
Anto menundukkan wajahnya. Dirinya tengah berdiri diantara beberapa pengawal yang juga tengah berjaga. Ada 2 orang yang dia kenali sebagai tim nya. Mereka harus berpura-pura dan fokus dengan apa yang akan terjadi.
Timbul banyak pertanyaan di benak Anto dan mungkin juga rekannya. Mereka dikumpulkan dalam 1 ruangan yang berada di sebelah ruang kerja tempat dimana Anto melihat Hermawan masuk beberapa saat yang lalu.
"Mulai hari ini perketat penjagaan. Entah karena apa, yang jelas tuan besar memerintahkan kita untuk selalu siap siaga. Kalian mengerti?" Salah seorang yang dianggap sebagai pimpinan kelompok penjaga tersebut.
Semua menganggukkan kepala sebelum kembali membubarkan diri. Berdiri di bagian tugas masing-masing. Anto melirik dua orang timnya yang berjalan menjauh ke arah tangga.
Anto kembali mengamati kode yang terlihat di jam tangannya. Dia menekan tombol beberapa kali guna memberikan informasi.
Sementara diruang rahasia, Rendi mengamati dengan seksama kode kode yang dikirimkan Anto sebelum dirinya memulai aksinya.
"Bagaimana ini, tim yang berada di dalam mengatakan kalau penjagaan diperketat entah karena apa." Rendi mengusap wajahnya kasar.
"Kita hubungi tuan untuk mencari solusi yang tepat bagaimana?" Rendi menoleh kearah rekannya. Awalnya dia tak ingin merepotkan Alex dengan hal hal kecil. Namun sepertinya sekarang tak ada pilihan lain. Lagipula dia belum melapor jika sudah berhasil masuk ke dalam ruang rahasia yang terhubung dengan lantai 2.
Rendi memencet beberapa kode yang langsung terhubung dengan Alex. Sandi sandi morse masih tetap mereka pakai dan itu sangat efektif meski memerlukan kejelihan. Sambil menunggu instruksi Alex keduanya kembali mengendap masuk lebih dalam ke ruangan yang ternyata memiliki sekat didalamnya.
Samar lagi terdengar seperti orang yang sedang berbicara. Namun sayang,ruangan yang Rendi tempati tak mampu mendengarkan apapun dari sana. Keduanya hanya saling pandang dan mengedikkan bahu sambil melengos pada akhirnya.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Alex kembali tersenyum meski samar. Sedikit lagi semuanya akan kembali baik baik saja. Dia yang menerima sinyal kode yang diberikan Rendi segera membalasnya. Namun sebelum itu tentu saja dirinya meminta Aldi melakukan sesuatu.
Jenita yang baru pulang dari toko nampak melangkahkan kakinya dengan senyum yang mereka. Ditangannya ada dua buah kantong yang seperti ada isinya. Melihat berapa antusias nya gadis itu menentengnya masuk ke dalam rumah.
"Ada apa? kamu terlihat bahagia sekali yank." Alex berdiri dari duduknya untuk menyongsong kedatangan Jenita.
"Tidak ada, aku hanya merasa bahagia saja hari ini. Mama mau mengunjungi ku di toko. Itu artinya mama tak lagi mengurung dirinya seperti dulu. Kemajuan bukan?" Kembali senyumnya mengembang.
Alex menggelengkan kepalanya gemas. Hanya dengan melihat sang mama keluar rumah, wanitanya sudah sangat bahagia. Diusap nya kepala Jenita lembut sebelum gadis itu berlalu ke arah dapur dan meminta bibi untuk menaruh berbagai camilan yang dibelinya tadi dijalan pulang kepada para pengawal yang masih setia berjaga di sana.
Aldi menoleh sesaat pada Alex yang hanya mendapat anggukan pertanda jika lelaki tersebut paham maksud Aldi. Keduanya masih merahasiakan tentang pergerakan mereka di rumah mewah peninggalan keluarganya itu.
"Lex, aku pengen jalan jalan. Boleh ya?" Alex menatap Jenita sejenak.
"Bersamaku, ya yank." Putusnya dengan suara rendah yang Jenita tahu bahwa lelaki posesif tersebut tak ingin dibantah jika memang dirinya berniat keluar rumah. Anggukkan kecil dari kepalanya membuat Alex tersenyum tipis. Dia tahu gadisnya sedikit terpaksa melakukannya namun tak ada pilihan lain.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Rendi menoleh kearah rekannya yang mengangguk. Mereka bergerak serempak namun dengan kewaspadaan yang tinggi. Rendi tetap berada di depan, dia yang bertanggungjawab atas misi yang diembannya. Meski mereka tak tahu apa yang tersembunyi dibalik ruangan.
Suasana sunyi dan bau pengap tercium jelas di hidung mereka. Meski masker tetap terpasang, namun baunya masih jelas. Sirkulasi udara yang memang nyaris tak ada membuat bau tersebut terasa semakin pekat.
__ADS_1
Rendi terus berjalan menuju cahaya yang nampak semakin dekat. Cahaya yang lumayan terang. Tak ingin gegabah, Rendi memilih mengintip dan mengamati suasana di sana terlebih dahulu.
Matanya sedikit terbelalak melihat ada sesosok tubuh dengan kaki dan tangan terikat. Bahkan ada tali rantai yang mengikat kedua kakinya. Wajahnya tertunduk dengan rambut yang sudah memanjang. Terdapat semburat putih dari disana, menandakan bahwa orang tersebut bukanlah lelaki muda seperti dirinya.
Sedikit mengernyitkan dahi, keduanya kembali saling pandang bingung harus bagaimana. Orang tersebut masih menunduk, berjenis kelamin laki-laki dengan badan yang sangat kurus dan memprihatinkan. Terdapat banyak bekas luka ditubuhnya, membuat kedua orang yang sedari tadi memperhatikannya bergidik.
Kletek.
Bunyi pintu terbuka membuat Rendi dan rekannya segera bersembunyi kembali. Mereka memasang telinga baik baik guna mendapatkan info yang mungkin memang mereka cari.
"Dia nampak masih cantik. Bahkan lebih cantik saat ini. Kau tahu, kau selalu saja beruntung bisa mendapatkan segala apa yang kau inginkan. Sedang aku?"
Rendi mempertajam pendengarannya. Dia juga dengan cepat menghidupkan kembali alat perekam yang dibawanya. Tak kalah tangkas, rekan Rendi melemparkan dengan pelan alat perekam nya yang berbentuk seperti peniti kecil. Keduanya kembali terdiam.
"Harusnya aku yang memiliki semuanya. Memilikinya dan dia melahirkan putri yang cantik untukku. Ahh iya, aku sampai lupa mengatakan kalau gadis itu sangat cantik dan aku bisa memanfaatkannya nanti. Anggap saja dia sebagai pengganti ibunya. Hahahahaa."
Hening, tak ada suara apapun disana. Rendi mencoba mengintip dari cela dibalik tembok.
*
*
__ADS_1
*