DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 46


__ADS_3

Berubah,semua benar-benar berubah. Termasuk perasaan Jenita, entah mengapa saat ini Jenita bahkan tak paham dengan apa yang terjadi pada perasaannya. Rasa simpati, respect bahkan saling menghargai pada dirinya seakan terkoyak oleh kenyataan.


Bohong jika dirinya tak kecewa dan sakit hati atas apa yang dialami oleh kedua orang tuanya. Rasanya tak adil menghukum mereka yang jelas jelas tak bersalah. Memperjuangkan apa yang menurut mereka benar dan berusaha mewujudkan semuanya.


Jenita bahkan menyesalkan pemikiran sempit yang berimbas pada kehidupannya saat ini. Sebagai seorang CEO yang harus selalu berhubungan dengan banyak orang, tentu Jenita memiliki kepekaan yang tinggi. Namun sebisa mungkin dirinya menjaga agar semua tetap berjalan baik. Karena itulah meski terkenal jutek dan keras, Jenita juga terkenal tak pandang bulu dan bisa bergaul dengan siapa saja.


Jenita terlihat tegas dalam hal pekerjaan. Namun dia bisa membedakan mana masalah dan tak akan mencampur adukkan semuanya. Namun hari ini, jiwanya serasa rapuh.


Membayangkan bagaimana perasaan sang ayah kala itu membuat air matanya kembali menetes. Dikucilkan, dihina dan juga menjadi tertuduh atas semua kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Sungguh Jenita tak sanggup membayangkan bagaimana menjadi Ikbar.


"Jangan menangis, sayang. Kamu harus kuat, demi mama." Alex memeluk wanitanya dari belakang.


Jenita bergeming, air matanya bahkan keluar tanpa permisi dan Jenita benci hal itu. Keluar dari trauma sudah sangat menguras hati dan jiwanya. Berusaha kuat dan tegar ternyata kenyataan kembali membuat hatinya rapuh.


Jenita membalik tubuhnya dan membalas pelukan hangat Alex, membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki yang beberapa waktu ini selalu ada dan memberi kenyamanan kepadanya. Rasa yang entah apa namanya namun Jenita sungguh sangat menghargai itu. Kehadiran Alex membuat semangatnya kembali timbul.


Diujung sana nampak Andrian menatap nanar ke duanya. Hatinya nyeri namun tersungging senyuman di bibir manis chef tampan tersebut. Tak pantas baginya untuk bersaing dengan Alex yang mempunyai banyak kelebihan dibanding dirinya. Alex tahu dan bahkan bisa menjadi apapun sesuai dengan apa yang Jenita butuhkan.


Saat dirinya akan melangkah menjauh tak sengaja tatapannya bertabrakan dengan Aldi yang diam namun tatapannya penuh selidik. Andrian mengedikkan bahu dan tertawa kecil seraya meneruskan langkahnya menjauh.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Hermawan masuk ke dalam toko dengan langkah tegasnya. Tak ada yang berubah dirinya masih sibuk mengawasi segala urusan di toko seperti biasanya.


Dua hari sudah Jenita tak datang ke toko bahkan ke ruko. Kehadiran Andrian menjadi penggantinya ketika adanya banyak pesanan bolu dan kue kering. Dira juga nampak seperti biasa, tak ada kegiatan berarti dari gadis manis tersebut.

__ADS_1


Lisda dan Angia masih bertugas seperti biasanya. Tak ada rencana khusus hari ini karena Alex belum memutuskan akan melakukan apa. Dirinya masih menunggu kesiapan Jenita dan Lidia sebagai toko utama dalam hal ini untuk mulai bertindak.


Kegiatan diruko juga masih sama. Melayani pesanan secara online paling diutamakan dan Marni bertanggungjawab penuh akan hal itu. Dalam 2 hari ini, Jenita benar-benar menghabiskan waktunya untuk berpikir dan berpikir. Banyak kemungkinan yang menjadi fokusnya.


Namun suasana tenang yang tercipta menjadi terusik ketika ponsel Alex bergetar. Lelaki tersebut segera mengangkatnya. Nama Anton dengan jelas terlihat disana bahkan Aldi segera mendekat.


