
"Sayang, kamu yakin?" Ini adalah kali ke dua Alex menanyakan akan hal yang sama. Anggukan mantap terlihat dari kepala Claudia membuatnya mendesah pelan.
Alex tak berharap gadis yang dicintainya tersebut mengalami hal yang tak diinginkan seperti kejadian sebelumnya. Bahkan Alex tak ingin lagi gadis itu kembali trauma, dimana Claudia akan merasa ketakutan jika malam menjelang dan menangis kala tengah malam. Setidaknya belum untuk saat ini, karena Alex memang sedang melancarkan rencananya walau terkenal lambat namun semua itu demi kebaikan Jenita juga.
"Tapi, sayang.. "
"Aku harus bangkit. Mau sampai kapan aku bersembunyi begini. Aku tak ingin terlihat lemah, aku harus segera menyelesaikan semuanya dan mengembalikan nama baik mama dan juga mengungkap semua misteri kematian papa. Aku tahu kamu mengkhawatirkan aku, namun semua harus ku lakukan jika aku ingin berhasil dengan apa yang telah menjadi tekatku sejak lama."
Claudia menggenggam tangan Alex lembut. Rasa kesal dan marah yang dahulu ada dalam benaknya terhadap laki-laki yang tengah menatap nya kini perlahan hilang. Bahkan mungkin sudah menguap tak tersisa digantikan oleh rasa nyaman yang diberikannya akhir akhir ini.
"Aku akan menjaga diriku sebaik mungkin. Tak akan lagi ada kejadian seperti kemarin karena kecerobohan ku, aku janji."
Dia tahu, dibalik diamnya Alex menyimpan kekhawatiran yang besar untuk nya. Beberapa kali bahkan Claudia menyadari keberadaan orang-orang Alex tak jauh di sekelilingnya tanpa berniat mengganggu.
"Aku tahu kamu wanita yang kuat. Rasanya aku tak akan bisa melarang apa yang sudah menjadi ketetapan mu. Tapi, apapun yang akan kamu lakukan sertakan aku di dalamnya. Aku akan selalu ada untukmu."
Anggukan kepala dengan senyum mengembang dari Jenita membuat Alex menarik nafasnya kasar. Di pijit pelipisnya pelan, rencana yang sudah berjalan harus diubah ulang karena Jenita sendiri akan masuk ke dalam perannya. Dan itu artinya kewaspadaan Alex harus semakin ditingkatkan.
__ADS_1
Melihat semangat dan tekat Jenita, tak tega rasanya Alex untuk melarang. Pada akhirnya lelaki itu pun mengangguk dan membuat Jenita segera menghambur memeluknya. Hal yang belum pernah gadis itu lakukan, karena selama dekat bahkan tinggal bersama. Hanya Alex lah yang sering memeluknya terlebih dahulu. Spontanitas yang Jenita lakukan tak khayal membuat Alex menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman kemudian membalas pelukan Jenita dengan erat.
*
*
*
Semua berjalan sesuai dengan ketentuan. Sangat rapih dan tak pernah menimbulkan kesan dibuat buat. Orang-orang kepercayaan Alex menjalankan tugasnya sesuai porsi dan peran mereka masing-masing. Tak banyak yang tahu bahkan Andrian yang masuk dalam kelompok itu pun tak sadar jika mereka adalah orang yang dikirim oleh Alex.
Dua orang gadis melamar pekerjaan di toko Jenita. Atas peran Andrian hingga Dira sebagai penanggung jawab dan pemegang kendali toko selama Jenita tak berada disana menerima keduanya tanpa adanya rasa curiga.
Lisda dan Angia, keduanya bekerja sangat profesional satu dibagian produksi dan satu lagi dibagian depan langsung melayani tamu. Tak hanya ditoko, bahkan di ruko tempat rumah produksi Jenita pun sudah bertambah 2 orang pekerja. Ruko dua lantai tersebut menjadi semakin ramai dengan aktifitas yang tak kunjung usai. Bahkan Andrian sampai menyewa beberapa ruko disebelahnya untuk pelebaran area. Tentu saja semua itu adalah ulah Alex yang meminjam tangannya. Sementara lelaki tersebut hanya diam dibalik layar.
