
Pagi yang cerah dengan kicauan burung menambah semarak suasana. Langit menang tak menampakkan mendung namun mentari tak lagi bersinar terik seperti biasanya.
Tak ada kesibukan berarti, semua masih berjalan seperti biasanya. Bibik masih sibuk dengan rutinitas hariannya. Namun kali ini ada Lidia yang membantunya.
"Pagi ma, pagi bik." Sapa Jenita yang baru keluar dari kamarnya.
"Pagi sayang. Sudah bangun?"
Jenita mengangguk dan mendekat, melongok isi panci yang sedang mengebul di atas kompor. Air mendidih yang bergolak mengantarkan bau rempah yang membuat perut siapapun meronta karena lapar.
"Wah, baunya sangat mengngugah selera. Aku jadi lapar." Seloroh Jenita sambil mengusap perutnya.
"Mandi dulu sana. Biar nanti mama siapkan."
"Baiklah, ma." Jenita berbalik dan melangkah kembali ke kamarnya. Namun baru beberapa langkahnya kembali terhenti.
"Em, ma. Alex sudah bangun?"
"Nak Alex sudah pergi pagi pagi sekali bersama. Nak Aldi. Dia bilang akan kembali untuk sarapan. Mungkin sebentar lagi juga datang."
"Ya sudah. Jen mandi dulu ya ma." Lanjutnya membuka pintu kamar dan menghilang seiring pintu kamar yang kembali tertutup.
Semalaman Alex telah memikirkan cara untuk bisa menyusupkan anak buahnya masuk ke dalam rumah besar tersebut. Namun tetap saja mengalami jalan buntu karena memang akses ke sana telah ditutup dan dibuat serapi mungkin oleh Hermawan.
Pagi tadi, tepatnya ketika subuh baru menyapa bumi. Alex yang kala itu ingin membuat kopi karena dirinya tak lagi mengantuk. Lidia menghampiri dan mengajaknya untuk berbincang sebentar. Dari pembicaraan tersebut pula Alex seperti mendapat ide sehingga ditempat inilah dirinya sekarang. Berada disebuah rumah yang menjadi tempat Anto dan beberapa anak buah nya mengintai.
"Biar saya yang melakukannya, tuan. Lagipula, saya masih punya topeng kulit yang pas dan bisa saya gunakan sebagai penyamaran."
__ADS_1
Alex menatap Anto lekat. Misi ini berbahaya karena resikonya sangat besar jika sampai tertangkap. Namun tak ada pilihan lain jika ingin semuanya cepat selesai.
Anto berada dalam kelompok pertama dan mengemban misi yang paling berat. Selain menyelidiki lawan dirinya juga diminta untuk memantau apa saja yang ada disana dan mencari apapun yang bisa dijadikan bukti.
Kelompok ke dua akan masuk beberapa saat setelah Anto dan tugasnya untuk menjaga keselamatan kelompok pertama. Sementara Rendi sudah bergerak mengawasi Hermawan di kediamannya. Jangan lupakan Lisda dan Angia, kedua perempuan tersebut juga telah siap di posisi yang masing-masing.
🍃🍃🍃🍃
Minggu depan adalah peringatan kematian sang suami. Lidia tersenyum menatap foto Ikbar yang selalu dibawanya kemanapun dirinya pergi. Cinta mereka tak pernah salah, hanya saja takdir yang memisahkan mereka sedemikian rupa.
"Rasa rasanya aku ingin segera menyusulmu, mas. Tapi aku tahu, jika aku melakukannya dengan sengaja kau akan marah padaku."
"Kau tahu. Putrimu tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas dan berani. Semua yang ada padamu menurun padanya. Tak ada dari sikapnya yang menurun dariku, dia menegaskan bahwa darah Ikbar mengalir dengan kental dalam tubuhnya."
Lidia menghirup udara lebih banyak. Dadanya merasa sesak tiap kali bayangan bayangan masa lalu hadir dipelupuk matanya.
"Mungkin aku salah karena mengijinkan Jen menerima warisan yang Mama tinggalkan. Namun sungguh niatku bukan karena nilainya. Aku hanya ingin Jen mengetahui bahwa dirinya punya keluarga dan bukan anak haram seperti yang mereka katakan.
