DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 59


__ADS_3

Perlahan kondisi Ikbar membaik. Bahkan responnya pada sekitar pun sudah semakin meningkat. Mata yang pada awalnya tak bisa melihat dalam terang pun kini perlahan mulai bisa menyesuaikan dengan cahaya. Meski butuh waktu untuk pulih total namun bagi Lidia dan Kuncoro itu adalah perkembangan pesat yang terjadi selama seminggu terakhir.


Belum adanya suara yang keluar dan juga respon jika diajak bicara membuat mereka harus menambah stok sabarnya.


Wajah dan tubuh Ikbar pun menunjukkan perubahan kearah yang positif. Tubuh yang awalnya berwarna pucat seolah tanpa darah itu sudah nampak berisi dan segar. Meski hanya terlihat tulang dan kulit namun setidaknya sekarang sudah lebih baik.


Lidia sudah bisa bernafas lega, setidaknya dokter Wirya mengatakan bahwa kondisi Ikbar keseluruhannya sudah membaik. Hanya memerlukan proses penyembuhan yang sedikit lama terutama dari segi motorik dan mental.


Terlalu lama diikat dengan posisi tertentu membuat sebagian tubuh Ikbar mengalami kelumpuhan fungsi. Dari kedua lengan, kedua kaki dan juga pinggulnya yang bermasalah karena bagian itu dipaksa terus menerus berada diposisi yang sama.


Ruangan yang redup tanpa adanya sinar matahari yang masuk semakin menambah kondisi tubuh Ikbar seolah mati. Belum lagi mentalnya yang dipaksa kuat padahal jelas semua tak pernah baik baik saja.


"Bersabarlah dan terus bantu dia. Kamu bisa membantunya berlatih sebelum dirinya bisa menggerakkan tubuhnya sendiri. Hanya sebentar dan dengan gerakan gerakan ringan saja. Seperti meremas, menekuk lengan, jemari atau kakinya. Lakukan berulang paling banyak 3 kali dalam sehari untuk permulaan. Setelah satu minggu bisa meningkatkan latihan menjadi bertahap untuk mengurangi rasa sakit yang akan ditimbulkan oleh gerakan tersebut. Meski tergolong ringan, mengingat berapa lama bagian itu mengalami kelumpuhan pasti akan menimbulkan rasa nyeri bahkan sakit diawal."


Dokter Wirya membicarakan hal tersebut pada Lidia yang segera mengangguk cepat tanda wanita baya tersebut paham.


"Jangan terburu-buru, semua butuh waktu. Ajak bicara suamimu meski mungkin untuk saat ini dirinya tak bisa merespon. Tapi kondisi pendengarannya sangat bagus sejauh ini. Alam bawah sadarnya mengerti tentang apa yang kita bicarakan namun logika nya memintanya untuk tetap diam. Mungkin itu yang dilakukan Ikbar selama ini untuk menahan sakitnya." Dokter Wirya menghembus nafas berat.

__ADS_1


Tak bisa membayangkan bagaimana menjadi Ikbar yang selama puluhan tahun hidup diruang bawah tanah yang pengap, tanpa cahaya dan juga kondisi tak nyaman. Belum lagi siksaan yang mungkin mendatanginya sewaktu-waktu.


Lidia menggenggam jemari Ikbar dengan lembut. Ditatap nya mata yang masih terpejam itu. Terkadang timbul kerutan didahi Ikbar dan juga ringisan kecil disana sebelum kemudian tenang kembali. Sepertinya kejadian berulang membuat nya ber sugesti akan hal itu.


🍃🍃🍃🍃🍃


Kota C.


Seminggu berlalu tak terjadi hal hal yang mengkhawatirkan. Belum adanya pergerakan dari pihak Hermawan bukan berarti orang-orang Alex akan berdiam dan bersantai. Mereka tetap siaga ditempat tempat yang sudah diperhitungkan oleh Alex.


Apapun yang dilakukan Hermawan dan Ayu tak pernah luput dari pantauan mereka. Anak buah Alex yang berada dibawah komando Aldi dan digerakkan oleh Anto itu tak kenal lelah saling berganti.


