
Pada akhirnya segala kebohongan tak akan bisa tersimpan selamanya. Segala hal yang mungkin telah terlupakan bahkan akan kembali di kenang disaat-saat tertentu.
Seperti saat ini, ketika Alex tak mampu lagi untuk menyimpan semua rahasia yang diketahui nya. Alex tahu ini salah, karena bukan rananya untuk mengungkapkan semua kisah kelam masa lalu keluarga Jenita. Namun Alex tak lagi mampu menahan dirinya.
"Mama sekarang dimana?"
"Jangan khawatir, tante Lidia saat ini berada di tempat yang aman. Papa telah membawa tante ke kediaman kami."
Jenita menatap lekat mata Alex, gadis itu mencoba menyelami segala rasa. Kepercayaan dirinya benar-benar dipertaruhkan. Jenita merasa tak mampu lagi mengenali orang-orang yang memang baik disekitarnya. Selalu waspada terhadap siapapun itu harus dibiasakan nya mulai saat ini. Termasuk pada lelaki tampan yang berada dihadapannya.
Alex datang membawa sejuta harapan dan semangat baru untuk nya. Namun kedatangannya bersamaan dengan segala macam masalah dan dilema yang menghantui nya.
Dirinya yang merasa hidup sendiri kini hanya bisa mencoba keberuntungan. Andaikata nanti Alex benar-benar hanya memanfaatkan dirinya pun Jenita harus sudah bersiap.
Wajah yang beberapa saat lalu berlinangan air mata tersebut perlahan tersenyum dengan manisnya. Alex yang masih mendekap erat tubuh langsing itu pun akhirnya bisa bernafas lega.
"Jangan khawatirkan apapun lagi. Kamu tak sendiri, yang. Ada aku, keluarga ku, mama kamu dan juga Andrian. Masih banyak orang-orang yang berada disekeliling mu, kami semua menyayangimu."
Alex menghapus buliran air mata yang masih mengalir di pipi gadis kesayangannya itu dengan ibu jarinya. Hatinya terasa perih ketika melihat Jenita kembali menitikan air matanya.
ππππππ
βSin, bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
Andrian tersenyum, baru berkesempatan untuk berkunjung ke perusahaan Claudia di kota S.
"Aku baik, chef. Bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kamu lihat." Senyum manis mengembang di antara ke duanya.
"Kita ngobrol di tempat lain yuk, sambil makan siang." Andrian menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi jam makan siang, bagaimana?" Lanjutnya.
Keduanya melangkah ke luar ruangan setelah melihat anggukan kecil dari kepala Sinta. Sekertaris kepercayaan Claudia tersebut tersenyum manis sebelum menutup pintu ruangannya.
Di sebuah cafe tak jauh dari perusahaan Claudia mereka akhirnya memilih tempat duduk.
"Ku kira dirimu masih di kota C?" Sinta mengawali pembicaraan setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.
"Bagaimana keadaan disini?" Lanjutnya
"Seperti yang kau lihat, semua berjalan baik. Alex benar-benar mengaturnya sedemikian rupa. Diantara dewan direksi dan kolega yang pernah mencoba menggulingkan Claudia dulu, hingga kini tak ada lagi yang berani bergerak. Entah mereka takut atau karena apa, yang jelas perusahaan berjalan stabil meski Alex maupun Clau tak berada diperusahaan."
"Alex mempunyai jam terbang yang tinggi. Dia dikenal sebagai pembisnis muda yang ditakuti selama ini. Aku sempat mendengar sepak terjangnya menghadapi lawan. Strategi dan pengamatannya sangat cepat dan tepat sasaran. Aku bersyukur dia berada di sisi Jen. Kau tahu, banyak tekanan yang harus Jen hadapi saat ini. Padahal itu masih dengan identitasnya yang Jenita. Aku tak sanggup membayangkan jika identitas Jen yang merupakan Ceo Claudia diketahui orang. Mungkin keadaan akan semakin runyam." Alex menyesap teh hijau yang di pesannya.
"Hidupnya tak pernah tenang sejak kecil. Beruntung Jen kuat hingga dirinya tahan sampai sekarang."
"Mereka berdua merupakan pasangan yang cocok. Kau tahu, baik Jen dan Alex saling melengkapi. Terkadang aku iri dengan kebersamaan mereka berdua. Tapi aku sadar, kemampuan yang ku miliki tak sebanding dengan otak cerdas keduanya."
__ADS_1
"Kau tertarik padanya?" Sinta memicingkan matanya menatap Andrian yang tersenyum tipis.
"Awalnya, Jen itu unik. Dia begitu banyak ide dan diawal kami berkenalan aku sudah tertarik padanya. Kecerdasan yang dimilikinya tak membuat dia muda menyerah. Dia juga gigih dalam berusaha. Kau tahu? aku bahkan tak menyangka jika dirinya adalah Ceo Claudia yang terkenal jutek dan cuek itu. Sangat jauh dengan kebiasaan Jen."
"Jen itu menarik dan dia selalu membawa suasana ceria. Berjam-jam kami mencoba resep kue bahkan tak terasa. Biasanya setiap aku melakukan seminar atau pertemuan dengan pemula dan para pelaku usaha di bidang kuliner. Ada kejenuhan yang kurasakan setelah beberapa jam melakukan hal yang sama. Tapi bersama Jen semua itu tak pernah kurasakan. Bahkan waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya." Andrian tersenyum diujung kalimatnya.
"Bagaimana perasaan mu sekarang?"
"Dia berada di tangan orang yang tepat. Aku yakin Alex lebih bisa menjaganya dari pada orang lain."
Percakapan mereka terjedah dengan datangnya pelayan yang membawa pesanan mereka. Tak ada pembicaraan kecuali dentingan sendok yang terdengar.
ππππππ
Sesua rencana, sebuah acara digelar di toko Eyang. Bahkan para pengunjung dipersilahkan untuk mencoba menghias kue yang mereka pesan sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Jenita tampil cantik dengan melakukan demo di depan banyaknya undangan yang di dominasi ibu ibu dan remaja putri tersebut.
Rendi dan tim kecilnya mulai bergerak dengan cermat ketika acara baru di mulai. Misi mereka masih sama, mencari bukti yang mungkin bisa mereka jadikan petunjuk langkah selanjutnya.
Mereka bahkan meletakkan beberapa alat rekam mini di beberapa tempat tersembunyi. Alex tak pernah lepas mengawasi wanitanya yang sedang tertawa lepas diantara para pengunjung. Gadis itu dengan lugas menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Membuat kue bukanlah bidang yang ditekuninya namun Jenita mampu menuangkan ide ide yang cemerlang.
Sebuah pesan masuk kenponselnya membuat Alex mengalihkan fokusnya sementara waktu. Senyum mengembang di sudut bibirnya membentuk seringaian tipis yang mengerikan. Alex kembali fokus pada Jenita setelah membalas pesan anak buahnya.
__ADS_1
"Aku akan membuat senyum itu terus berada disana. Sudah saatnya kamu bahagia, yank. Dan Aku akan mewujudkan itu semua, akan ku buat orang-orang yang membuatmu menderita selama ini membayar mahal semua tindakan mereka." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.