
Pertemuan itupun benar-benar terlaksana. Alex merasakan bahagia yang teramat sangat. Bisa bertemu bahkan sampai menghabiskan waktu makan siang bersama membuatnya semakin terpesona dengan sosok Claudia. Semakin mantap pula keinginannya untuk mendapatkan gadis itu dan bertekat untuk mengurungkan perjodohan nya dengan Jenita.
Sepeninggal Claudia bersama Sinta. Alex segera meminta Aldi untuk mengantarkan nya pulang ke rumah kedua orang tuanya. Sungguh dia tak ingin lagi menunda waktu.
Sementara Claudia tengah bersiap untuk kembali ke kota C. Sebuah ajang dimana akan menunjukkan hasil kreativitas akan dilaksanakan tiga hari ke depan. Andrian yang memberi tahukan padanya dan mendorongnya agar mengikuti kegiatan tersebut guna lebih mengenalkan produk produk andalan toko kuenya.
Target pasar yang lebih luas adalah tujuan Jenita. Dia ingin lebih mengembangkan toko warisan nenek. Bahkan tidak mungkin dirinya akan membuka toko cabang ke depannya nanti.
"Baru juga kembali, sudah akan pergi lagi." Gerutu Sinta yang membantu Claudia berkemas.
Seminggu dirasa kurang untuk nya bisa bersama dengan sahabat dan juga boss nya tersebut. Mereka yang sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama walau hanya berdiam diri di apartemen maupun dirumah utama, merasa sangat kehilangan kebersamaan tersebut. Namun hanya sebatas itu, karena Sinta pun sangat tahu impian Claudia sejak dulu.
Gadis manis berlesung pipi itu tak pernah melupakan apa yang telah menjadi tekatnya. Claudia hanya tersenyum kecil menanggapi gerutuan sahabatnya. Langkahnya sudah dimulai dan tak mungkin baginya untuk mundur.
"Jika kau ingin menang, maka berjuang dan maju. Tak perduli dengan rintangan ataupun jurang yang mungkin menghadang. Yakin adalah kunci utama sebuah keberhasilan selain usaha dan doa." Pesan mendiang sang kakek yang selalu diingatnya menjadi sebuah semangat bagi Claudia untuk tidak muda menyerah.
"Aku akan sering pulang kalau keadaan disana sudah stabil. Sekarang aku belum bisa meninggalkan nya terlalu lama. Lagi pula, aku baru saja merombak sitem management toko. Kalau aku tidak turun tangan mengawasinya sendiri maka akan sedikit rawan." Jelasnya
Sinta hanya mengerucutkan bibirnya sebagai tanda protes.
"Katakan padaku jika kamu butuh bantuan. Apapun itu sebisa mungkin aku membantumu." Ucapnya tulus yang dibalas anggukan oleh Claudia.
"Denger denger, Andrian memilih hijrah ke kota C. Apa itu benar?"
"Ya, dia menyewa apartemen. Tak jauh dari ruko yang ku pakai sebagai rumah produksi."
"Jangan jangan dia naksir sama kamu lagi. Makanya memutuskan untuk pindah kesana." Sinta cekikikan diujung kalimatnya.
"Jangan ngawur, hubungan kami murni hanya rekan kerja. Sebagai guru les dan murid, juga sebagai teman. Aku terbiasa bertukar pikiran dengannya mengenai perkembangan toko."
__ADS_1
"Itu kan menurutmu, kalau dia menganggap beda bagaimana? memang kamu tahu jalan pikirannya?"
"Mana mungkin dia tertarik sama gadis culun dengan kacamata tebal. Sudah deh jangan menduga-duga hal yang tidak mungkin."
Claudia melangkah mengambil sebuah foto kecil, terpampang jelas wajah sang papa disana. Diusapnya perlahan foto tersebut, terlihat kerinduan yang mendalam disana. Wajah yang hanya dapat dilihatnya dalam foto itu mengobati rindunya pada sosok papa yang tak pernah bisa dijumpainya.
Terkadang takdir terasa sangat kejam baginya. Namun Claudia tidak pernah menyalahkan garis hidupnya, apa yang dia dapatkan sekarang selalu membuatnya bersyukur.
