DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
..... .....


__ADS_3

Yong Yan bingung dengan apa yang terjadi padanya. Dirinya tidak melihat adanya orang lain di sekitar tempat tersebut namun kenapa tiba-tiba dirinya terpelenting jauh dan mendapat luka yang lumayan. Yong Yan segera bangkit dan mencari serta melihat sekeliling jikalau ada serangan tersembunyi yang di tunjukkan untuknya. Yong Yan merasa dirinya mulai turun instingnya sehingga tidak menyadari bahaya di depannya. Yong Yan kembali mempertajam pendengarannya serta penglihatannya. Namun nihil, beberapa waktu berlalu keadaan tampak lengang dan tidak terjadi apa-apa seolah-olah tidak berpenghuni. Yong Yan memandang penuh kewaspadaan, walau sunyi menyimpan misteri yang mengerikan. Yong Yan juga merasa bahwa tempat tujuan sudah di depan mata namun untuk menggapainya sangat sulit seperti ribuan tali yang melilit tubuhnya serta di tarik menjauh dari tempat tersebut. Yong Yan tampak linglung untuk sesaat.


Tiba-tiba suara tanpa wujud terdengar.


" Kamu akan mendapatkan apa yang di cari namun harus melewati ujian kabut ilusi. Semoga berhasil!"


Suara tersebut menginstruksikan untuk melangkah maju. Ketika dirinya melangkah setapak dirasa tubuhnya tidak lagi terlilit ataupun berat. Yong Yan mulai melangkah setapak demi setapak sebab tekanan dari tempat tersebut sangat berat.


Tiba-tiba......


" Tuan kemari mendekatlah, apakah tuan tidak mencintai ku lagi?" bayangan Song Shea muncul dengan melambaikan tangannya ke arah Yong Yan berada.


" Song Shea" Yong Yan tertegun namun berjalan mendekat seolah-olah terhipnotis untuk melangkah maju.


" Iya tuan, kemarilah datang dan peluk aku. Aku sungguh merindukanmu tuan. Setiap saat hampa tanpa kehadiranmu. Segera mendekatlah, apakah kamu tidak merindukan ku?"


Bohong jika Yong Yan tidak terpengaruh apalagi rasa bersalahnya mendominasi perasaannya. Maka dengan mudah ilusi Song Shea menarik perhatiannya.


Semakin Yong Yan maju maka semakin pula Song Shea mundur dan menjauh seolah-olah tidak mau di gapai. Yong Yan langsung merasa takut.

__ADS_1


" Jangan pergi, ijinkan aku menjaga mu untuk memperbaiki hubungan kita yang telah hancur karena kesalahan ku. Ku mohon padamu?" Yong Yan histeris sendiri seperti orang gila yang terus berteriak menyebutkan penyesalannya yang terselip nama Song Shea di setiap ucapannya.


Yong Yan tersandung hingga jatuh, di saat itu pula kewarasannya kembali. Yong Yan telah mengingat semua bahwa Song Shea telah lama meninggal bahkan kini dirinya di sini untuk mencari teratai salju untuk Yong Lanmei. Yong Yan langsung duduk memulihkan dirinya agar terlepas dari ilusi masa lalu nya yang menyakitkan walau sejujurnya itu adalah ulah nya sendiri. Setelah di rasa cukup istirahat dirinya bangkit berdiri dan anehnya kabut tebal yang sedari tadi melingkupi tempat tersebut perlahan berkurang dan tidak di temukannya Song Shea di hadapannya yang sedari tadi memanggil dirinya. Yong Yan mulai melangkah kembali menyusuri tempat tersebut. Selalu saja muncul bayangan masa lalu yang menghambat perjalanannya bahkan wajah Lu Hairan pun ikut muncul dalam bayangan kabut ilusi. Setiap Yong Yan berhasil melawan masa lalu nya tampak kabut tersebut semakin menipis kini tinggal sedikit lagi akan hilang. Yong Yan was-was dalam hati berpikir kali ini apa lagi yang akan tampak di hadapannya.


" Ayah"


Yong Yan samar-samar mendengar suara lirih seseorang yang memanggil dirinya ayah. Dirinya melihat kanan kiri namun tidak tampak wujud orang tersebut.


