DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 55


__ADS_3

Sebuah mobil box nampak melaju kearah luar kota C. Dari arah belakangnya nampak dua buah mobil yang mengiring tak jauh dari mobil tersebut. Namun dipersimpangan jalan kedua mobil tersebut berpisah karena memilih jalan yang berbeda. Sementara mobil box terus malaju lurus.


Alex menggenggam erat kemarin Jenita ketika keduanya sedang berjalan jalan keliling mall. Wajah tampannya nampak tersenyum meski sangat tipis. Alex yang jarang sekali memperlihatkan bagaimana sikapnya sebenarnya selama ini pada kalayak luar. Dia yang terkenal sulit didekati dengan wajah tegas dan tak pernah terpengaruh oleh keadaan disekelilingnya. Acuh tak acuh dan dingin terhadap lawannya merupakan hal mendasar dalam benak orang-orang yang mengenalnya.


Hari ini sepertinya sedang cerah ketika melihat seorang Alex berjalan di mall apalagi sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik. Banyak orang berbisik entah tentang apa keduanya tak peduli.


Berbeda dengan Jenita, gadis tersebut benar-benar nampak bahagia saat ini. Selain bisa keluar dan berjalan jalan setelah sekian lama terkurung dalam sangkar emas yang Alex ciptakan. Ada hal lain juga yang membuat hatinya semakin berdesir. Perlakuan manis Alex padanya membuatnya merasa benar-benar dicintai. Jemari yang terus saling menggenggam membuat perasaan hangat itu kian terasa.


"Mau cari apa?" Alex bertanya pelan ketika mereka sudah cukup lama berkeliling.


"Kita makan ya, aku belum kepikiran mau beli apa sih."


Jenita tersenyum membuat Alex gemas. Di acaknya rambut gadis tersebut membuat Jenita mendelik kesal.


Restoran cepat saji menjadi pilihan keduanya untuk makan siang. Jenita memilih tempat duduk disebelah pojok, itu adalah tempat strategis karena dari sana mereka bisa langsung menatap kearah jalan raya dari lantai tiga mall.


"Yank." Alex datang dengan membawa nampan berisi pesanan kami.


Chicken spicy burger menjadi pilihanku kali ini. Ku lihat Alex memesan makanan yang sama dengan dua gelas soda. Tidak begitu lapar memang, hanya saja kami ingin menikmati hari ini lebih lama lagi.


🍃🍃🍃🍃


Aldi melajukan mobilnya ke dengan perlahan. Sebelum pergi tadi dirinya sudah mengirimkan pesan pada Alex. Sosok Aldi yang nyaris memiliki sifat yang sama dengan sang bos membuatnya turut ditakuti di kalangan pengusaha. Menjadi asisten yang merangkap sebagai tangan kanan seorang Alex bukan hal muda baginya.


Aldi terus melajukan mobilnya. Nampak tenang meski dalam otaknya banyak hal yang dia pikirkan. Setelah 2 jam berlalu mobil yang dikendarai nya sampai di sebuah rumah. Langkahnya pasti masuk kedalam rumah tersebut dengan disambut oleh beberapa orang yang menundukkan kepala kepadanya. Aldi hanya tersenyum dan menepuk pelan bahu salah seorang diantaranya.


Di sebuah kamar nampak seorang lelaki paru baya sedang tergolek lemah. Terlihat beberapa bekas luka di sekujur badan lelaki tersebut bahkan pergelangan kakinya nampak warna kulit yang berbeda. Sedikit terang dari warna kulit yang lain. Sejenak Aldi terdiam, dia tak mengenali lelaki tersebut.

__ADS_1


Rendi datang selang beberapa menit kemudian. Pemuda itu langsung meringsek masuk dan menemui Aldi yang masih berdiri di samping ranjang.


"Ada info lain?" Aldi tak menoleh tatapannya masih lekat kearah lelaki yang tergolek tersebut.


Rendi menyerahkan alat perekam miliknya dan juga rekannya yang berhasil mereka bawa ketika keluar dari ruang bawah tanah tersebut.


Ponselnya berdering dan menampilkan nama sang bos disana. Aldi memilih keluar setelah meminta Rendi untuk membersihkan lelaki tersebut dan memanggil dokter untuk menangani nya.


"Pria paruh baya dengan rambut yang sebagian sudah memutih. Terdapat banyak bekas luka ditubuhnya yang kurus itu. Aku tak mengenalnya. Dia belum sadarkan diri karena untuk membawanya dengan aman mereka harus membius nya kemungkinan efeknya belum hilang hingga sekarang." Jelasnya ketika sang bos meminta penjelasannya.


"Aku sudah meminta Rendi untuk membersihkannya. Entah sudah berapa lama dia disana hingga keadaannya se mengerikan itu." Aldi bergumam pelan.


