
Hidup itu tak selamanya indah, tak selamanya sesuai dengan yang kita harapkan. Hidup itu terkadang bisa lebih kejam namun juga terkadang bisa menghanyutkan.
Kamu harus menjadi orang kuat, agar dalam kehidupanmu ini tak lagi kesusahan dalam menghadapi segala ujian. Menjadi pribadi yang berani dan bisa diandalkan dalam segala hal. Tak hanya untuk dirimu sendiri tapi juga untuk orang-orang yang kau sayangi.
Kata kata Alex terus menjadi semangat bagi Jenita. Apa yang dikatakan oleh lelaki tersebut benar adanya. Dia tak boleh lemah, karena itu akan membuat orang lain semakin bersorak dan menemukan celah untuk bisa menyerangnya.
Jenita melangkah pasti, gadis cantik itu mengeratkan genggaman jarinya pada lengan kekar Alex yang tak sedikitpun beranjak dari sisinya. Lelaki tampan tersebut selalu ada sebagai penguat bagi Jenita.
Pintu kamar rawat yang memang terbuka lebar itu memudahkan mereka untuk segera masuk ke dalam. Kuncoro dan juga sang istri masih nampak disana. Sedang Lidia terlihat sedang menyuapi Ikbar. Mereka menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
Senyum mengembang terlihat dari bibir Lidia menatap ke arah sang putri yang terus berjalan semakin masuk ke dalam ruangan.
Tatapan mata teduh itu kembali bersitatap dalam garis lurus dengan mata Jenita. Gadis itu menoleh sesaat ke arah Alex yang kemudian mengangguk dan perlahan melepaskan genggaman tangannya, membiarkan gadisnya melangkah mendekati ke dua orang tuanya.
Kuncoro menepuk pelan pundak sang putra. Dia benar-benar merasa bangga dengan apa yang dilakukan oleh putranya tersebut. Alex menoleh, menatap wajah ayahnya sejenak. Keduanya menyingkir sebentar untuk memberi ruang pada keluarga kecil yang baru berkumpul tersebut. Sebelum melangkahkan kakinya, Alex kembali menoleh kearah Jenita. Gadis itu tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya.
*
*
*
__ADS_1
Isakan lembut masih terdengar. Bibir mungil tersebut tak mampu bersuara. Jenita menggenggam erat jemari sang papa dan menciumnya berkali-kali.
Ikbar yang sudah tersadar dari kemarin masih terlihat lemas. Tubuhnya masih sulit digerakkan namun senyum di bibirnya tak pernah surut terlihat. Tatapan mata sayu nan teduh tersebut terlihat berbinar kala bisa melihat putrinya tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas.
Lidia banyak menceritakan tentangnya dalam masa tidur panjangnya. Wanita itu tak bosan mengungkapkan semau yang terjadi sepeninggal sang suami. Ikbar bangga pada kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya tersebut.
Ikbar yang kini di dudukan bersandar pada bantal bantal bisa leluasa merasakan pelukan hangat dari sang anak. Kedua tangannya bergerak pelan mengusap wajah kemerahan Jenita yang menangis.
Banyak hal yang ingin mereka ungkapkan namun semua seperti tertahan ditenggorokan. Jenita lebih banyak menghabiskan waktunya memeluk tubuh ringkih lelaki paruh baya itu erat. Merindukan dekapan seorang ayah sejak bayi membuatnya begitu bahagia kala impian itu bisa diwujudkannya saat ini.
Bersyukur dengan keadaan yang ada meski semua harus dilaluinya dengan penuh air mata. Papa yang selama ini telah dianggap telah tiada oleh nya bahkan mungkin seluruh orang ternyata masih hidup dan menanggung banyak penderitaan.
🍃🍃🍃🍃🍃
Chef muda dan rupawan tersebut bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menetralkan detak jantungnya dan meredam emosi yang bergejolak dalam hatinya.
Senyum tipis tersungging di bibir seksinya. Dia benar-benar tak menyangkah akan melalui semua kejadian ini dalam hidupnya. Selama ini, hidupnya,, karirnya dan juga keluarganya nyaris hidup dengan sempurna. Tak pernah terbesit sedikitpun kejadian kejadian mengerikan akan terjadi.
Sejak pertama kali mengenal Jenita, petualangan dalam hidupnya serasa dimulai. Chef tampan dengan banyak pesona dan dikagumi banyak fans tersebut baru merasakan bagaimana menjalani hidup yang berwarna.
*
__ADS_1
*
*
"Pa."
Ikbar tersenyum lembut. Putrinya itu sangat cantik dan cerdas. Tak bosan bosannya dia ciumi wajah itu. Air matanya menetes lagi dan lagi. Namun kali ini tentu saja air mata yang berbeda, air mata kebahagiaan.
Harapan untuk bisa bertemu dan memeluk putrinya yang sejak dudu kini bisa terwujud dan bukan lagi sebuah angan semata. Dia bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk bisa memeluknya kini.
"Kenapa? ada yang sakit?"
Jenita mengurai pelukannya. Gadis itu meneliti keadaan sang papa sedemikian rupa. Hatinya sangat bahagia saat ini, dirinya bisa bermanja seperti yang dulu selalu diimpikannya.
"Papa, bahagia. Putri papa ternyata sudah besar bahkan sebentar lagi akan menikah. Waktu tak terasa cepat berlalu. Dulu, kamu masih berusia 7 bulan saat terakhir kali papa melihatmu tersenyum malam itu. Seharian kita bermain bersama sampai membuat mama mengomel karena kamu tak mau lepas dari papa. Namun siapa sangka, hari itu adalah hari terakhir papa bisa memelukmu."
Jenita kembali memeluk erat tubuh lemah lemah itu penuh sayang. Tak ada bayangan atau kenangan apapun tentang lelaki itu dalam benaknya. Foto yang dilihatnya pun tak seperti ini. Sosok gagah, tampan dan memiliki senyum yang sangat indah itu kini terbaring tak berdaya.
Butuh waktu bagi Ikbar untuk bisa berdiri atau bahkan berjalan normal. Tulang ekornya mengalami kelumpuhan karena lamanya dia harus terduduk dilantai. Namun dokter Wirya mengatakan jika tak akan ada yang bisa menghalangi keajaiban dari sang Pencipta jika Dia sudah berkehendak.
"Apa dia baik?" Ikbar sedikit tersenyum menatap wajah malu sang putri.
__ADS_1
Gadis cantik itu hanya menganggukkan kepalanya dengan pipi yang sudah bersemu merah. Sementara lelaki yang menjadi obyek pembicaraan mereka masih terlihat tenang dengan ponsel yang menyala ditangannya. Sesekali dahinya berkerut namun sekejap akan berubah menjadi datar kembali. Tak ada yang mampu membaca ataupun menebak tentang apa yang terjadi pada lelaki tersebut.