"Ada apa?" Segera Aldi berujar ketika panggilan berakhir.


"Ada pergerakan yang mencurigakan di rumah tersebut. Anton bahkan melihat ada seorang dokter yang keluar dari dalam sana. Namun sampai sekarang belum terlihat keluar lagi. Dan mobil Hermawan terlihat masuk 30 menit kemudian." Alex berujar pelan.


"Rumah? rumah mana?" Lidia yang juga berada disana segera ikut angkat suara ketika mendengar nama Hermawan mereka sebut.


"Rumah di jalan XX nomer 8,Tan." Alex berujar namun sesaat dirinya terlonjak ketika melihat Lidia kaget dengan ucapannya.


"Apa rumah itu berlantai 2 dan terdapat tembok besar mengelilinginya." Alex mengangguk.


"Terdapat pohon palem di bagian taman depannya, juga ada patung putri mandi di taman bagian depan tepatnya di samping kolam ikan?" Alex menatap Aldi dan Rendi bergantian. Dia belum bisa masuk ke dalam karena rumah tersebut dijaga ketat.


"Kami belum tahu detailnya, tan. Orang-orang ku belum bisa menembus penjagaan disana hingga saat ini." Alex berkata jujur.


Air mata Lidia tiba-tiba meleleh tanpa bisa dicegah.


"Ma, kenapa? mama tahu itu rumah siapa?" Jenita mendekat dan mendekap mamanya. Wanita baya tersebut terseduh meski suara tangisnya tak kentara.


"Rumah itu, rumah yang papa beli untuk kita. Hadiah pernikahan yang papa siapkan untuk mama." Jawabnya ketika sudah bisa menguasai keadaan.

__ADS_1


Jawaban Lidia membuat syok semua yang ada disana termasuk Alex. Aldi bahkan berulang kali mengernyapkan matanya.


"Apakah rumah tersebut adalah rumah pribadi yang disebutkan dalam goresan om Ikbar." Alex berujar dengan degub jantung yang berdebar. Entah mengapa dirinya merasa ada sesuatu yang tersimpan disana. Namun dirinya tak tahu itu apa.


Dan anggukan kepala Lidia menambah panjang rasa penasaran yang bercokol di hatinya. Alex mengusap wajahnya kasar, rasa penasaran semakin membuat tekatnya bulat untuk segera mengakhiri semuanya. Ditatapnya kedua wajah wanita di hadapannya, keduanya saling memeluk dan menenangkan. Pemandangan tersebut membuat Alex mengepalkan tangannya.


Dengan kode kepala dirinya meminta Aldi dan juga Rendi untuk keluar. Dan disinikah mereka kini, ditaman samping dan sedang berbicara serius. Aldi dan Rendi nampak menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda bahwa mereka mengerti dengan apa yang Alex jelaskan.


"Aku akan bertanya pada Tante agar kita bisa menyusup tanpa adanya masalah. Setidaknya kita bisa memantau keadaan di dalam sana terlebih dahulu."


"Tante akan bantu. Apapun yang ingin kalian ketahui dari tante." Lidia berjalan mendekat ke arah 3 lelaki yang sedang duduk tersebut. Alex segera berdiri menghampiri Lidia dan Jenita yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Libatkan tante dalam misi kalian. Tante akan bantu sebisa mungkin. Tante hanya ingin hidup Jen berjalan dengan baik setelah ini. Tante akan melakukan apapun untuk itu. Libatkan tante!!" Lidia berujar dengan bara api yang terlihat dike dua matanya yang nampak teduh dan penuh luka.


Alex mengangguk dan membimbing Lidia untuk duduk. Sekilas menatap mata Jenita yang menunjukkan hal yang sama. Anggukan kepala Jenita membawa belaian lembut lengan Alex di puncak kepalanya. Dirinya tahu pasti bagaimana hancurnya hati wanitanya tersebut meski masih terlihat senyum di balik bibirnya yang nampak bergetar.


Jenita memeluk Alex erat, tak peduli dengan mereka yang juga berada disana. Hatinya bergejolak hebat dan hanya Alex yang bisa menenangkannya.


*


*


*


To be continue

__ADS_1


__ADS_2