
Semua kisah telah berlalu, semua cerita pilu telah berakhir. Ikbar bahkan menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Lelaki dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya tersebut bahkan sudah bisa berjalan meski tertatih.
Sebulan berlalu setelah berpulangnya Hermawan dan Herdiansyah pada hari yang sama. Mereka kembali pada kehidupan yang sebenarnya.
Bersedih boleh dan tak ada yang melarang untuk itu. Akan tetapi cobalah untuk kembali berpikir secara realistis, andai saja bersedih bisa mengembalikan orang yang telah pergi maka cerita hidup tak akan pernah usai. Akan ada hal yang monoton terjadi karena pemerannya yang sama. Semua tak akan bisa dijadikan cerita kepada anak cucu kelak.
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Jenita maupun Alex. Hari dimana keduanya akan mengikat janji suci sehidup semati dalam biduk rumah tangga yang nantinya akan mereka jalani.
*
*
*
Ijab dan Qobul dikumandangkan dengan lantang. Alex yang memang sudah terlatih dengan seringnya berinteraksi dengan orang banyak tentu saja tak mengalami kesulitan apapun. Pria tampan dengan wajah datar tersebut hanya sesekali nampak menarik nafas dalam dalam.
Sorak sorai bahagia dan juga haru terlihat setelah kata SAH bergema. Jenita memejamkan mata begitupun dengan Alex. Keduanya bersyukur dengan segala kelancaran acara hari ini.
Kuncoro memeluk erat tubuh Ikbar. Persahabatan mereka semakin kuat mulai hari ini. Begitupun dengan Winarni dan Lidia, kedua wanita paruh baya tersebut saling memeluk dengan lelehan air mata kebahagiaan.
__ADS_1
Sementara itu di sudut gedung tempat acara dilangsungkan, Andrian menyunggingkan senyumnya menatap wajah cantik Jenita yang kini akan semakin jauh dari jangkauannya.
Bukan tak ingin mengikhlaskan, namun rasa itu masih membayang meski sudah berusaha untuk dihilangkan.
"Ingin menangis?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Chef tampan tersebut.
Aldi berdiri disebelah Andrian dengan kedua tangan terselip di saku. Keduanya terdiam menatap hiruk-pikuk tamu undangan yang sedang ramai di sana.
"Sekuat hati aku ingin tersenyum, namun di dalam sana rasanya tetap ingin menangis. Meski begitu,aku bahagia melihat mereka pada akhirnya bersama-sama." Jawabnya pelan tanpa berniat mengalihkan pandangan.
Aldi menolehkan wajahnya, senyum terukir diwajah tampannya. Dia salut pada apa yang dilakukan Andrian selama ini. Mungkin kebanyakan orang akan menganggapnya bodoh karena harus berjuang demi cinta yang hasilnya jelas nyata ke sia siaannya.
"Ckck aku cari cari dari tadi ternyata kalian berdua ada disini." Sita datang dengan membawa sepiring kue ditangannya.
"Ada apa?" Andrian bertanya diikuti Aldi yang mengangkat bahunya tanda tak mengerti.
"Aku kan nggak punya teman." Sita tersenyum sambil Mengerlingkan matanya.
Andrian mengrusak rambut Sita pelan. Keduanya memang akrab, bahkan Sita lah yang selama ini selalu menjadi pendengar keluh kesah chef tampan itu mengenai hatinya.
__ADS_1
"Aku kira kamu sama si muka datar itu, tak pernah tersenyum padahal jika itu dilakukan juga tak akan rugi lo." Sita beralih menatap Aldi yang justru menghentikan senyumannya beralih dengan memicingkan mata ke arah Sita.
"Ya elah, baru juga dikata beda. Malah tombol mode on nya kepencet, kumat deh."
Aldi mendelik mengundang gelak tawa dari Andrian. Ketiganya beringsut mencari tempat yang lebih nyaman untuk saling bercengkrama.
🍃🍃🍃🍃🍃
Seminggu menjelang pernikahannya, Jenita memutuskan untuk memberikan toko eyang kepada Dira dan Habibi untuk dikelola. Keduanya menolak pada awalnya, mereka sadar jika selama ini keluarga mereka telah banyak membuat masalah di keluarga eyang. Namun Ikbar menegaskan jika semuanya telah berlalu. Tak perlu lagi mengingat masalah yang sudah usai.
Ikbar bahkan tak merasa keberatan sama sekali atas usulan Jenita. Dirinya bahkan berencana untuk menetap di kota S dimana Jenita saat ini akan tinggal. Menghabiskan masa tua bersama sang istri untuk menebus waktu yang telah lama terlewatkan.
Segala sesuatu yang ada di kota C akan diserahkan kepada Dira dan Habibi untuk mengurusnya. Termasuk soal penjualan rumah pribadi yang merupakan mahar yang Ikbar berikan untuk Lidia.
Mereka sepakat untuk mengubur semua kenangan masa lalu yang kelam. Hanya menjadikan semua itu kenangan sebagai penguat ikatan persaudaraan diantara semuanya.
Rendi masih dipercaya untuk menjadi sopir sekaligus pengawal pribadi untuk Jenita. Sementara Anto masih bertahan di kota C untuk membantu Dira. Rumah yang biasa mereka gunakan sebagai markas juga diberikan untuknya sebagai hadiah. Sementara ruko masih tetap dalam kendali Marni.
... ******* TAMAT *******...
__ADS_1