
Hermawan menaiki mobilnya, pria baya tersebut keluar rumah padahal jam sudah menunjukkan tengah malam. Mobil terus melaju ke suatu tempat. Sejak siang tadi, sejujurnya perasaan Hermawan tak lagi tenang. Kabar pertunangan Jenita dengan Alex mengejutkannya. Hanya 4 bulan dia tak berada di toko tapi mengapa sudah ada banyak kejutan yang dia dapatkan.
"Sial!!" Umpatnya seraya memukul stir mobil sedikit keras.
Merasa kecolongan sudah pasti, Hermawan bahkan tak menyangka bahwa Alex kembali dan melanjutkan pertunangan mereka. Setahunya, pemuda ambisius tersebut tak tertarik kepada Jenita. Namun kemudian dirinya teringat akan penampilan Jenita saat ini yang berubah drastis.
Pintu gerbang terbuka ketika dirinya membunyikan klaksonnya sebanyak 3 kali. Entah kode atau apa, namun setelahnya barulah mobil kembali melaju masuk semakin dalam.
Anto tersenyum dibalik tempat persembunyiannya. Siasat Alex benar-benar tepat sasaran. Rasa penasarannya membuat dirinya mengambil jalan pintas yang tentunya mempunyai resiko yang semakin tinggi. Keselamatan sang kekasih adalah hal paling terpenting untuknya. Namun hal itu juga bisa membuatnya segera menyelesaikan segala teka teki akan kehidupan Jenita.
Sebagai kekasih tentu saja Alex sangat menginginkan ketenangan dan kebahagiaan bagi mereka berdua. Alex bahkan telah merancang masa depan dengan gadis yang semakin lama semakin membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Tuan muda memang ahli dalam segala hal termasuk stategi. Pantas saja beliau bisa meraih kesuksesan diusianya yang masih muda. Tak seperti ku yang hanya mampu membuat ayah kecewa." Wajahnya berubah sendu ketika mengingat sang ayah. Lelaki baya tersebut masih tersenyum bahkan dibeberapa saat sebelum nafasnya terhenti. Masih teringat jelas di dalam benak Anto bagaimana ayahnya berpesan.
"Tak akan ada kebahagiaan meski engkau berkelimang harta jika hatimu tak nyaman. Dan kenyamanan itu sendiri terketak pada hatimu. Jujur dan selalu ikhlas menjalani semuanya tanpa harus mengorbankan kebahagiaan orang lain adalah hal yang paling mulia dibandingkan dengan senyum namun penuh dengan kepalsuan. Percuma ayah sembuh dan tersenyum kembali, jika disana ada orang lain yang harus menderita dan bersedih demi sebuah senyum yang terbit di bibir ini. Ayah lebih baik pergi dengan damai daripada harus hidup dengan menyaksikan dosa. Bukan hanya kamu yang berdosa namun ayahpun akan sama berdosanya."
Anto memejamkan matanya. Hatinya pilu mengingat segala hal yang dia lakukan demi kesembuhan sang ayah. Namun dengan tegas lelaki tersebut menolaknya apalagi ketika mengetahui bagaimana sang anak mendapatkan uang demi bisa membawanya berobat.
__ADS_1
*
*
*
Alex tersenyum tipis ketika mendapatkan laporan dari Anto. Tebakannya benar, kini hanya tinggal menyelidiki apa yang tersimpan didalam rumah tersebut. Sejauh ini Alex masih kesulitan untuk menyusupkan orang-orang nya kedalam rumah besar tersebut.
Aldi masih berkutat dengan laptopnya. Pemuda tersebut sibuk merangkai semua kejadian yang telah terlewat demi mendapat satu cerita yang mungkin bisa membantu mereka mendapatkan petunjuk.
"Cari tahu tentang Hermawan. Jika dugaanku tak meleset, dia terlibat untuk semua masalah yang terjadi."
"Bukankah ini orang yang sama? tapi tunggu dulu. Dia juga masuk dalam kartu keluarga eyang Sulastri, itu artinya?" Ucapnya terhenti dan menatap ke arah Alex seolah mencari jawaban pasti.
"Hem, lelaki itu pamannya Jen. Paman angkat lebih tepatnya." Alex menjawab sambil sesekali menatap ponselnya yang masih menyala.
Aldi menganggukkan kepalanya, dari sini dirinya mulai paham akan tujuan Alex saat ini. Kembali jemarinya menari indah diatas keyboard nya demi mencari informasi.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃
Lidia merenungkan apa ucapan Kuncoro padanya. Selepas makan malam tadi, ayah dari Alex itu mengajaknya berbincang diruang tengah. Dari pembicaraan tersebut banyak hal yang mengejutkan buat Lidia.
Tak pernah terbayangkan baginya jika keputusan yang diambilnya puluhan tahun lalu akan berakibat fatal bagi putrinya sendiri. Keputusannya pergi dan menghilang diharapkannya bisa meredam semua masalah.
Matanya memerah menahan tangis. Bayangan ketika putrinya disekap selama 10 hari membuatnya menggigil. Jenita tak pernah menceritakan apapun padanya, bahkan ketika dirinya berkunjung ke kota C atas permintaan Alex pun tak pernah ada pembicaraan yang menyinggung hal tersebut.
Antara sedih dan bahagia kini melanda hatinya. Namun rasa cemas yang semakin mendekapnya kini. Kuncoro benar, sahabat mendiang suaminya tersebut berkata bahwa dirinya harus bangkit. Melawan takdir bukan hanya diam menanti takdir. Tidak seharusnya dirinya bersembunyi dan membiarkan sang putri berjuang sendiri.
Lidia kembali bangkit dan melangkah keluar dari kamarnya. Mendekat ke arah Kuncoro dan Winarni yang masih bercengkrama diruang tengah. Pasangan paruh baya tersebut nampak bahagia dan damai, membuat hati Lidia berdesir. Bayangan keluarga bahagia sempat ada dalam angannya dulu. Namun kenyataan membuatnya tak akan mampu merasakan hal manis itu lagi.
Lidia menghela nafasnya sebelum kembali melanjutkan langkahnya dengan senyum yang dia paksakan.
"Kau yakin?" Kuncoro sedikit terkejut dengan apa yang disampaikan Lidia.
Walau memang itu tujuan awalnya untuk membangkitkan semangat Lidia agar bangkit. Namun tetap saja ada kekhawatiran yang terselib disana.
__ADS_1
"Seperti katamu. Aku tak akan membiarkan putriku berjuang sendiri. Sudah terlalu lama aku diam dan mungkin kini waktunya aku melawan."
Kuncoro menganggukkan kepalanya. Senyum mengembang di bibir lelaki baya tersebut. Begitupun Winarni yang menggenggam erat tangan Lidia sebagai dukungannya.