DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 19


__ADS_3

Sinta benar-benar melakukan apa yang diinstruksikan oleh Alex. Gadis itu kembali ke kota S untuk mengurus perusahaan Claudia. Bahkan kini dirinya dan Aldi sering berhubungan guna kelancaran komunikasi dengan Alex namun tetap melalui Aldi agar tak ada orang yang mencurigai mereka. Hubungan kerja sama diantara kedua perusahaan memuluskan rencana mereka.


Begitupun dengan Andrian yang mengambil alih tanggung jawab di rumah produksi yang dikelola Marni. Sedangkan toko utama tetap dibiarkan dalam pengelolaan Dira. Baik Andrian, Sita maupun Alex menyembunyikan apapun yang mereka tau untuk semua orang termasuk kemungkinan Hermawan ataupun Dira yang bertanya nantinya. Karena mereka belum tahu siapa dibalik menghilangnya Jenita saat ini.


Segala kemungkinan telah Alex pikirkan dengan matang. Dia bersama Rendy bahkan berkeliling sendiri mencari tempat yang kemungkinan dijadikan tempat penyekapan Jenita selanjutnya. Termasuk kemungkinan terlibatnya orang terdekat Jenita namun mereka belum tau siapa orangnya. Dari berbagai info yang diperolehnya terutama dari cerita Sinta dan Andrian, Alex menyimpulkan demikian. Hingga membuat dirinya mengatur rencana ini. Bahkan kini Alex beberapa kali melakukan penyamaran seperti yang Jenita lakukan agar tak ada orang yang mengetahui keberadaan nya di kota C.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Hari ke sepuluh menghilangnya Jenita membuat Alex sedikit frustasi. Dia yang belum menemukan titik terang keberadaan wanita itu sangat bingung. Tak ada perubahan dirasakan baik di toko dan rumah produksi semakin menguatkan dugaannya, jika dalang dari semua yang terjadi adalah orang yang benar-benar tahu seluk beluk Jenita. Bahkan tak adanya tuntutan selama ini menandakan bahwa penculikan itu memang sudah direncanakan dan targetnya memang Jenita bukan hartanya.


Alex benar-benar frustasi memikirkan semuanya. Bukan hanya tentang keberadaan Jenita namun dirinya juga memikirkan tentang kata kata tak pantas yang pernah dilontarkannya pada tunangannya tersebut, ah entah apa masih bisa wanita itu disebut tunangannya setelah apa yang dia lakukan padanya. Bahkan pengajuan pembatalan pertunangan sudah beberapa kali Alex lontarkan dihadapan Jenita secara terang-terangan. Walaupun sang papa tak pernah mengijinkannya namun dirinya takut jika pembatalan dilakukan dari pihak Jenita.


Tak pernah dia pikirkan bahwa tindakannya menyuruh orang untuk mengawasi Jenita akan berguna seperti saat ini. Niat awal yang tak baik kini malah disyukuri oleh Alex.


Ditengah kegalauannya, tiba-tiba ponsel Rendi bergetar. Dia yang memang sedang bersama Alex langsung saja mengangkat ponselnya. Di sebuah rumah makan mereka kini berasal dengan Alex yang menyamar menjadi orang biasa bukan lagi berdandan seperti Alex pada kenyataannya. Dia yang hanya menggunakan kaos pres body, dengan menambahkan kacamata seperti hal nya yang dilakukan Jenita masih terlihat tampan.


Namun penampilan Alex memang berubah secara keseluruhan. Tak ada lagi sepatu, kemeja atau barang mahal yang melekat pada dirinya kecuali ponsel nya. Bahkan jam tangannya pun sudah Alex ganti demi memuluskan segala upayanya. Penampilannya yang tak jauh beda dengan Rendy membuat orang tak akan percaya jika mereka adalah bos dan anak buah.


"Tuan, kita bergerak." Rendi menginstrupsi dengan menunjukkan tempat yang di kirimkan oleh anak buahnya.


"Ayo!" Sesemangat itu.

__ADS_1


Alex bahkan sudah tak lagi suka membentak, namun bukan berarti dia tak pernah marah. Sifat pemarahnya itu tak pernah bisa ilang dari sosok Alex.


