DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 30


__ADS_3

Tak pernah ada manusia yang ingin dilahirkan menjadi orang jahat. Karena semua terlahir sama namun dengan jalan yang berbeda-beda. Baik buruknya sifat manusia bukan orang lain yang membentuk nya. Namun merekalah yang telah memilih jalan itu sendiri.


*


*


*


Alex memijit pangkal hidungnya pelan. Berbicara beberapa waktu dengan Jenita tidak membuatnya tenang. Bahkan lelaki tersebut merasakan rindu yang semakin membuatnya tersiksa. Alex memang telah berada di apartemen miliknya. Namun bukan berarti lelaki tersebut akan benar-benar beristirahat seperti yang telah diucapkannya pada Jenita.


Alex benar-benar tak akan membuat Jenita sendirian. Walaupun telah banyak orang-orang yang berada disekitar gadis itu. Namun Alex masih merasa tak tenang. Bukan tanpa alasan, karena cerita Nyonya Lidia lah yang membuatnya semakin ingin menjaga Jenita setiap waktu.


Masa lalu keluarga yang seharusnya sudah berakhir ternyata tak seperti yang mereka harapkan. Berawal dari kesalahpahaman yang membuat semuanya rancu.


Alex pov.


Siang menjelang sore ketika Alex memasuki rumah besar keluarga Jenita. Rumah yang hanya dihuni oleh ibunya, Lidia.


Wanita paru baya yang masih terlihat sangat cantik tersebut menyambut Alex. Meski jujur dirinya bertanya-tanya siapa sebenarnya pemuda tampan yang mengunjunginya kini.


Setelah mereka duduk diruang tamu sebelah samping. Baru lah Lidia berani bertanya siapa Alex sebenarnya. Disaat mengetahui bahwa Alex adalah putra dari Kuncoro dan Winarni, tangis Lidia tak terbendung lagi. Wanita itu berusaha tenang dan mengendalikan perasaannya.


"Bagai.. bagaimana kabar ke dua orang tuamu, nak?"


"Mereka baik tante, mereka juga mengirim salam buat tante, meminta maaf karena mereka belum bisa datang menjengguk tante." Alex tersenyum, melihat Lidia dirinya seperti melihat Jenita versi sangat dewasa. Namun sedikit perbedaan diantara mereka berdua, Jenita yang selalu tersenyum dan penuh semangat berbeda dengan sang mama yang walaupun tersenyum masih dapat terlihat luka didalam senyuman nya tersebut.


"Tidak mengapa. Asal semua baik itu sudah cukup. Dari mana kamu tahu tante ada disini?"

__ADS_1


Benar, inilah salah satu alasan keterkejutan Lidia atas kedatangan Alex. Selain eyang, Sinta dan Jenita. Tak ada orang lain yang tahu keberadaan nya karena mereka semua menganggap dirinya telah mati beberapa tahun lalu. Begitu juga dengan Hermawan,lelaki yang usianya tak jauh beda dengan Lidia. Sejak kepergiannya dari kota C, Lidia memilih mengurung diri dari dunia luar. Banyak hal yang membuatnya mengambil keputusan tersebut. Hermawan bahkan terkejut ketika mengetahui eyang saling berhubungan dengan Lidia. Lelaki tersebut pada akhirnya tahu nomer ponsel Lidia dari eyang. Tak banyak yang Lidia katakan pada Hermawan, karena dirinya benar-benar tak ingin lagi berhubungan dengan dunia luar.


Itulah kenapa dirinya keukeh melarang Jenita untuk kembali ke kota C dan menemui eyang Sulastri. Namun kekeras kepala an Jenita tak mampu untuk dia cegah, bagaimanapun Jenita berhak tahu tentang papanya walau itu hanya sebuah kisah yang harus membawanya kembali ke kota C demi menjadi ahli waris menggantikan Ikbar, papanya.


"Dari Jen, tan." Alex menjawab apa adanya.


Jenita beberapa kali meminta ijin untuk bertemu dengan sang mama. Gadis itu takut jika mamanya mendengar berita penculikan terhadap dirinya dan menjadi sangat khawatir. Jenita tak ingin membuat sang mama kembali bersedih.


"Nak Alex bertemu dengan, Jen?"


Pada awalnya, Jenita meminta Alex untuk merahasiakan tentang kejadian yang menimpanya. Namun melihat Lidia saat ini membuat Alex tak tega. Lelaki tampan tersebut menceritakan semua yang terjadi hingga berakhirnya Jenita berada bersamanya kini.


