DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 20


__ADS_3

Laporan yang mengatakan bahwa didalam rumah tersebut, berada dua orang wanita membuat semua bersiap untuk melakukan pengecekan. Sudah dipastikan hal ini tak akan berjalan baik mengingat adanya beberapa pengawal yang berjaga di rumah tersebut.


Sebuah mobil berwarna hitam baru saja meninggalkan rumah itu ketika Alex meminta salah satu dari orang-orang nya untuk mengikuti. Seperti sebuah panggilan, Alex merasa ada yang tak beres dengan mobil tersebut namun entah apa.


Waktu masih menunjukkan jam 8 malam ketika dirinya dan anak buahnya mulai bergerak. Rendi yang sedari tadi tak pernah jauh dari Alex selalu memantau situasi. Tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan kepada sang bos. Dia yang selalu bersama dengan Alex sedikit banyak merasakan perubahan pada diri lelaki yang sedang berdiri menatap ke arah rumah dimana diduga Jenita berada disana.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Tepat ketika jarum jam menunjuk angka 9,barulah mereka bergerak. Menurut pemantauan ada 8 orang dirumah tersebut termasuk seorang wanita.


Mereka bergerak serentak dan mengagetkan para lelaki tegap yang selama ini berjaga di sekitar rumah tersebut. Baku hantam tak dapat dielakkan. Belum adanya kepastian bahwa Jenita berada disana tak membuat niat Alex surut. Dia bahkan mengambil resiko dengan terjun sendiri. Alex dan Rendi terus berjalan memeriksa beberapa tempat meninggalkan anak buah mereka yang sedang baku hantam.


"Tuan," Rendi menunjuk sebuah kamar yang berada di ujung ruang. Dari laporan yang dia dapatkan, dalam ruangan tersebut setidaknya ada aktifitas.


Keduanya dikejutkan dengan munculnya seorang lelaki yang langsung melayangkan pukulan kepada mereka. Alex yang tak sempat menghindari terpaksa merelakan pelipisnya terkena tonjokan. Melihat hal tersebut membuat Rendi maju dan memberi cela bagi Alex untuk masuk ke dalam ruangan.


Butuh beberapa kali tendangan untuk membuka pintu yang menutup kamar tersebut. Seorang wanita baya bahkan meringkuk dengan tubuh menggigil. Alex terus melangkah, di amatinya semua sudut ruangan namun tak terlihat apapun disana.


Rasa kecewa menderanya kini. Harapan tinggi tentang ditemukannya gadis yang selalu hadir dalam benaknya seperti hilang. Alex mengusap wajahnya kasar.


"Selain dirimu apa ada orang lain disini?" Alex mendekati wanita baya yang menggigil di samping tempat tidur.


"Ti.. tidak tuan." Lirihnya. Alex membuang nafas kasar. Dia berdiri dan beranjak dari tempatnya. Namun hatinya kembali bergejolak dan rasanya kakinya tak ingin melangkah, seolah ada beban berat yang masih tersisa.


"Tuan." Rendi masuk dengan keadaan yang tak terlihat begitu baik. Lebam diwajahnya menunjukkan jika pemuda itu telah melakukan perkelahian yang tak muda. Celengan kepala Alex membuatnya ikut bersedih.


"Kita pergi!! mungkin Jenita memang tak berada disini." Lirih Alex seraya melangkah keluar ruangan yang ternyata sebuah kamar tersebut.


Langkah kakinya terhenti di ambang pintu, entah mengapa pandangannya tertuju pada sebuah lemari besar yang berada di pojok kamar. Pintu lemari yang sedikit terlihat cela membuat Alex melangkah perlahan mendekatinya. Bahkan Alex sempat melirik wanita baya yang badannya semakin menggigil di sana.


Dengan segera Alex membuka lemari dan bertapa terkejutnya dirinya ketika melihat sesosok tubuh tergolek dengan kaki, tangan terikat serta mulut yang di sumpal kain.

__ADS_1


"Jen" Pekiknya seraya merengkuh tubuh yang lemas tersebut.


Sebuah tendangan membuat nya yang sedang merengkuh tubuh Jenita tumbang. Rendi bahkan sudah tergeletak di depan pintu kamar. Alex berdiri dan menatap sengit lelaki muda yang tadi sempat berkelahi dengan Rendi ketika menghalanginya masuk ke dalam kamar.


Perkelahian tak terelakkan. Alex yang sudah dikuasai oleh amarah tak lagi bersikap lunak. Tak peduli ketika lengan nya telah terkoyak oleh serpihan kaca. Lelaki itu membabi buta hingga rintihan pelan Jenita membuatnya menghentikan pukulannya ke pada lelaki didepannya yang sudah mengeluarkan banyak darah diri hidung dan mulutnya.


