DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 32


__ADS_3

Mobil hitam yang dikemudian sendiri oleh Alex perlahan masuk ke halaman sebuah rumah. Tak ada yang menarik dari rumah tersebut karena semuanya masih terlihat wajar seperti rumah rumah pada umumnya.


"Ayo." Uluran tangan Alex membuat Jenita menoleh.


"Rumah siapa?" Tanyanya namun lagi dan lagi Alex hanya menjawabnya dengan senyuman di bibirnya.


Mereka masuk dan langsung membuka pintu. Jenita masih terdiam namun genggaman tangannya pada Alex terasa semakin erat.


"Kamu takut?" Lelaki itu tersenyum lembut seraya membelai rambut Jenita yang berada disampingnya dengan sebelah tangannya yang bebas.


"Ini rumah siapa?"


"Kamu mengenal mereka. Jangan takut, bukankah ada aku disini?" Jenita mengangguk namun genggamannya masih terasa erat.


Alex menghela nafas berat. Benar yang dokter katakan, Jenita hanya berpura-pura baik baik saja. Trauma yang dialaminya belumlah sembuh secara sempurna. Dan juga, Alex kembali teringat ketika Andrian memberitahunya tentang reaksi Jenita ketika membaca pesan yang ditulis oleh Angia waktu itu.


"Percaya padaku. Semua akan baik baik saja, kamu bisa dan pasti bisa." Pelukan hangat dan kecupan lembut dirasakan oleh Jenita di puncak kepalanya.


Benar, dia masih sering merasakan ketakutan yang berlebihan. Apalagi ketika merasakan bahwa dirinya sedang sendirian. Rasa takut dan tertekan itu akan datang dengan sendirinya.


*


*


*


Di halaman belakang rumah tersebut. Nampak beberapa orang tengah berkumpul. Mereka menunggu kedatangan Alex yang memang telah memberitahukan prihal kedatangannya. Begitu pintu menuju taman terbuka, mereka menoleh secara bersamaan.


"Non." Pekik seorang wanita paruh baya yang segera berdiri. Namun langkahnya terhenti ketika melihat tatapan mata Alex yang tajam.

__ADS_1


"Bibik, Su?" Jenita bergumam seraya mendongak, manatap Alex seolah tengah mencari jawaban.


"Hemm, kamu mengingatnya?" Jenita mengangguk.


Jenita jelas mengingatnya, bik Su adalah wanita yang di bawah Anto saat penyekapan dirinya. Mulai dari gudang hingga menempati rumah kosong tempat terakhir dirinya di sekap hingga di selamat kan oleh Alex dan orang orangnya.


"Dia bibik, Su. Tap.. tapi kenapa dia ada disini?" Genggaman tangannya semakin erat. Bahkan kini butiran peluh sudah mulai terlihat di dahinya.


"Tenanglah.Ayo duduk nanti aku ceritakan semuanya." Alex memapah tubuh Jenita yang sedikit melemas hingga sampai ke sebuah sofa.


"Duduklah bu. Lainnya boleh menunggu diluar, sebentar lagi Rendi akan datang bersama Anto. Kita makan bersama setelahnya." Ucap Alex dengan tenang namun tidak dengan Jenita.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Motor itu terhenti tak jauh dari pos bensin. Dia bukan ingin membeli bensin atau apapun itu, percayalah dalam dua hari ini dirinya mendapatkan tugas yang sedikit berat. Bagaimana tidak, mengikuti mobil yang setiap waktu akan berputar dan berpindah arah tujuannya namun pada akhirnya akan sampai ke sebuah rumah yang sama. Beruntung nya dia tak sendiri. Pengaturan yang dibuat Alex mungkin sedikit rumit namun pada akhirnya mereka mengerti alasan di balik semua itu.


Sebuah rumah besar yang tak kalah besar dari milik eyang Sulastri berada tak jauh dari rumah eyang. Namun akses menuju rumah tersebut melalui banyak jalan. Entah itu sengaja atau tidak, namun biarpun berputar dengan arah yang sedikit jauh maka akan kembali ke arah rumah tersebut.


Sudah selama seminggu lebih mereka mengikuti mobil yang terlihat di tempat penyekapan Jenita waktu itu. Dan mobil tersebut akan berakhir ke dalam rumah mewah yang berdiri kokoh di sana.


*


*


Rendi melangkah masuk bersama dengan seorang pemuda yang tadi disebutkan oleh Alex. Pemuda yang bernama Anto tersebut mempunyai badan tegap dengan wajah yang rupawan dengan mata yang sedikit menyipit dan rambut yang dibiarkan panjang. Tato naga nampak menghiasi lengannya.


