DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 48


__ADS_3

Belum adanya perkembangan berarti membuat Alex sedikit frustasi. Tak ada yang bisa dirinya lakukan selain menunggu. Menunggu informasi yang mungkin didapat dari orang-orang nya.


Sudah dua hari terhitung dari kemarin mereka bisa masuk ke dalam rumah besar yang ternyata sangat mewah tersebut. Dengan berbekal informasi dari apa yang Lidia jelaskan, memudahkan mereka membuka jalan tanpa harus diketahui oleh penjaga disana. Meski begitu mereka tetaplah berhati-hati jika tak ingin semua rencananya gagal.


Aldi telah kembali ke kota S. Kuncoro membutuhkannya karena ada pertemuan yang harus dihadirinya dalam waktu bersamaan. Mau tak mau Alex harus meng-handle sendiri masalah disini karena tak ada pilihan lain dari pada dirinya yang harus pergi kembali ke kota S.


Sementara Andrian masih bertahan membantu Jenita di toko dan juga rukonya. Namun yang terpenting adalah, Chef tampan tersebut menjaga Jenita dengan jarak dekat. Meski sudah ada Rendi dan beberapa orang yang tak terlihat mencolok berada disekitarnya. Namun Alex tetap meminta Andrian melakukan hal itu.


Bukan Alex tak tahu bagaimana perasaan lelaki tersebut kepada sang kekasih. Namun untuk saat ini Alex lebih mengutamakan keselamatan Jenita dari pada memikirkan hal lain yang bisa membuat kacau rencananya.


Ting


Suara notifikasi mengalihkan tatapan matanya yang tadi fokus pada layar laptop yang sedang menyala di atas meja yang berada didepannya. Sudut bibirnya terangkat dan senyum itu semakin jelas terlihat.


"Lakukan yang terbaik dan cari cela." Tulisnya sebelum dirinya melangkah dengan tergesa masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan calon ibu mertuanya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Jenita tergelak ketika adonan bolu yang dibuatnya kurang mengembang atau sering dibilang bantat oleh orang-orang. Padahal seingatnya, semua bahan sudah sesuai takaran yang biasa dipakainya. Namun entah mengapa jadinya malah seperti itu.


"Pasti ada yang salah atau mungkin belum tercampur." Andrian yang memang sedang bersamanya pun ikut tergelak.


Beruntung nya, bolu tersebut bukanlah pesanan konsumen. Rencananya Jenita akan membuat beberapa untuk dia bawa pulang dan dimakan oleh anak buah Alex yang menjaganya selama ini. Biasanya bibi atau mamanya suka membuat penganan ringan seperti gorengan atau kue tradisional dengan bahan ringan dan mudah dibuat.


"Entahlah, tapi rasanya aku sudah melakukan step by step dengan benar seperti biasanya. Atau mungkin adukannya kurang tercampur? atau karena waktu dan kecepatannya yang kurang tepat." Gadis tersebut masih memutar mutar kue yang tak mengembang sempurna tersebut.

__ADS_1


"Intinya hanya satu macam kesalahan." Andrian berujar seraya memotong bolu tersebut untuk dilihat tekstur dan juga rasanya.


"Apa?" Jenita mendongak, menatap Andrian yang malah menyuapkan potongan kecil bolu tersebut ke dalam mulutnya.


"Nod bad." Ucapnya setelah menelannya perlahan.


"Intinya karena kamu kurang fokus." Lanjutnya dengan kembali menyuapkan potongan sisa bolu tadi.


Jenita kembali tergelak, apa yang dikatakan Andrian memang benar adanya. Fokus dirinya sangat terganggu akhir akhir ini. Bahkan bisa dibilang lost kontrol. Bahkan terkadang Jenita tak sadar dengan apa yang dilakukannya jika tak ada yang menyadarkannya. Pikirannya sangat terganggu setelah mengetahui rahasia besar yang tersembunyi selama ini.