"Pa, bantu Jen. Bantu agar Jen selalu kuat dan bisa bertahan. Jen akan membuat nama mama kembali bersih dan juga membongkar misteri kepergian papa yang tak wajar. Jen sayang papa, rindu papa." Lirihnya
Sinta yang masih berada disana memeluk sang sahabat dengan lembut. Apa yang dirasakan Claudia dia pun merasakannya. Hidup dan dibesarkan di sebuah panti asuhan membuat harus selalu kuat. Beruntung dia di adopsi oleh kakek Claudia.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mobil yang membawa Alex telah merapat di pelataran rumah besar keluarga Tuan Gerrick. Pemuda tampan cucu satu satunya mendiang Tuan Gerrick itu nampak berjalan tergesa memasuki rumah tersebut.
"Ma, Pa." Teriaknya setelah salah seorang pekerjanya membukakan pintu.
"Papa mana ma? Alex ingin bicara sesuatu yang penting dengan papa."
"Papa masih diatas, sebentar lagi turun. Kamu sudah makan, nak?" Wanita cantik tersebut tetap saja lembut pada putra semata wayangnya.
Senakal-nakalnya Alex dirinya tetap memperlakukan putranya penuh kasih. Putra yang hanya satu satunya tersebut dipertahankan penuh dengan cobaan. Alex kecil yang selalu sakit sakitan membuatnya begitu memanjakan sang putra. Berulang kali mengalami keguguran setelah kelahiran Alex membuat Winarni mencurahkan segenap kasih sayangnya tersebut pada sang putra.
"Sudah ma, Alex makan siang bersama bidadari." Ucapnya antusias sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia bahkan tersenyum kecil membayangkan wajah cantik Claudia.
Di umur nya yang sudah dewasa, Alex masih sangat dekat dengan sang mama. Berbeda dengan sang ayah. Kuncoro yang tegas terkadang menimbulkan berbagai perselisihan dengan sang anak.
"Kamu nggak kekantor hari ini?"
__ADS_1
"Sudah ma, ini baru saja pulang bertemu klien. Dan mampir kesini." Ucapnya sambil memasukan kue kering yang diambilnya dalam toples kedalam mulutnya.
"Aldi nggak ikut?"
"Dia kembali ke kantor lebih dulu."
"Kau selalu melimpahkan banyak pekerjaan padanya. Padahal semua itu adalah tugasmu, apa kau merasa malu?" Kuncoro yang baru saja menuruni tangga langsung menyela obrolan sang anak dengan istrinya.
"Ck, dia kan dibayar untuk itu pa. Kalau nggak bekerja lalu buat apa dapat gaji."
"Tapi tidak semua pekerjaan harus kamu bebankan padanya. Aldi juga tak akan mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Lagi pula itu semua adalah tanggung jawab mu."
"Nanti Alex kembali ke kantor. Sekarang ada yang ingin Alex bicarakan sama mama dan papa. Ini penting, menyangkut masa depan Alex."
"jika menyangkut masalah perjodohan itu papa tetap pada pendirian papa. Kamu harus menikah dengan Jenita jika masih ingin menikmati semua ini."
"Tapi pa, Alex sama sekali tidak tertarik dengan nya. Mana mungkin papa tega melihat Alex bersama dengan gadis culun itu. Jangankan tertarik, meliriknya saja Alex sudah mual."
"Jaga mulut kamu, Lex. Keputusan papa sudah bulat. Dan jika kamu ingin menggagalkan nya bersiaplah untuk keluar dari segala kenikmatan yang kamu dapatkan sekarang."
"Maksud papa apa?"
"Maksud papa sudah jelas. Menikah dengan Jenita dan kamu akan tetap mendapatkan warisan kakek atau keluar dari keluarga ini." Tegas Kuncoro sambil berlalu meninggalkan Alex yang terbengong ditempatnya.
"Aaarrrrhh, ma. Mama liatkan? papa benar-benar tak menyayangi Alex."
Winarni hanya mampu mengelus pelan pundak anaknya. Dirinya juga tak bisa melakukan apa-apa. Semua keputusan ada ditangan Kuncoro, dirinya yakin sang suami mempunyai alasan untuk melakukan hal tersebut. Walau terlihat sangat keras, Kuncoro melakukan semuanya demi kebaikan sangat anak dan juga demi mengemban wasiat almarhum papanya.
Terlihat egois namun Kuncoro merasa ini juga terbaik bagi sang putra. Alex meninggalkan rumah kedua orang tuanya dengan perasaan kesal nya.
__ADS_1
"Pasti gadis jelek itu telah mempengaruhi papa. Si@alan, aku berjanji akan membuatmu menderita Jenita." Umpat nya kesal sambil memukul stir mobil nya.