Jenita kembali berjengkit karena mengenali sosok tersebut. Namun dirinya sudah lebih bisa menguasai dirinya dan bersikap tenang namun tangannya masih menggenggam erat jemari Alex.


"Mereka orang-orang ku. Jangan khawatir." Alex berbisik lembut.

__ADS_1


Bagaimana bisa mereka menjadi anak buah Alex? sementara waktu itu, Anto adalah orang yang setiap hari memberinya makan bahkan dia lah yang menyuapinya sebelum wanita yang dipanggil bik Sum itu bergabung disana.


Namun Jenita tak ingin berkomentar lebih dulu. Dia tahu, Alex tak akan melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya.


"Tuan." Rendi sedikit membungkukkan badannya begitu juga Anto.


"Bagaimana?"


"Sudah semakin jelas, hanya saja kita masih belum bisa masuk ke dalam untuk dapat lebih memastikan semuanya. Sementara ini kami hanya bisa memantau dari luar." Anto lah yang menjawab pertanyaan Alex.


Keduanya duduk dihadapan Alex dan Jenita. Bik Sum datang dengan membawa nampan berisi jus jeruk untuk mereka semua.


"Non maaf, maafkan bibi ya." Sejak tadi wanita itu menahan dirinya untuk bersuara. Dia tahu gadis dihadapannya masih syok melihat keberadaannya di rumah itu.


"Duduklah bik." Adalah Alex yang bersuara.


"Aku yang meminta Rendi untuk membawa mereka ke sini. Aku tahu banyak pertanyaan yang ingin kamu tanyakan. Akan ku jelaskan secara perlahan." Alex menarik nafasnya pelan, ditatapnya lembut gadis yang masih terdiam disisinya itu sebelum memulai berbicara.


"Saat aku memukul nya, kamu masih ingat?" Alex menunjuk pada Anto yang duduk tepat dihadapannya.


Jenita mengangguk, dia sadar waktu itu dan sempat meminta Alex untuk berhenti memukul Anto. Dengan suara lemah bahkan Jenita meminta Alex untuk melepaskan Anto dan juga bik Sum. Kedua orang itulah yang memperlakukan Jenita dengan baik selama dalam penyekapan.


"Aku meminta orang orang ku untuk membawa dia dan bik Sum ke rumah sakit. Rumah sakit yang sama, tempat Rendi dan yang lainnya sedang menjalani perawatan. Saat aku memutuskan membawamu kembali ke kota S. Aku meminta Andrian untuk mengawasi mereka. Namun aku terlebih dulu membawa bik Sum ke mari. Singkatnya, Anto dan bik Sum adalah orang yang diperalat oleh orang lain untuk mencelakaimu."


"Maaf nona. Saya yang telah menculik nona waktu itu. Namun saya terpaksa karena sedang membutuhkan uang untuk perawatan ayah saya. Saya tak ada jalan lain, demi mendapatkan uang tersebut sehingga melakukan hal jahat pada nona." Anto menundukkan kepalanya.


"Namun tetap saja, ayah saya tak bisa diselamatkan meski uang sudah saya dapatkan. Ayah saya meninggal dua hari setelah saya menculik anda. Ayah saya menolak untuk meminum obat bahkan menolak tindakan oprasi. Ayah bahkan tak sudi menerima makanan yang saya bawa karena beranggapan bahwa semua itu saya dapatkan dengan cara kotor. Ayah sempat mendengar ketika orang suruhan yang menemui saya untuk menyerahkan uang. Pada saat itu ayah pura-pura tertidur sehingga beliau tahu akan perbuatan saya. Beliau memilih mati dari pada menggunakan uang tersebut." Anto kembali terdiam. Permuda tersebut nampak berulang kali menarik nafasnya dalam.


"Setelah kepergian ayah, saya membawa nona pergi dari gudang dan memindahkan nona ke rumah kosong. Rumah tersebut adalah rumah saya, rumah dimana saya dan ayah tinggal sebelum ayah menderita sakit. Saya bertekat untuk menebus semua kesalahan yang saya lakukan. Namun saya tak bisa melepaskan nona begitu saja. Karena saya tahu, orang-orang itu masih mengincar nona. Saya bersama teman-teman menyembunyikan nona selama kami bisa sambil mencari jalan keluar yang terbaik. Namun kami gagal, keberadaan kami diketahui oleh mereka. Saya terpaksa menyembunyikan nona didalam lemari demi untuk mengelabuhi mereka. Namun tuan Alex datang sebelum saya mengeluarkan anda dari sana. Maaf nona." Anto menahan sesak didadanya.

__ADS_1


__ADS_2