
Lain Claudia dan Alex lain pula Andrian dan Dira. Keduanya sedang dipusingkan dengan banyaknya pesanan. Pesanan online yang tentu saja diterima oleh ruko tempat produksi milik Jenita sedang membludak. Bukan hanya bolu tapi, tetapi pesanan untuk kue kering selama seminggu kedepan pun sudah membuat mereka sangat repot.
"Aku membutuhkan beberapa tenaga bantuan untuk produksi di toko. Bagaimana kalau sebagian tenaga yang berada disini membantuku di sana?" Dira berucap sedikit frustasi.
Asalnya, pesanan bolu yang paling laris saat ini adalah bolu dengan resep terbaru dan juga Jenita lah yang paling mahir akan hal itu. Namun untuk menolak pun mereka tak punya keberanian untuk itu.
"Tidak bisa mbak. Selama seminggu ke depan pesanan online kita juga sedang menumpuk. Kita semua disini pun sedang berunding untuk menambah tenaga bantu. Kalau sebagian dari mereka malah dibawa ke toko maka yang disini akan mengalami kerepotan besar." Marni sekali lagi memperlihatkan semua pesanan yang sudah direkapnya.
Andrian yang sedari tadi hanya diam menyimak perdebatan keduanya hanya menghela nafas. Dia sedang berpikir untuk mencari jalan keluar tercepat agar semuanya bisa terkejar sampai waktunya.
Disaat seperti ini, Chef tampan tersebut mengingat kinerja otak Jenita. Disaat dirinya saja belum menemukan solusi, maka gadis itu akan datang dengan ide ide yang membuatnya takjub. Namun sekarang, dirinya pun harus mati matian berusaha menutupi keberadaan Jenita agar tak ada orang yang tau keberadaan nya.
Bersama Alex, Andrian telah menyusun rencana, Namun tak disangka dirinya malah terjebak dalam situasi sulit begini. Andrian kemudian melangkah kearah depan, dihalaman tepat disamping pos satpam tak sengaja dirinya melihat sebuah motor yang sedang terparkir. Mengingat bentukan motor dan juga warna nya Andrian berusaha mengingat plat nomer yang terpampang disana.
"Mas, boleh minta tolong?" Andrian kini berada didepan pos satpam. Wajah yang selalu ramah kepada siapapun itu tersenyum menatap seorang pemuda yang berada disana.
"Eh, mas Andri. Boleh mas, minta tolong apa ya?" Ucap security yang buru buru keluar dari posnya.
"Saya pengen minum es degan, kira kira tempatnya jauh tidak dari sini mas." Andrian nyengir dan menggusap tengkuknya.
"Ada mas, biar saya yang carikan. Butuh satu kan?"
"Beli buat semua orang dong mas, masa iya saya minum sendiri." Andrian tergelak melihat sangat security mendelik karena kaget.
"Kalau gitu ya mending tukang es degannya aja yang disuruh kemari, mas. Biar ndak repot ambilnya."
__ADS_1
"Ya begitu juga bagus mas, bisa ditolong kan ya?"
Security suami Marni itu tersenyum dan mengangguk kan kepalanya. Kemudian melangkah kembali masuk ke dalam pos satpam ketika melihat Andrian telah berlalu. Tak lama kemudian Andrian melihat security nya keluar bersama dengan pemuda yang membawa motor tadi.
"Udah ke 3 kalinya aku melihat motor itu. Tapi anehnya disaat motor itu ada maka orang yang mengikuti ku tak kurasakan keberadaan nya. Apa mereka orang yang sama ya?" Andrian membatin seraya mencatat plat nomer motor tadi agar tak lupa.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Kembalinya Claudia beraktivitas bukan berarti dirinya bebas menjalani harinya seperti dulu. Tentu saja semua masih dalam aturan Alex. Lelaki tampan itu tak pernah mengijinkan Claudia berada di daerah lain tanpa pengawasan darinya.
Rendi bahkan menjadi bayangan gadis itu disaat Alex harus menghadiri meeting di kantornya. Awalnya Claudia merasa keberatan dan sedikit terganggu ketika dirinya menyadari beberapa orang sedang mengawasi nya. Namun lama kelamaan Claudia terbiasa bahkan merasa bersyukur dengan segala bentuk perhatian yang diberikan Alex padanya.