" Menyesal sudah pasti. Tapi aku juga bangga padanya yang mampu bertahan dengan banyaknya tekanan yang dia hadapi. Kamu tahu, mas. Perusahaan papa yang di kota S, sekarang semakin maju setelah Jen turun tangan dan menjalankannya. Papa pernah bilang bahwa anak kita itu mempunyai kecerdasan yang tinggi dan tingkat keingintahuan yang sangat besar. Andai kamu masih ada, pasti kamu akan merasakan bangga seperti yang kurasakan saat ini."
Lidia kembali mengusap wajah Ikbar dalam fotonya. Senyum itu tak pernah luntur dari bibirnya yang sedikit bergetar karena banyaknya beban yang dia rasakan. Rasa takut masih ada, namun Lidia berusaha untuk kuat dan tak ingin membuat sang putri cemas.
*
*
*
__ADS_1
Hermawan mengepalkan tangannya erat. Hampir seminggu Jenita tak menunjukkan batang hidungnya, membuatnya kesal. Dia tak lagi bisa memantau gadis tersebut setiap waktu.
"Pa, papa kenapa?" Dira masuk ke dalam ruangan sang papa. Menatap heran lelaki baya yang sedang mengepalkan tangannya sambil bergumam tak jelas.
"Kenapa masuk tidak mengetuk pintu. Apa kamu tak lagi tahu bagaimana caranya sopan santun?" Bentaknya kala sadar sang putri telah berdiri tak jauh darinya.
"Aku sudah mengetuknya tadi. Papa saja yang keasyikan melamun hingga tak mendengarnya."
"Ini catatan minggu ini." Dira menyerahkan catatan hasil stok barang di gudang.
Hermawan mendengus sebal, catatan stok mingguan sudah ada. Itu artinya dirinya harus bersiap untuk pergi berbelanja. Bukan masalah berat sebenarnya, karena hal itu memang sudah menjadi tanggungjawab nya sejak lama. Namun kali ini entah mengapa dirinya sedikit enggan untuk pergi.
"Papa ada masalah? kenapa aneh begitu?" Dira memicing.
"Tidak ada, hanya sedikit lelah mungkin. Sudahlah sana, teruskan pekerjaanmu."
Dira mengangguk dan melangkah menjauh kemudian hilang dibalik pintu ruangan yang tertutup rapat. Hermawan mengusap wajahnya kasar. Ada yang berdenyut dalam hatinya, nyeri dan sakit tanpa sebab.
Dira yang kembali masuk ke dalam ruangannya terdiam. Gadis tersebut merenung dan nampak memikirkan banyak hal. Perubahan sikap ke dua orang tuanya semakin kentara. Dulu sewaktu dirinya dan adiknya kecil, keluarganya sangat bahagia meski menurut pengakuan sang mama mereka dijodohkan.
Keharmonisan yang membuatnya bangga. Tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran gadis manis tersebut. Ada hal yang dipendamnya sangat dalam. Bahkan sebisa mungkin dirinya tak ingin tahu ataupun mencari tahu. Dira memilih untuk berpura-pura tak tahu dengan segala seluk-beluk masalah yang tengah terjadi.
Namun kehadiran Alex beberapa waktu lalu mengusik ketenangannya. Pesona Alex membuatnya tak tenang. Berusaha membuang segala rasa namun hatinya seakan memberontak. Dia tahu bagaimana seorang Alex mencintai Jenita dari caranya menatap gadis tersebut.
Perkataan sang mana kala itu membuat Dira semakin dalam berpikir. "Anak dan ibu sama saja, mungkin menjadi perebut dan pelakor sudah mendarah daging dalam diri mereka." Ayu sering mengucapkannya kala terjadi cekcok antara dirinya dan Hermawan.
"Ada apa sebenarnya? dan apa yang terjadi di balik semua masalah dan juga sikap papa dan mama?" Dira menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dia ingin tahu namun tak tahu bagaimana caranya mencari tahu.
__ADS_1