" Ayah"


Suaranya kini nampak sedikit jelas. Yong Yan berputar kebelakang tetap kosong tidak ada apapun.


" Tampakkan wujudmu, jangan jadi pengecut yang menyamar lagi."


Yong Yan terus mengomel agar asal suara tersebut mau menunjukkan wajahnya.


" Ayah disini."


Yong Yan merasa familiar dengan suaranya lalu perlahan dirinya berbalik dan benar saja Yong Lanmei telah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


" Lanmei ini kamu nak"


" Kenapa ayah jahat padaku, tidak pernah pedulikan aku. Selalu saja acuh tak acuh saat aku butuh ayah di sisi ku"


" Lanmei ini tidak seperti yang kamu ucapkan"


" Arghhh aku benci ayah, tidak ada lagi yang peduli akan hidup ku yang tidak berarti ini bahkan di samakan sampah yang di buang karena kotor. Aku ini anak mu bukan sampah yang bisa seenaknya kamu hilangkan. Jika kamu tidak suka akan kehadiran ku kenapa kamu hadirkan aku sebagai anak mu. Kenapa !!!"


" Lanmei....."


" Tidak jangan mendekat dan jangan sentuh aku. Ayah telah gagal dan kehilangan aku selamanya bahkan aku belum sempat merasakan hangat nya kasih sayang ayah dan pelukan hangat ayah. Kini aku telah pergi jauh dan takkan kembali lagi. Dalam kehidupan ini aku cukup menderita maka pinta ku jika ada kehidupan selanjutnya untuk menempatkan ku pada orang tua yang penyanyang dan peduli padaku. Tidak ingin lagi bertemu dirimu bahkan berpapasan lagi walau sesaat." Tampak sorot mata penuh duka lagi penyesalan di dalamnya. Matanya berkaca-kaca sehingga mengaburkan penglihatannya. Roh Yong Lanmei yang asli muncul sebab permintaannya untuk berbicara pada Yong Yan. Kini ungkapan penuh sesal terus menerus terucap dari Yong Lanmei.


" Lanmei apa yang kamu maksud nak, sungguh ayah menyesal telah mengabaikan mu selama ini. Ayah menyesal telah di butakan harta jabatan serta kehormatan hingga penyesalan ini tidak ada ujungnya. Ayah bodoh dengan segala kelakuan ayah selama ini. Namun, kamu benar nak ayah tidak becus menjadi orang tua bahkan tidak pernah ada saat air mata mu menemani tiap hari-hari mu yang pahit."


" Penyesalan tidak ada gunanya sekarang ini dan asal ayah tau bahwa aku sudah tidak dapat kembali lagi bahkan jika ayah memperbaiki hubungan untuk saat ini. Dan itu bukan untuk ku lagi tapi hanya sebatas raga tanpa jiwa ku?"


" Kamu bicara apa, kamu pasti sembuh dan kita akan kembali berkumpul lagi untuk selanjutnya hingga seterusnya."


" Aku minta maaf, selama ini tidak dapat menjadi anak yang baik dan berguna. Selalu menjadi lelucon dan mempermalukan keluarga. Walau banyak kebencian memenuhi hatiku sejatinya ayah tetaplah orang tua ku. Aku tidak akan lagi mengingat kebencian ini sebab aku ingin bebas dari rasa amarah serta dendam. Langkah ku kedepannya masih panjang. Ayah jaga dirimu baik-baik. Lindungi keluarga kita dari marabahaya yang telah dekat bahkan sudah berada di sisi kalian. Selamat jalan....!"

__ADS_1


Bayangan Yong Lanmei kian mengabur dan terbawa angin. Kini kabut telah sepenuhnya hilang dari pandangan mata. Yong Yan jatuh terduduk menyelami pikirannya yang dahulu buruk sekali. Tampak di hadapannya teratai salju yang bersinar dengan terangnya serta mengkilap saking licinnya. Yong Yan dengan lunglai segera mengambil teratai salju tersebut dan segera bergegas pergi walau dalam angan-angan nya terngiang kata-kata Yong Lanmei.


__ADS_2