Tangis Lidia pecah, wanita baya tersebut tak kuat lagi membendung emosinya. Dengan suara yang sedikit bergetar dia menceritakan masa lalunya ke pada Alex. Luapan emosi tersebut sangat nyata terlihat, bahkan Alex bisa memahami bagaimana wanita tersebut harus kuat selama ini.


Alex bahkan berjanji untuk selalu menjaga Jenita. Dia semakin menyakinkan dirinya bahwa semua tindakannya sudah benar.


Sepulang dari kediaman Lidia, Alex segera memacu mobilnya menuju kediaman ke dua orang tuanya. Dia sangat yakin bahwa kedua orang tuanya sedikit tahu tentang kisah masa lalu keluarga Jenita.


*


*


*


Tak jauh berbeda dengan apa yang didengarnya dari Lidia. Alex kembali harus menarik nafas berat setelah selesai mendengarkan cerita sang papa mengenai keluarga Ikbar.


"Jaga dia, sudah cukup Lidia yang menanggung semuanya. Jangan sampai anaknya juga, anak itu tidak bersalah."

__ADS_1


Pesan Kuncoro yang selalu Alex pegang. Alex yang memang telah jatuh cinta kepada Claudia semakin bertekat untuk menjaga wanitanya dengan baik.


Pov off.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Semua baik?" Alex menghubungi Rendi ketika lelaki itu baru saja membuka matanya.


Tidur di hampir jam 3 subuh tak membuat Alex pusing. Justru kini dirinya tengah bersiap untuk ke kantor Claudia. Ketidakhadiran Claudia kembali di perusahaan membuat Alex harus extra membagi waktunya. Tak ingin lagi terjadi pergolakan di dalam perusahaan tersebut.


"Pertemuan nanti dilakukan di jam 4 sore. Jadi, kamu bisa beristirahat sejenak untuk memulihkan tenagamu." Dibalik kemudi Aldi menatap bos sekaligus sahabatnya tersebut sekilas sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jalan yang mereka lalui.


"Aku hanya butuh segelas kopi." Alex menjawab dengan mata yang terpejam.


"Tidak!! kamu sudah menghabiskan 2 cangkir kopi hari ini. Dan aku tak akan memberikannya lagi. Claudia juga memintaku untuk menjagamu. Namun jika kamu tak mendengarkan ku ya apa boleh buat, nanti aku akan memberitahukan padanya."


"Kamu menghubungi nya?" Sentak Alex, lelaki tersebut langsung menegakkan punggungnya dan menatap tajam Aldi yang masih fokus memutar setir mobil yang dikendarai nya.


"Dia yang menghubungiku. Dia menanyakan keadaanmu." Aldi masih bicara dengan tenang, tak memperdulikan tatapan Alex yang tajam padanya.


"Lalu apa yang kau katakan padanya?"


"Ya ku bilang saja jika dirimu sudah gila kerja sekarang. Bahkan sekedar waktu buat sekedar makan pun terkadang kamu melewatkan nya."


"Kau gila!! kenapa memberitahunya." Pekik Alex yang menendang kursi tempat Aldi dari belakang.


"Lalu? kamu ingin aku berbohong? Ckck tentu saja aku tak akan mau melakukannya. Apa masalahnya? toh semua yang ku katakan benar adanya. Seharusnya kamu senang karena Clau menanyakan tentang mu. Itu artinya dia perhatian padamu. Sekarang terserah dirimu saja, kalau aku sih paling ya mengatakan yang aku tahu seandainya Clau kembali menghubungiku."

__ADS_1


Aldi sengaja menggunakan Claudia sebagai alat untuk membuat Alex mendengarkannya. Sudah hampir seminggu ini, Alex lembur bahkan tak jarang dirinya melihat bos nya tersebut belum sempat tidur hanya demi menyelesaikan pekerjaannya. Aldi hanya tak ingin bos sekaligus sahabatnya tersebut jatuh sakit, yang akan berakibat fatal pada semua rencana yang telah disusunnya dengan sangat rapih.


Tak peduli dengan akibatnya nanti jika Alex mengetahui bahwa dirinya tengah berbohong. Aldi maupun Claudia tak pernah saling kontak. Hanya dengan Sinta lah Aldi saling berbicara dan berbagi cerita. Namun Aldi sangat tahu pasti, Alex tak akan mendengarkan perkataan orang lain. Bahkan kedua orang tuanya sekalipun dan sekarang dirinya hanya mencoba keberuntungan dengan menggunakan nama Claudia.


__ADS_2