DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 25


__ADS_3

Benar kata Alex, lelaki pemarah, arogan dan terkenal dingin tersebut mengatakan jika tak akan mudah untuk memprediksi watak orang lain selagi kita ber ramah tamah kepada mereka.


Disaat kau tersenyum lebar maka mereka pun akan tersenyum. Begitu pula disaat dirimu bersedih, tapi sebenarnya kamu tak akan tahu bagaimana mereka dibelakangmu.


Bukan berarti Alex melarang nya untuk ramah. Namun sikap tertutup dan hanya memperlihatkan kepada orang-orang yang memang sudah pasti tulusnya itu lebih baik. Dan Claudia memahami pada akhirnya, bagaimana seorang Alex sangat irit senyum dan lebih terlihat kaku dan kejam. Namun pada dasarnya dia lembut dan penuh perhatian, seperti yang dirasakannya kini.


"Kenapa melamun? sudah ku bilang, jangan suka melamunkan hal hal yang tak penting. Gunakan otak dan waktumu untuk memikirkan hal yang lebih bermanfaat, hem."


Alex mendekat, sore ini sesuai rencana Claudia akan kembali ke apartemen miliknya sendiri. Dia akan benar-benar kembali menjalani hidupnya sebagai Jenita Claudia Andini dan akan kembali dengan semangat barunya.


Claudia menampilkan senyum manisnya, menatap ke arah Alex yang sedang menyeruput kopi miliknya. Lelaki itu hanya mengangkat kedua alisnya tanda bertanya. Namun Claudia malah mengangkat ke dua bahunya. Dia berharap Alex akan semakin penasaran dengan apa yang dia pikirkan. Namun kenyataannya, lelaki itu malah beralih memainkan ponselnya tanpa memperdulikan tatapan Claudia padanya. Menyebalkan bukan?


Alex hanya diam dan seolah tak terpengaruh dengan apa yang disyaratkan oleh Claudia. Namun sesungguhnya Alex sangat penasaran. Diliriknya Claudia sejenak.


"Aku bahkan bingung, mau bicara sama siapa dan bercerita lepas dengan siapa. Kamu tahukan, selama ini aku dekat dengan siapapun itu tanpa kecuali dan juga tak pernah menjaga jarak asal mereka baik."


Alex masih terdiam, dia sangat tahu sifat mulia Claudia selama ini. Mau bagaimanapun kesulitannya, gadis itu masih bersikap baik. Sangat berbeda jauh dengan sikap Alex yang tak pernah bisa ditebak oleh orang lain. Cuek nya Alex terkadang malah berubah menjadi sebuah keberuntungan. Dibalik sikap itu tak jarang Alex lah yang lebih peka dengan apa yang dibutuhkan orang lain sehingga hal kecil yang dilakukannya sudah cukup membantu.


"Kamu tahu? aku bahkan tak bisa membedakan mana yang benar-benar bisa menjadi teman yang bisa ku percayai seperti katamu. Bagiku semua baik dan mereka semua temanku." Desah Claudia yang memang tak pernah sedikitpun mau menyimpan rasa curiga. Dia hanya mencoba bersikap baik dan ramah kepada semua orang dan hanya berharap orang lain pun akan sama seperti dirinya. Dengan begitu tak akan pernah timbul perselisihan bahkan pertengkaran.


"Aku tak pernah melarang kamu melakukannya selama itu baik buatmu. Tapi setidaknya kamu bisa menjaga dirimu sendiri dari cela cela orang yang tak menganggap kita seperti kita menganggap nya. Keberhasilan orang lain terkadang lebih menarik perhatian, padahal jika kita mau keberhasilan itu pun dapat kita raih. Namun karena rasa iri lebih dominan terkadang menyebabkan orang berpikir pendek. Dan yang lebih menyeramkan, banyak diantara mereka adalah orang-orang terdekat kita sendiri." Alex sedikit menekankan kata katanya.

__ADS_1


Alex bisa menyimpulkan bahwa sifat Claudia tak jauh beda dengan Lidia, sang mama. Wanita baya tersebut bahkan enggan untuk menceritakan masa lalunya hanya demi menyimpan semua kejadian dulu hanya untuk dirinya sendiri. Dia tak pernah tahu jika hal itu pulalah yang menjadi latar kejadian yang menimpa putrinya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Andrian tersenyum menyambut kedatangan Dira. Dia yang memang mengembang misi yang diberikan Alex padanya tentu harus berjuang keras. Pada awalnya, Andrian tak ingin terlibat terlalu jauh. Tapi pada kenyataannya dia juga menjadi sasaran karena kedekatannya dengan Jenita.