Rasa kesal yang dirasakannya di awal mereka jumpa seakan menguap kini. Bahkan terkadang Claudia merasakan rindu kala lelaki pemarah tersebut tak menemuinya. Seperti saat ini, ketika dirinya telah pulang dari kantor dan kembali ke apartemen. Ternyata Alex belum kembali ke sana, tak lama ponselnya berdenting menandakan ada pesan yang masuk disana.
Dengan senyum yang mengembang di bukanya pesan dari lelaki yang baru saja menghiasi pikirannya. Namun sedetik kemudian Claudia cemberut setelah membaca pesan Alex. Lelaki itu bahkan menyuruhnya untuk istirahat terlebih dahulu, itu artinya, Alex akan pulang larut malam ini.
"Ish padahal aku ingin mengajaknya makan bebek panggang." Gerutunya kesal. Sejak beberapa hari lalu Claudia ingin makan itu, namun Alex selalu sibuk karena memang pekerjaan kantornya sedikit terbengkalai saat lelaki tersebut harus mengurus perusahaan Claudia juga mengurus Claudia sendiri.
Awal pertemuan yang membuat keduanya saling membenci walau lebih banyak Alex lah yang dominan secara langsung mengatakan nya. Namun keadaan berbanding terbalik untuk saat ini.
"Sin, tak bisakah kamu datang kemari?" Tak ada kegiatan di apartemen membuat Claudia jenuh.
"Kamu tau aturan nya, jika kita nekat nanti tuan pemarah itu pasti akan meledak. Dan aku tak mau menjadi santapannya." Sinta sedikit bergidik membayangkan bagaimana menggilanya Alex waktu itu.
Dia yang menyaksikan sendiri bagaimana seorang Alex ketika murka dihadapan para petinggi perusahaan kala itu sampai menggigil karena takut. Wajah tampan Alex berubah seperti monster yang menakutkan baginya. Hingga dia bertekat untuk tak akan melakukan kesalahan sekecil apapun demi kebaikan kinerja jantungnya.
__ADS_1
"Aku bosan!!" Sudah beberapa kali bahkan ratusan kali Claudia mengatakan kalimat tersebut. Namun nyatanya tak ada akses yang memperbolehkan dirinya keluar tanpa sepengetahuan Alex.
"Aku menjadi seperti tahanan disini. Kamu tau, Sin."
"Aku tahu itu. Tapi setidaknya ini semua adalah demi kebaikan dirimu sendiri. Kita tidak tahu apa yang direncanakan mereka di belakang kita. Bahkan siapa mereka pun kita belum mendapatkan petunjuknya. Jadi bersabarlah untuk sementara waktu. Percayakan semua pada tunanganmu itu."
"Kalian memang sama saja!!"
Claudia memutuskan hubungan sepihak. Dia yang memang terlanjur bosan merasa tak nyaman.
"Apa bedanya dengan waktu aku diculik? to sama saja dimana-mana ada pengawal." Gumamnya sambil melongok ke luar apartemen melalui dinding kaca yang terpasang disisinya.
Alex tersenyum kecil, dia yang masuk 20 menit lalu tersebut hanya diam sambil mendengarkan gadis nya menggerutu. Mengenal Claudia lebih dekat dan melihat keseharian nya membuat Alex menggelengkan kepalanya. Jauh sekali dengan penampilan Claudia yang nampak tegas dan berani disaat duduk di kursi nya dikantor.
"Siapa yang sedang kamu umpat?" Alex segera melingkarkan lengannya di perut Claudia. Disandarkan dagunya di pundak gadis itu demi dapat memejamkan matanya sejenak.
Rasa lelahnya terasa hilang menguap bersama angin yang berhembus meninggalkan aroma tubuh Claudia yang menenangkan. Padahal, satu jam yang lalu Alex harus mengeraskan rahangnya demi mencari petunjuk pelaku penculikan Claudia.
Sebuah bukti baru ditemukan oleh beberapa anak buah Rendi. Mobil hitam yang pernah mereka lihat keluar dari rumah, dimana mereka menyelamatkan Claudia di temukan melintas di daerah tersebut. Rasa ingin meledak harus ditagannya kini mana kala dirinya mengetahui siapa pemilik mobil hitam itu.
Tak ada bukti yang kuat membuat langkah Alex sedikit tersendat. Namun tak ada yang bisa menggoyahkan tekat lelaki tersebut. Alex sempat mampir ke rumah Lidia, dimana wanita baya yang merupakan mama Claudia. Berharap ada petunjuk yang bisa membuatnya maju.
*
*
__ADS_1
*
TO BE CONTINUE