
Suara teriakan terdengar memekakkan telinga. Namun suara tersebut tak pernah bisa terdengar keluar atau mungkin memang tak pernah sampai terdengar keluar.
Ruang bawah tanah, sempit dan pengap tersebut seolah sudah kebal akan jerit kesakitan di dalamnya. Bahkan mungkin tikus dan kecoa sudah bosan akan hal tersebut sehingga memilih untuk menjauh dan tak peduli lagi.
Namun tentu saja semua yang terjadi tetap bisa membuat seseorang tersenyum puas bahkan sampai terbahak-bahak. Tak ada sedikitpun guratan penyesalan atau belas kasihan terlihat di wajahnya.
Langkah kaki menjauh disertai tawa yang menggema menandakan bahwa siksaan telah berakhir setidaknya untuk saat ini.
🍃🍃🍃🍃🍃
Jenita membuka matanya kala suara burung berkicau telah riuh menandakan pagi telah datang. Matahari yang masih mengintip disela dedaunan seolah memberi waktu sang embun untuk lebih lama bermanja di atas rerumputan sebelum tiba saatnya bagi mereka menguap dan menghilang.
Jenita merenggangkan kedua tangannya. Tidurnya nyenyak sekali tadi malam, bahkan Jenita tak ingat kapan dirinya berpindah ke dalam kamarnya. Karena seingatnya, sehabis makan malam dirinya masih mengobrol dengan Alex di ruang tengah. Bahkan ada Aldi dan Rendi yang turut hadir disana.
Jam baru menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Suasana rumah masih sepi namun Jenita terus melangkahkan kakinya ke dapur karena hanya disanalah terdengar suara kehidupan.
Ada bibi yang sedang berkutat dengan peralatan tempurnya. Wanita baya tersebut nampak begitu serius hingga tak menyadari kehadiran Jenita disana.
"Pagi, bi."
"Eh.., pagi non." jawabnya sedikit berjengkit.
"Bikin apa bik?" Jenita mendekat dan melongok ke arah wajan yang sudah mengepul dengan bumbu di dalamnya.
Harum baunya sangat menggugah selera.
"Nasi goreng non, tapi ini masih untuk para pengawal yang bertugas tadi malam dan juga pagi ini." Ucap bibi seraya memasukkan sayur hijau kedalam bumbu yang sepertinya telah matang.
Jenita mengangguk dan berjalan ke arah lemari pendingin guna mengambil sebotol air untuk dia minum.
__ADS_1
"Nona mau sarapan terlebih dahulu?"
"Nanti saja bik. Jen belum mandi." Cicitnya seraya tersenyum dan kembali melangkah menuju kamarnya.
Dipandanginya halaman samping yang ternyata telah ramai meski mereka masih meredam suaranya agar tak terlalu berisik. Ada sekitar 15 orang sedang duduk disana. Pagi hari adalah waktu santai bagi mereka. Sarapan sebentar lagi dan setelahnya mereka akan kembali bekerja setelah perputaran shif.
Alex memang mempekerjakan para pengawal di rumah baru yang Jenita tempati. Lelaki tersebut juga membuat mereka seolah sedang bekerja dikantor. Dengan jadwal shif dan istirahat namun begitu semua telah diatur dengan sangat rapi di bawah komando Rendi.
Disaat yang lain sedang menyantap sarapan ataupun jam makan maka secara bergiliran mereka ada yang masih berdiam berjaga. Semua kompak karena Alex tak pernah membedakan mereka.
Lelaki tersebut memang nampak kejam, dingin dan angkuh namun dirinya tak pernah semena mena terhadap bawahannya. Bahkan jika ditanya dan diminta memilih maka mereka akan tetap memilih setia pada Alex dari pada harus mencari pekerjaan lain yang belum tentu akan senyaman itu.
"Melamun apa?" Alex yang baru keluar dari kamarnya berhenti disamping Jenita kala mendapati gadis tersebut berdiri sambil menatap ke halaman.
"Kau sudah bangun?" Bukannya menjawab, Jenita mala balik mengajukan pertanyaan membuat Alex berdecak pada akhirnya.
Kebiasaan namun Alex tak pernah marah atas kelakuan sang kekasih. Diacaknya rambut gadis yang masih terlihat cantik meski baru bangun tersebut dengan gemas. Tak berniat menjawab karena pertanyaan yang Jenita ajukan sebenarnya tak membutuhkan jawaban. Mau jawab bagaimanapun pada kenyataannya Alex sudah berdiri di sampingnya.
