Dia mungkin kuat dengan semua cobaan yang dihadapinya selama ini dalam sekapan Herdiansyah. Namun dibandingkan dengan penderitaan kedua saudara kembar tersebut, apa yang Ikbar alami belumlah seberapa.
Lidia tak mampu lagi membendung tangisnya. Semua pecah didada sang suami yang kini setia mengelus pelan punggungnya. Ada rasa bersalah bersarang didadanya, semua yang dia simpan sejak lama memang sangat mengganggu pikirannya. Namun Hermawan meyakinkan Ikbar bahwa dirinya akan baik baik saja jika Lidia bersama dengan Ikbar bukan dengan yang lain.
Beberapa saat hening melanda, hanya terdengar bunyi dari mesin yang menunjang kehidupan Hermawan disana. Kangker otak stadium akhir tengah menggerogoti tubuh yang tergolek lemah tersebut.
__ADS_1
Habibi yang setia berada disamping ayahnya nampak sesekali mengusut sudut matanya. Pemuda 18 tahun tersebut nampak sangat terpukul dengan apa yang menimpa keluarganya.
Sedangkan Dira, gadis itu lebih banyak melamun kali ini. Hati dan jiwanya terasa hancur mengetahui bagaimana dirinya hadir didunia ini. Dia tak menyangkah jika lelaki yang beberapa waktu terakhir lebih dekat dengannya tersebut ternyata bukanlah papa Hermawan namun Herdiansyah papa kandungnya yang sebenarnya.
Lalu bagaimana dengan kondisi Ayu?
Wanita paruh baya tersebut telah dibawa ke rumah sakit jiwa. Depresi yang dialaminya semakin tak terkontrol. Terkadang, Ayu menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan namun sesaat kemudian dirinya akan kembali meracau tak jelas dan berujung mengamuk. Saat ditemukan, kondisinya masih sama seperti waktu Habibi melihatnya kala itu. Terikat di sebuah kamar yang hanya ada kasur dan sebuah meja kecil disalah satu sudut kamar utama tempat kedua orang tuanya menghabiskan malam.
🍃🍃🍃🍃🍃
Hari melelahkan telah berganti, namun sakit dan juga luka itu masih terasa. Sangat nyata meski rasanya tak ingin lagi mengingat.
"Yank, hari ini aku harus kembali ke kota S. Ada sesuatu yang harus aku urus." Alex merengkuh pinggang ramping gadisnya.
Luka tembak yang bersarang di bahunya tepat mengenai pembuluh darahnya. Hingga saat tiba di rumah sakit kondisi Anto sudah tak sadarkan diri. Pendarahan hebat yang terjadi padanya membuatnya kehilangan banyak darah.
Beruntung, di pertengahan malam pemuda dengan segenap rasa bersalahnya tersebut sadar dan berhasil keluar dari masa kritisnya.
Jenita menganggukkan kepalanya, dia paham akan semua itu. Bagaimanapun Alex tak bisa berada disisinya setiap waktu. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan dengan segala tanggungjawab terhadap ribuan karyawan di semua usaha yang dikendalikannya.
"Aku segera kembali begitu semuanya beres. Dan ingat!! jaga dirimu sebaik mungkin, Aku tak ingin dengar dirimu sakit nantinya."
"Iya aku ngerti. Jam berapa berangkat?"
__ADS_1
Alex menatap jam dipergelangan tangannya sebentar. Diusapnya pucuk kepala Jenita lembut sebelum beberapa kecupan hinggap disana.
"Jam 11,aku akan ke kantor polisi dulu, setelahnya langsung berangkat ya."
Rumah sakit merupakan tempat yang mengerikan bagi sebagian orang. Akan tetapi pada bulan bulan terakhir ini menjadi rumah ke dua bagi keluarga Jenita. Bukan hanya karena kondisi Ikbar yang masih belum pulih benar kini mereka harus lebih menahan rasa sabar dengan masuknya Hermawan disana.
Seminggu berlalu, keadaan sudah mulai membaik. Termasuk Anto yang sudah mulai bisa bergerak meski tak banyak. Bahu sebelah kanannya nampak membengkak paska oprasi.
Akan tetapi keadaan si kembar tak bisa dikatakan baik baik saja. Sejak semalam tubuh Hermawan nampak sering kejang dengan nafas yang tak lagi teratur seperti biasanya. Alat bantu nafas yang sebelumnya sempat dilepas karena keadaannya yang mulai membaik terpaksa harus dipasang kembali.
Sama halnya dengan Hermawan, keadaan Herdiansyah juga tak baik baik saja. Tubuh yang semula tak menunjukkan gejala apapun tiba-tiba muncul bercak kebiruan. Tubuh nya juga mengalami kejang. Dokter bahkan tak bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada tubuh Herdiansyah. Kecuali luka bekas oprasi pengambilan proyektil yang bersarang didadanya tak ada luka apapun lagi. Namun kondisi lelaki tanpa riak di mukanya tersebut nampak kritis.
Meski ada rasa enggan dalam dada namun Dira masih setia berdiri di depan kaca ruang ICU tempat dimana sang papa menjalani perawatan. Gadis tersebut berusaha tegar meski nyatanya dirinya rapuh. Tak ada tempat untuknya hanya sekedar mengeluh. Namun Dira masih harus bersyukur karena pada kenyataannya sang adik tak menjauhinya setelah apa yang terjadi.
Tepat jam 2 siang Hermawan menghembuskan nafas terakhirnya di temani oleh sang putra. Habibi nampak berbisik lirih disamping telinga sang ayah sebelum sebuah senyum terukir di sudut bibir pucat lelaki paruh baya tersebut.
Semua tak bisa terelakkan. Jodoh, maut, rizky dan juga takdir tak bisa ditawar. Meski semua makhluk hidup mempunyai porsi masing-masing dalam menjalani takdirnya. Suara haru terdengar pilu. Lidia bahkan memeluk erat tubuh suaminya untuk meredam rasa bersalahnya. Bertahun-tahun dirinya membenci Hermawan karena meninggalkannya waktu itu. Lidia bahkan masih berharap lelaki cinta pertamanya tersebut sadar dan mau memaafkannya. Akan tetapi semua tak akan mungkin terjadi, Hermawan telah pergi membawa senyum yang masih melekat dibibirnya.
20 menit berlalu, dokter datang dengan membawa kembali berita duka. Herdiansyah dinyatakan meninggal dunia karena kegagalan salah satu organ ditubuhnya sehingga darah tak dapat mengalir sempurna sehingga menimbulkan kebekuan.
Bukan tim dokter tak ingin berusaha. Mereka telah bekerja keras selama seminggu ini. Namun lagi lagi takdir berkata lain terhadap dua orang saudara kembar tersebut. Mereka datang dan pergi bersama.
Dira dan Habibi adalah dua orang yang terlihat paling terpukul. Keduanya harus kehilangan 2 orang yang merupakan tonggak hidup mereka selama ini. Kedua bersaudara beda ayah tersebut saling memeluk erat menumpahkan segela perasaan yang berkecamuk dalam dada keduanya. Dira bahkan berulang kali tak sadarkan diri, berbagai kenyataan menghantamnya secara bertubi-tubi membuat raga gadis malang itu kembali rapuh.
__ADS_1