Bahkan wanita baya yang sejak tadi menyaksikan perkelahian tersebut sudah tak sadarkan diri. Alex melangkah panjang dan segera merengkuh tubuh Jenita. Dibukanya ikatan tangan dan kaki nya.


"Jen, sadarlah. Tenanglah kamu aman sekarang." Ucapnya seraya memeluk tubuh yang terkolek lemah tersebut. Beberapa saat kemudian terdengar beberapa orang masuk ke dalam. Anak buah Rendi telah berhasil membereskan para penjaga yang menghadang mereka.


"Tuan, maaf kami terlambat." Ucap salah satu anak buahnya dengan banyak lebam di wajahnya.


"Amankan mereka dan kita pergi dari sini. Usahakan bergerak dengan cepat, dimana Rendi?"


"Rendi roboh dan belum sadarkan diri tuan. Kami sudah membawanya."


Alex membopong tubuh lemah Jenita dan melangkah keluar. Disaat melewati sosok lelaki yang dihajarnya tadi Alex berhenti sejenak.


🍃🍃🍃🍃🍃


"Tuan, apa tak sebaiknya kita ke rumah sakit terdekat? luka anda harus diobati."


"Tidak, mereka pasti akan mengejar dan sebaiknya kita segera pergi menjauh." Tegasnya.


*


*


*


Andrian bergegas keluar dengan mengendarai mobilnya ketika mendapat pesan dari Alex. Tak lantas menuju ke alamat yang diberikan namun Andrian sengaja berbelok ke sebuah rumah makan dan memesan makanan.

__ADS_1


Diliriknya sebuah sepeda motor yang sejak tadi mengikutinya.


"Alex benar" Ucapnya dalam hati.


Tak ingin gegabah pada akhirnya Andrian melahap makanannya. Segera memutar kembali mobilnya setelah dirasa cukup walau makanan yang dipesannya hanya dimakan sedikit.


Andrian melajukan mobilnya ke arah kota, namun dipersimpangan Dibelokkannya mobil dan masuk kedalam sebuah gang. Disana dirinya berhenti hingga menyaksikan motor yang mengikutinya melintas. Andrian melajukan mobilnya ke sebuah swalayan, setelah memarkirkan mobilnya segera Andrian menaiki ojek yang terdapat di sana dan pergi menuju tempat dimana Alex menunggunya.


Sebuah rumah sakit yang jauh berada di kota D. Alex tek sedikitpun meninggalkan ruangan dimana Jenita tengah dirawat. Bahkan ketika dokter memintanya untuk istirahat pun tak dia hiraukan.


"Tuan."


"Bagaimana yang lain?"


"Semuanya baik baik saja, tuan. Rendi juga sudah siuman namun masih butuh perawatan."


Alex mengangguk, Rendi yang mendapat hantaman di kepalanya sempat mengalami pendarahan karena kepala nya robek, beruntung lukanya tak berakibat fatal.


Sebuah rumah sakit kecil di kota D. Dimana Alex meminta pelayanan untuk semua anak buahnya yang terluka. Pada awalnya rumah sakit menolak namun Alex berbicara tegas dan menunjukkan kekuasaannya. Namun dia meminta pihak rumah sakit untuk merahasiakan keberadaan mereka sementara waktu.


Obat tidur yang dikonsumsinya membuat Jenita lemah dan hanya mampu tertidur. Setidaknya itu yang dokter katakan kepada Alex tentang keadaan Jenita kini.


Subuh menjelang ketika Andrian sampai ke tempat yang di berikan Alex. Perjalanan jauh yang ditempuhnya hanya dengan mengendarai ojek membuat Andrian harus bernafas lega sekarang.


"Bapak istirahat dulu disini." Ucapnya kepada tukang ojek yang mengantarkannya. Diberikannya beberapa lembar uang yang membuat tukang ojek tersebut menatap nya.


"Ini terlalu banyak, Den." Ucapnya seraya mengembalikan uang Andrian dan hanya mengambil dua lembar saja.


"Buat bapak, terimakasih bapak telah mengantarkan saya kesini." Andrian tersenyum ramah. Wajah letihnya tak mampu menyembunyikan senyumnya ketika melihat lelaki baya dihadapannya berkaca kaca.


Seorang anak buah Alex mendekat, Andrian yang mengetahui hal itu mengangguk. Setelah berbicara sebentar dan memberikan kartu nama serta meminta nomer telpon sang bapak ojek. Andrian melangkahkan kakinya mengikuti anak buah Alex yang berjalan di depannya.

__ADS_1


__ADS_2