
Pov Jenita.
Aku terlalu bingung kala Alex mengajakku pergi secara mendadak. Dia datang menjemputku yang saat itu baru saja selesai dengan laporan keuangan toko. Bukannya Aku tak bahagia melihat kedatangannya. Namun Alex penuh dengan misteri bagiku. Aku bahagia tentu saja, namun penasaran dan bingung kurasakan lebih mendominasi saat ini.
Mobil yang kami tumpangi melaju pelan. Awalnya aku tak begitu banyak menebak, hanya duduk diam sedang dia terlihat menyelesaikan sesuatu sepertinya. Karena untuk beberapa saat Aku melihatnya sibuk membalas entah pesan atau email dari ponselnya.
Alex lelaki yang sibuk, akan tetapi dirinya sangat bisa diandalkan. Dulu diawal pertemuan kami semuanya terjadi sangat rumit. Aku yang ingin menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya ternyata menjadi bumerang kala itu.
Saat dirinya memintaku untuk mengakhiri perjanjian perjodohan yang dilakukan eyang dan kakek Gerrick. Hatiku bersorak riang, aku berpikir bahwa hidupku akan jauh lebih baik dari pada harus berhadapan dengan lelaki begis yang memiliki sikap kejam seperti seekor beruang kutub. Hanya dengan menatap matanya saja sudah membuat badan gemetar. Belum lagi jika mulutnya sudah terbuka dengan lontaran kata kata pedasnya sungguh membuatku ingin rasanya mencabik cabiknya. Tentu saja aku hanya berani menggerutu dalam hati. Bagaimana mungkin aku mencabiknya, jika hanya menatap matanya saja badanku gemetaran.
Tapi semua itu terjadi dulu. Saat aku masih setia dengan lakonku sebagai Jenita. Semua berubah kala aku mengalami penculikan. Tak pernah terpikir olehku jika nyawaku ini masih bisa bertahan hingga saat ini.
Keputus-asaan telah menggerogoti jiwa dan hatiku saat itu. Bahkan semangat yang aku punya sebagai Claudia, Ceo yang terkenal berani dalam bertindak dan cerdas dalam berpikir hilang dan menguap tanpa bekas. Yang tertinggal hanyalah Jenita yang lemah, benar-benar lemah bahkan untuk menyelamatkan dirinya sendiripun tak mampu.
Tuhan selalu baik dan pemurah.
Kakek selalu mengatakan demikian padaku hingga perlahan rasa putus asa itu sedikit demi sedikit terkikis.
Entah harus bahagia atau bersedih. Saat itu penculik yang menculik diriku malah bersikap baik padaku. Saat itu aku hanya berpikir untuk bisa menikmati waktu sehari lebih lama lagi.
Keajaiban datang kala Alex datang menolongku. Mataku sayu karena pengaruh obat tidur yang selalu aku konsumsi selama dalam masa penculikan. Namun saat itu aku masih bisa melihat kedatangannya.
__ADS_1
Dua bulan penuh aku menjalani perawatan. Bukan fisikku yang terluka karena pada saat itu Anto memperlakukan ku dengan sangat baik. Bersama bibi Su yang ditugaskannya untuk menjagaku dan membantuku untuk membersihkan diri. Anto jugalah yang sering menyuapiku karena kedua tanganku memang diperintahkan untuk diikat begitupula dengan kedua kakiku.
Selama sepuluh hari dalam penyekapan yang selalu berpindah tempat itu ternyata membuatku mengalami trauma yang berat. Psikisku terganggu hingga aku membutuhkan seorang psikolog untuk mendampingiku dalam proses penyembuhan.
Dan Alex, lelaki itu sangat berperan penting dengan segala apa yang aku alami. Aku dinyatakan sembuh namun aku masih trauma dengan ruangan gelap, sempit dan pengap. Karenanya aku sangat bahagia kala Alex selalu ada disampingku.
Pernah aku berpikir untuk tak terus menerus tergantung pada lelaki itu. Tapi ternyata aku benar-benar tak mampu mengusir rasa trauma ini. Hanya dia satu satunya orang yang tahu bagaimana keadaanku yang terpuruk, dia jugalah yang selalu mendorongku untuk kembali bangkit.