Sebuah lokasi yang diperkirakan letaknya 2 km lagi dari posisi Alex dan Rendi berada kini. Keduanya bergegas keluar setelah membayar kopi yang mereka pesan di sebuah warung yang mereka singgahi untuk sekedar beristirahat. Sudah berhari-hari aktifitas seperti ini mereka lakukan. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain yang di duga menjadi tempat penyekapan Jenita.


"Aku harap kali ini adalah tempat terakhir. Dan Jenita benar-benar berada disana." Gumamnya pelan.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Sebuah rumah yang terletak sedikit jauh dari rumah lainnya. Terlihat normal karena ada kehidupan seperti biasanya. Namun adanya beberapa penjaga membuat aktifitas dirumah tersebut sedikit mencurigakan.


"Rumah ini disewa beberapa hari lalu. Menurut pemiliknya, ada 3 orang yang datang di waktu menyewanya. Namun setelah ditempati menjadi beberapa orang yang tinggal beserta para pengawal yang berjaga secara bergantian." Salah satu anak buah Rendi yang bertugas mengawasi rumah tersebut melaporkan apa yang dia ketahui.


"Jadi kira kira ada berapa orang didalam sana?"


"Malam ini, selidiki dan coba sebisa mungkin menyusup kedalam dan pastikan semuanya. Aku nggak mau ada kesalahan yang akan menimbulkan masalah baru untuk kita nantinya."


"Baik, Tuan."


Ketiganya sedang berada di sebuah rumah yang tak jauh dengan rumah yang di curigai sebagai tempat penyekapan Jenita.


Sejak memasuki kawasan ini, entah mengapa jantung Alex berpacu tak beraturan. Bahkan pria tampan tersebut harus berkali-kali menggelengkan kepalanya demi menghilangkan perasaan was was atau entahlah perasaan apa yang jelas dirinya tak tenang saat ini.

__ADS_1


*


*


*


"Ada kemajuan?" Andrian langsung bertanya ketika hubungan tersambung.


"Aku berharap ini tempat terakhir dan kita menemukan nya dengan segera. Aku sudah tak bisa berpikir waras lebih lama." Ucap Alex


Keduanya sering berhubungan sebagaimana layaknya sesama lelaki. Alex bahkan tak sungkan mengungkapkan kata hatinya pada Andrian yang umurnya lebih tua satu tahun darinya itu. Ada rasa nyaman ketika berbicara dengan Andrian membuat nya tak ragu untuk berbicara.


Menjadi anak tunggal membuatnya tak pernah merasakan disayang saudara. Papa yang masih aktif bekerja hanya mempunyai sedikit waktu untuk berkumpul dengan keluarganya. Namun Alex bisa memaklumi semuanya, dia tau bagaimana usaha sang papa demi mempertahankan perusahaan peninggalan opa Gerrick.


"Aku juga berpikir demikian, semakin lama dia berada ditangan mereka membuatku tak tenang. Kamu tau, dia itu gadis hebat. Dengan banyaknya orang yang menghina penampilannya dia tetap bertahan. Padahal, jika dia tak menyembunyikan jati dirinya. Semua orang akan menatapnya kagum. Namun Jenita adalah Jenita, dia hanya ingin orang mengenalnya dengan caranya sendiri."


Alex yang mendengarkan penuturan Andrian menarik nafas dalam. Perkataan pelan namun dapat menyentil hatinya. Alex sadar bahwa dirinya berada disalah satu antara mereka yang menghina Jenita karena penampilan gadis itu.


"Kau tau Lex, kau adalah lelaki paling beruntung bisa mendapatkannya. Meski kalian dijodohkan, namun percayalah dia gadis yang baik dengan semangat yang tinggi. Andai tak ada perjanjian yang mengikatnya, aku bahkan bersedia untuk mengejarnya." Goda Andrian.


"Kau berani?" Bentak Alex yang mala membuat Andrian tergelak.

__ADS_1


Dia hanya ingin mencari sedikit udara agar Alex agar tak terlalu tertekan dalam usahanya saat ini. Andrian bahkan tau jika lelaki itu menghabiskan waktunya lebih banyak demi usahanya mencari Jenita. Bahkan lelaki itu meninggal perusahaan nya dan melimpahkan semuanya pada Aldi.


Keduanya terus berbincang sambil menunggu informasi selanjutnya dari Rendi dan orang orangnya.


__ADS_2