Bahkan tanpa dia sadari, beberapa orang yang sering mengikutinya sudah berganti dengan orang orang Alex. Lelaki itu tak pernah memeberi tahu nya. Namun tindakan Alex membuatnya percaya jika lelaki dingin dan keras tersebut sangat peduli. Bukan hanya dirinya bahkan Marni pun tak luput dari penjagaan Alex.


Hal itu diketahui Andrian ketika beberapa hari lalu dirinya dijemput Aldi. Di sanalah dia melihat wajah wajah yang selalu menguntit nya bahkan secara terang-terangan berada disekitarnya. Sedikit terkejut namun pada akhirnya dirinya mengerti.


"Kenapa tak memberitahu ku? hingga aku tak akan salah menilai mereka." Protesnya kala itu


Namun dengan santainya Alex mengatakan bahwa dirinya sengaja dan melihat nya gelisah adalah hiburan buatnya. Tak khayal hal itu membuat Andrian kesal dan melemparkan bantal ke arah Alex yang dengan cepat bisa ditangkis oleh lelaki itu hingga suara gelak tawa keluar begitu saja.


*


*


*


"Sudah lama? maaf ya harus memeriksa pembukuan karena sudah waktunya." Dira mengambil tempat duduk di depan Andrian.

__ADS_1


"Tak apa, aku hanya ingin memberikan resep bolu terakhir yang Jenita tulis waktu itu. Hanya copian memang karena yang asli ada di kantor dia." Andrian menyerahkan selembar kertas dengan resep bolu yang memang minggu kemarin sempat membuat Dira pusing. Banyaknya pesanan bolu tersebut namun belum ada seorangpun karyawan yang mengetahui pasti takaran pembuatannya. Kerena Jenita baru sekali mempraktekkannya di toko.


"Akhirnya, terimakasih banyak. Jujur saja aku bingung waktu itu, hingga meminta Marni untuk membantuku disini. Aku yakin tenaga yang bekerja disana bahkan lebih mahir dibanding para pekerja di sini. Namun keputusan Jenita tetaplah mutlak dan aku tak bisa meminta mereka pindah tempat kerja seenaknya."


Andrian mengangguk, tak ada yang beda dengan sikap Dira. Dia masih terlihat biasa saja.


"Eh ada chef Andrian." Ayu datang dengan senyumnya. Wanita itu bahkan langsung mengambil duduk diantara keduanya. Andrian hanya menganggukkan kepalanya. Tak banyak memang yang Alex ceritakan. Namun Andrian bisa sedikit menebak maksud dan arah lelaki itu memintanya untuk membantu. Hanya sekedar memancing.


"Hanya mengirimkan resep bolu yang Jen buat tante. Kebetulan Dira memerlukannya untuk kepentingan toko."


"Memang seharusnya semua Dira yang atur. Anak itu mana bisa melakukannya. Lihat saja sekarang, sudah hampir 2 bukan dia bahkan tak datang ke sini. Untung ada Dira hingga toko itu bisa berjalan normal, coba kalau tidak. Sudah dipastikan toko itu tutup."


"Apaan sih ma."


"Apa yang mama katakan adalah kebenarannya, semua orang juga tahu itu. Dia hanya beruntung mendapat warisan tapi tak pernah bisa untuk mengelolahnya. Orang bodoh sepertinya memang tak pantas untuk mendapatkannya. Sama seperti mamanya yang tak berguna itu." Sinisnya.


Andrian hanya tersenyum, dia yang memang tidak mengetahui detail permasalahan nya tak bisa menyimpulkan apapun.


"Ma, jangan bicara sembarangan. Sebaiknya mama bantu ke dalam, sepertinya tamunya ramai. Aku masih ada yang perlu dibicarakan dengan chef Andrian." Ayu hanya mendengus namun tak urung dia berdiri dan kembali masuk ke dalam toko meninggalkan keduanya.


"Maaf ya, mama memang suka begitu." Ucap Dira tak enak hati.

__ADS_1


"Tak masalah, bagaimana kita bahas soal laporannya?" Andrian mengalihkan pembicaraan. Sesuai arahan Alex bahwa dirinya hanya perlu masuk sedikit demi sedikit.


__ADS_2