Alex hadir membawa sinar baru menerangi kehidupanku. Kehadirannya membawaku merasakan kehidupan yang baru. Kehidupan penuh semangat dan juga cinta.
Hehehe
Rasanya tak percaya bukan? kami yang sejak awal bertemu hanya terlibat dengan masalah dan bisa dibilang tak akan mungkin akan akur kembali jika dilihat dari kejadian diawal. Namun ternyata rasa itu datang menyatukan kami.
Kubiarkan rasa itu berkembang meski aku tahu itu tak akan muda bahkan mungkin akan menyakitkan untuk ku. Aku hanya ingin menikmati waktu. Waktu dimana aku masih bisa bersamanya.
Salahkah aku berharap? salahkah aku melabukan rasa cinta dan kagum ku padanya? bukankah semua orang berhak merasakannya.
Kupendam dalam dalam rasa ini namun semua usaha yang kulakukan runtuh dalam sekejap kala kata cinta itu terucap dari bibirnya.
Jangan bertanya bagaimana aku. Tentu saja bahagia itu terasa bagai mimpi untukku. Namun ini nyata, aku memilikinya. Memiliki lelaki yang aku cintai dalam diam. Rasa bahagiaku semakin bertambah manakala ku lihat bagaimana upayanya melindungiku bahkan mamaku.
__ADS_1
Puncaknya hari ini. Dalam kebingungan rasa penasaran yang kurasakan sejak awal kedatangan kami terjawab sudah.
Di sebuah rumah sakit disalah satu sudut kota D. Mama dan kedua orang tua Alex juga berada disana. Ketiga orang dewasa itu sepertinya memang menunggu kedatangan kami, terutama aku, karena kulihat Alex nampak tenang berdiri disebelahku.
Tak ingin banyak menduga, tak ingin pula aku banyak bertanya. Aku hanya terdiam mengikuti alur yang mereka ciptakan untukku. Aku yakin semua itu adalah hal baik karena mereka adalah orang-orang terbaik yang ku kenal.
Mereka membawaku masuk ke dalam sebuah ruang rawat. Ruangan itu nampak berbeda, sangat mewah kerena terdapat beberapa peralatan canggih dan juga luas kamar dengan balkon. Namun yang menarik perhatian ku sejak awal adalah seseorang yang nampak berbaring di brangkar yang berada di sebelah kanan pintu masuk bertepatan dengan jendela juga bisa berhadapan langsung dengan pintu yang mengarah ke balkon.
Seorang laki-laki dengan badan kurus dan tangan masih terdapat selang infus disana. Dia menoleh ke arahku dengan pelan setelah mama membisikkan sesuatu di telinganya.
Tatapan mata kami bertemu, entah mengapa jantungku berdetak semakin kencang saat itu juga. Sorot mata teduh itu menatapku berkaca kaca. Aku merasa kebingungan namun juga tak ingin berpaling dari wajah itu. Rasa rasanya aku sangat mengenal wajah yang nampak sayu dengan bibir yang tersungging mencoba untuk tersenyum.
"Jen." Lirihnya semakin membuat jantungku tak karuan. Badanku gemetar dengan keringat dingin mulai membasahi tubuhku.
Ku lihat mama sudah menangis terisak sambil ditenangkan oleh calon ibu mertuaku. Aku merasakan semua orang yang berada di ruangan ini sedang menatapku seolah aku adalah seorang pesakitan yang akan diadili.
Kurasakan sepasang tangan memegang pundakku. Aku tersentak namun aku tetap diam ditempat karena aku sangat hafal bagaimana rasa tangan yang sedang mendekapku memberi kekuatan. Mataku masih menatap mata sayu laki-laki dihadapanku tanpa bergeming.
"Itu papa Ikbar, sayang." Bisikan Alex membuat duniaku seakan runtuh. Aku menggeleng tak percaya dengan takdir yang telah mempermainkan ku selama ini.
Aku ingin marah, aku benci namun aku juga rindu. Entah pada siapa aku bisa meluapkan segala sesak dadaku saat ini. Nafasku semakin berat dan dunia terasa semakin gelap.
__ADS_1
Yang ada hanya pelukan hangat Alex.