"Bisa jadi. Aku rasa pikiranku memang sedang tak berada disini."


Jenita dan Andrian berjalan keluar dari ruang produksi. Dia meminta Mirna melanjutkan apa yang dikerjakannya tadi. Khawatir nanti hasilnya akan rusak lagi jika dirinya terus memaksakan kembali membuat yang baru.


"Jangan terlalu memforsir pikiranmu. Buat rileks, agar otakmu tak tegang. Kau harus bisa mengontrol emosi dan juga pikiranmu sendiri. Ingat, orang lain hanya bisa bicara tapi tak akan bisa membantumu berbuat lebih, selain dirimu sendiri. Seperti aku saat ini, hanya bisa membantumu dengan kata kata."


"Aku tahu. Tapi untuk melakukan itu rasanya sangat sulit. Aku bahkan tak sanggup memikirkan bagaimana perasaan mama. Sedangkan aku dan Alex saja merasa berat dengan semua ini apalagi beliau yang mengalami."


"Kau harus bersyukur. Bagaimanapun Tante adalah wanita hebat. Beliau kuat menghadapi semua hal menyakitkan ini selama bertahun-tahun. Kesendirian dan pengorbanannya tak bisa dibandingkan dengan apapun itu. Dan seharusnya dirimu menunjukkan hal yang sama. Jangan tunjukkan bahwa dirimu lemah. Tante aja mempunyai semangat yang tinggi kenapa kamu tidak?"


"Kau bahkan memiliki Alex dan kami sebagai sahabatmu yang selalu ada dan siap berdiri disampingmu. Sedangkan mamamu hanya sendiri?"


Andrian berujar dengan tenang. Bukan merendahkan ataupun membuat Jenita down. Namun dirinya hanya ingin membuat semangat Jenita kembali bangkit dan mau berjuang demi keadilan yang memang seharusnya diterima keluarganya sejak lama.


"Heem. Aku bersyukur ada kalian yang masih mau membantuku dan mendampingi aku sampai saat ini." Jenita tersenyum, senyum yang terkadang membuat Andrian merindu. Namun rasa itu harus disimpannya rapat rapat.

__ADS_1


"Aku tahu kau bisa melakukannya." Pungkasnya dengan membalas senyum Jenita.


"Mencintai tak harus memiliki, bukan? dan aku bahagia hanya dengan melihatmu tersenyum. Meski senyum terindahmu bukan tercipta untukku." Gumamnya dalam hati seraya menatap wajah Jenita.


"Ah iya, bagaimana hubunganmu dengan Sita? sudah sampai dimana hubungan kalian?" Jenita menaik turunkan alisnya menatap Andrian yang melongo dengan pertanyaannya.


"Maksudnya gimana?"


"Apanya yang gimana? ya hubungan kalian itu yang gimana?"


"Aku nggak ngerti." Sentaknya geram.


"Bukannya kalian punya hubungan khusus ya selama ini?" Jenita tersenyum kecil mengejek Andrian yang menatapnya kesal.


"Kau ini, kurang kerjaan ya sampai ngurusin hal yang bukan bukan." Andrian meraih gelasnya dan menegak jus jeruknya hingga tandas.


Tatapan matanya sedikit nyalang, tak tahukah gadis dihadapannya itu adalah orang yang sebenarnya diinginkannya. Namun entah mengapa dirinya malah menduga bahwa Andrian memiliki hubungan khusus dengan Sita.


Di hirupnya udara lebih dalam untuk menenangkan hatinya yang kacau. Ingin rasanya dia mengatakan perasaannya pada Jenita namun Andrian benar-benar tak punya keberanian untuk itu. Ditambah dengan kehadiran Alex yang jelas jelas memiliki arti dalam hati Jenita.


*


*


*

__ADS_1


Cinta itu tak pernah salah, baik tempat waktu dan keadaan. Walau pada kenyataannya tetap salah, jika hanya meninggalkan luka.


__ADS_2