Dalam seminggu juga Hermawan sempat datang dia kali mengunjungi putrinya hanya untuk memastikan bahwa sang putri memang tinggal disana. Dira beralasan kalau dirinya hanya ingin mandiri. Di ruko dirinya juga bisa leluasa untuk ikut terjun langsung membuat adonan bolu yang merupakan hobi lamanya. Semua alasan tersebut nampak bisa diterima oleh Hermawan sehingga lelaki patuh baya tersebut tak pernah menaruh curiga pada sang putri.


Sementara Dira hanya bisa memendam kekecewaannya yang mendalam atas segala kelakuan dan tindakan ke dua orang tuanya dulu. Namun Dira hanya bisa memendamnya tanpa bisa meluapkan apa yang dirasakannya. Mencoba untuk pura-pura tak tahu apapun sepertinya akan lebih baik dari pada terjadi ketegangan yang akan memicu pertengkaran dalam keluarganya.


Dira hanya berharap kedua orang tuanya akan berhenti mengusik kehidupan Jenita dan ibunya yang sudah berbahagia.

__ADS_1


Senyum manis tersungging dibibirnya kala menyaksikan vidio viral yang menayangkan acara konfrensi pers yang dilakukan Jenita dan Alex. Mau berontak bagaimanapun tak akan bisa menghapus ikatan darah yang ada. Gadis itu semakin mengakui siapa dirinya dan juga siapa Jenita. Ambisi sang mama yang memintanya untuk menjatuhkan Jenita menjadi pepesan kosong yang tak berguna.


"Mbak Dira, ini laporan untuk minggu ini. Tadi Lisda datang mengantarkannya kesini, kebetulan mbaknya belum keluar kamar." Marni meletakkan sebuah map warna biru dimeja kecil yang terdapat dihadapan Dira.


"Makasih ya mbak, Mar." Dira tersenyum.


Berada di ruko dengan beberapa pegawai membuat Dira merasa betah. Selain tak terlalu ramai, keadaan disini pun terlihat lebih menyenangkan tanpa adanya tekanan. Mereka bisa saling ngobrol dan bercanda lepas. Tak seperti ditoko yang semua harus penuh dengan ini dan itu.


Mungkin karena tempatnya yang langsung berhubungan dengan konsumen. Sedangkan disini mereka bekerja hanya untuk memenuhi pesanan online saja sehingga mereka bebas berkreasi dan meng ekspresikan diri masing-masing. Tak ada drama ataupun acara saling sikut antara pegawai satu dan lainnya. Semua berbaur jadi satu dan saling membantu.


"Oh ya mbak Mar. Bagaimana dengan pesanan hari ini? ada kendala?"


"Aman mbak, tadi pagi sebelum berangkat ke toko. Mas Andrian juga kesini dan memeriksa semuanya. Kata Mas Andrian sih semua sudah siap tinggal eksekusi aja gitu."


"Bagus deh kalau gitu mbak. Nanti siangan kalau sudah kelar semua pesanan, aku mau coba resep lainnya lagi deh mbak. Tapi masih penasaran sih sama yang kemarin, soalnya beda banget hasilnya dengan yang pernah Jenita buat." Serunya lagi lagi dengan senyum yang mengembang.


"Kalau sama Mbak Jen mah saya nyerah deh mbak. Kelasnya udah sekelas mas Andrian itu sih. Mana bisa lawan kalau saya, hihihi."

__ADS_1


"Hahaha mbak Mar bisa aja. Tapi bener juga ya, secara Jen sudah jago buatnya. Jujur saja aku penasaran sih mbak. Kalau rasa sih sudah lumayan anggap saja perbandingan 10 : 7 gitu. Hahaha ngarep banget lo ya saya sampai dinilai sendiri." Dira tergelak diikuti Marni.


Keduanya nampak akrab setelah Dira memutuskan tinggal di ruko tersebut beberapa waktu lalu. Tanpa disadari oleh Dira bahwa kedekatan Marni juga disertai dengan kewaspadaan terhadapnya. Marni bertugas untuk memantau segala gerak gerik Dira bersama 2 orang lainnya. Bagaimanapun juga Dira adalah putri kandung dari Hermawan dan Ayu. Karena itulah Andrian meminta mereka untuk lebih waspada tanpa harus curiga berlebihan.


__ADS_2