"Mau ke ruko saja. Aku ingin praktek membuat bolu, rasanya sudah lama tak melakukannya." Senyum gadis itu mengembang, membuat bolu menjadi hobi terbarunya kini.
Tak seperti yang dibayangkan dulu diawal. Ternyata membuat bolu adalah kegiatan yang menyenangkan. Berbagai emosi dapat dicurahkan didalamnya. Membentuk karya sesuai dengan suasana hatinya. Seperti halnya melukis, dan Jenita semakin menyukai hal tersebut.
"Kamu bagaimana? ada kegiatan hari ini?" Alex memang tak sepenuhnya menganggur dan berpangku tangan. Dia masih memegang kendali penuh atas dua perusahaan yang sedang di genggamnya.
"Ada rapat namun di perusahaanmu nanti siang. Aku akan hadir meski secara virtual." Ucapnya seraya menatap wajah cantik alami sang kekasih.
"Aku perlu hadir?" Perusahaan itu memang milik Jenita namun untuk sementara Alex mengambil alih semuanya. Bukan untuk menguasai namun demi sang kekasih bisa fokus dengan masalah yang tengah dihadapinya saat ini.
"Tidak perlu. Aku akan memberitahukan hasil akhirnya padamu nanti. Fokus saja dengan kegiatanmu. Seperti biasa, Rendi akan menemanimu karena Aldi akan bersamaku." Lelaki itu berucap tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku mandi dulu lalu bersiap."
Jenita melanjutkan langkahnya memasuki kamar. Sementara Alex berlalu menuju halaman samping dimana para pengawalnya sedang bercengkrama. Kehadirannya langsung disambut anggukkan kepala oleh mereka. Namun Alex meminta mereka untuk duduk kembali sambil berbincang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Lidia tengah mematuk dirinya di depan cermin. Hari ini dia berniat kembali ke kediaman sang ayah. Sudah cukup baginya untuk bersembunyi di kediaman Kuncoro sejak kejadian pencurian yang menewaskan salah seorang pegawainya tersebut.
Kuncoro tak kala sibuk. Lelaki paruh baya tersebut telah menyiapkan segalanya sesuai dengan strategi yang telah diatur oleh putranya. Entah apa rencana besar Alex kali ini, namun Kuncoro sangat yakin putranya tak akan melakukan hal yang akan membahayakan. Bagaimanapun, Lidia adalah satu-satunya keluarga yang Jenita miliki.
Pengawal bahkan telah berada di kediaman Lidia jauh sebelum wanita tersebut datang. Ada hal yang harus Lidia lindungi saat ini yaitu sang putri.
Wanita tersebut bahkan tampil berbeda, tak ada lagi Lidia yang lemah dan selalu menundukkan wajah bahkan takut untuk berhadapan dengan orang lain. Yang sekarang hadir adalah sosok Lidia yang berjalan tegap dengan langkah pasti dan senyum yang tersungging meski sorot matanya masih menyimpan banyak luka.
Kuncoro dan Winarni sampai sedikit terbengong melihat penampilan Lidia yang jauh lebih fress kali ini. Namun aura yang kuat nampak terpancar dari kilatan matanya yang sayu.
"Lidia is back." Lirih Kuncoro sambil tersenyum menggenggam jemari sang istri. Winarni hanya mengangguk dan menghapus buliran air mata yang tiba-tiba turun membasahi pipinya.
Kuat dan tangguh itulah yang saat ini terlihat dimata pasangan paruh baya tersebut menatap Lidia yang berjalan tanpa ragu dihadapannya. Umur yang tak lagi muda membuat mereka sama-sama saling menggenggam. Lidia berulang kali mengucapkan terimakasih karena kedua sahabat mendiang suaminya tersebut mampu membuka matanya dan bangkit demi menjaga sang putri.
"Aku harus kuat demi putriku. Cukup aku yang mengala dan kalah namun tidak dengan Jen. Jalannya masih panjang." Lirihnya sebelum melangkah pergi memasuki mobil yang perlahan meninggalkan halaman rumah keluarga Kuncoro menuju kediamannya sendiri.
*
*
*
Hai teman teman, Sambil menunggu Alex dan Jen update bisa mampir ke novel temanku ya.
__ADS_1