Hatinya merasa teriris menyaksikan bagaimana keadaan lelaki yang ditemukan orang-orang nya tersekap dalam rumah mewah milik keluarga Jenita. Panggilan terputus setelah Alex mengatakan akan datang nanti. Aldi kembali masuk ke dalam kamar. Lelaki yang masih terbaring lemah itu sudah nampak lebih baik dengan baju dan juga rambut yang basah. Sepertinya Rendi telah selesai membersihkannya.


Tak berapa lama seorang datang bersama dengan Anto dan mengangguk hormat pada Aldi yang tersenyum melihat kedatangan mereka. Tanpa perlu banyak bicara, lelaki yang berprofesi sebagai dokter tersebut segera bergerak memeriksa.


Aldi mengangguk cepat. Dia tak ingin mengambil resiko lebih parah dan segera menyetujui apa yang dikatakan dokter Wirya. Dengan sigap lelaki yang seumuran Kuncoro tersebut menghubungi stafnya yang berada dirumah sakit untuk menyiapkan ruangan khusus dan juga mengirim ambulance dengan segera.


Aldi sendiri meminta Anto untuk terus mendampingi lelaki tersebut. Sementara Rendi akan kembali pada tugas utamanya menjadi sopir dan pengawal pribadi Jenita. Untuk yang lainnya diminta tetap berada di rumah tersebut guna menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi.


Aldi melajukan mobilnya kembali ke kediaman Jenita setelah memastikan segalanya aman. Sementara Anto telah berada dalam mobil ambulance bersama dengan dua orang rekannya.


*


*


*

__ADS_1


Petang menjelang ketika Jenita dan Alex menginjakkan kakinya dalam rumah. Senyum puas nampak diwajah cantik tersebut. Anggap saja ini adalah kencan pertama yang mereka lakukan. Meski belum ada kata cinta yang terucap dari bibir keduanya secara langsung.


"Aku bersih bersih dulu ya."'Ucapnya yang diangguki oleh Alex. Setelah Jenita menghilang di balik pintu kamarnya, Alex segera melangkah menuju kamarnya.


" Gimana?" Ucapnya kala tubuhnya sudah berada didalam kamar tersebut.


Nampak Aldi dengan duduk berhadapan dengan laptopnya. Pemuda itu segera menoleh tanpa diminta Alex segera mendudukkan dirinya disebelah Aldi.


Putaran alat perekam mulai terdengar, pada awalnya mereka tak bisa mendengarnya dengan jelas hingga akhirnya hilang dan hening beberapa lama. Kemudian Aldi menggerakkan jemarinya dan kembali terdengar sebuah suara jeritan lemah dan juga suara teriakan kemarahan. Masih sedikit samar, kemungkinan rekaman tersebut diambil dengan jarak yang jauh.


Alex masih dengan sabar mendengarkan potongan demi potongan yang terdengar dari alat perekam tersebut hingga dahinya mengernyit kala mendengar dengan seksama suara orang yang sedang berteriak dan menyebutkan nama Lidia disana. Ditolehkan wajahnya dengan cepat kearah sang asisten berharap apa yang didengarnya salah. Namun anggukan kepala Aldi membuat matanya langsung terpejam erat. Tangannya mengepal hingga buku buku jarinya nampak memutih.


Aldi kembali memutar rekaman lainnya yang berasal dari milik rekan Rendi yang sengaja dilempar lebih dekat waktu itu. Disana terdengar rekaman yang sama dan semakin jelas.


"Dimana?" Suara Alex terdengar berat. Lelaki tersebut membuka matanya dengan rahang yang sudah mengeras.


"Rumah sakit. Om Wirya yang memintanya untuk dirawat karena kondisinya sangat mengkhawatirkan. Menurut Om Wirya, beliau dehidrasi dan juga kondisi tubuhnya sangat lemah. Menurut Rendi, dia dalam keadaan terikat kedua tangannya dan terdapat rantai yang membelenggu kedua kakinya. Banyak bekas luka ditubuhnya yang kurus itu." Aldi menjeda ucapannya. Hatinya kembali teriris hanya dengan membayangkan bagaimana dirinya pertama kali melihat lelaki tersebut.


Entah apa dirinya akan kuat seperti Rendi dan rekannya kala berusaha membawa tubuh lemah dengan banyak luka sewaktu itu. Aldi memejamkan matanya. Dia yang hidup sebatang kara sangat merindukan pelukan orang tua namun tak pernah bisa. Dengan melihat lelaki itu hatinya mendadak ikut merasakan sakitnya.


"Aku sudah meminta Anto untuk siaga menjaganya. Yang lain juga berada dirumah untuk bersiaga.


" Kau akan memberitahukan nya?"


Alex menggeleng. Dia tak akan memberitahukan hal ini pada Jenita maupun Lidia setidaknya saat ini sebelum semuanya bertambah jelas meski semua kemungkinan itu mengarah kesana.


Ikbar masih hidup!!

__ADS_1


__ADS_2