Hingga akhirnya Marni dan suaminya harus kembali pindah. Mereka yang diminta Jenita untuk menjaga rukonya diberi akses dilantai 2. Namun sekarang mereka harus pindah ke ruko ke 3 yang juga merupakan mes kecil bagi beberapa karyawan yang menginap begitu juga leny dan Anti. Kedua wanita yang baru saja masuk sebagai karyawan.
Keputusan Jenita untuk kembali ke kota C dengan menggunakan identifikasi Claudia tentu saja membuat semua orang mengkhawatirkan nya. Namun Jenita tetaplah Jenita yang terkadang mempunyai tingkat kekeras kepalahan yang tinggi hingga tak ada seorang pun yang mampu menghalanginya.
__ADS_1
Semua sudah diatur dan semua sudah siap. Beruntung Andrian tak sampai masuk terlalu dalam menjebak Dira. Hingga saat ini, baik dirinya maupun Alex tak menemukan kejanggalan pada gadis itu. Mungkin memang dirinya berbeda dari sang mama. Ayunita lebih agresif, menunjukkan ketidaksukaannya secara nyata dan mempunyai obsesi yang lebih besar.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Kamu yakin, nak?" Sama halnya dengan Alex.
Lidia berulang kali menanyakan hal yang sama. Namun jawaban Jenita tak pernah berubah sedikitpun. Gadis itu tak ingin terlalu lama terbelenggu dengan kisah masa lalu ke dua orang tuanya yang seharusnya sudah usai sejak lama. Namun keegoisan masing-masing pihak membuat semuanya menjadi rancu dan berkepanjangan.
"Ma, doakan saja Jen segera bisa mengungkap misteri meninggalnya papa. Jen yakin mama pun tahu tentang hal itu. Namun Jen tak akan pernah memaksa mama untuk menceritakan segalanya. Jen juga tahu, mama melakukan semua itu demi kebaikan Jen. Tapi ma, Jen hanya ingin menunjukkan bakti Jen pada papa. Jen tak bisa memeluk papa sebagaimana impian Jen selama ini. Ijinkan Jen melakukan apa yang memang seharusnya Jen lakukan sebagai seorang anak. Ketidak adilan yang kalian dapatkan tak seharusnya terus berjalan. Jen ingin semuanya berakhir sampai disini saja."
Dalam dekapan sang mama Jenita menangis. Gadis itu tak pernah menunjukkan kelemahan selama ini. Mendiang kakeknya selalu mengajarkan untuk tetap tegak berdiri dan tak takut akan apapun. Namun Jenita tetaplah seorang wanita, jiwa lemah lembutnya tak dapat dihilangkan begitu saja. Hingga peristiwa penculikan terhadapnya kemarin kembali memicu semangatnya. Dia kembali mengingat semua perkataan kakeknya. Cukup hingga saat ini dirinya menjadi Jenita yang lemah tapi tidak dengan esok hari. Karena esok, Jenita akan terlahir dengan aura yang berbeda.
Alex tersenyum tipis, lelaki yang selalu berada disamping Jenita itu hanya diam menyaksikan bagaimana wanitanya sedang berbicara. Ada marah, benci dan juga kobaran semangat yang menggebuh dalam setiap kata yang dia ucapkan.
"Nak Alex, berjanjilah pada tante kalau kamu akan menjaganya. Tepati semua janji yang kamu ucapkan pada tante. Hanya Jen yang tante miliki saat ini." Kembali wanita baya tersebut sesenggukan. Andai bisa dia tak ingin melibatkan sang putri.
Namun benar yang Alex katakan, sifat egois, tamak dan iri itu sangatlah susah untuk dihilangkan. Bahkan akan mendarah daging seolah menjadi sebuah kebutuhan. Tak habis pikir memang, karena bahkan suaminya Ikbar sampai merenggang nyawa namun semua itu belumlah bisa menghapus semua masalah. Dan seakan tak puas hingga menargetkan sang anak yang jelas tak tahu apapun permasalahan di masa lalu.
__ADS_1